Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog


Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.

“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.
Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku ..

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu .” sapaku.
“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”
“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu “
“Benar dok”
“Badannya panas ?”
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
“Agak anget kayanya”
Kayanya radang tenggorokan.
“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”
“Iya Dok”
“Udah berapa kali dari pagi”
“Hmmm . dua kali”
“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”
“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”
“Buah2 an ?”
“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”
“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu”
“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.

Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.

“Cukup Bu .”
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .

“Radang tenggorokan dan disentri”
“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”
“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.
“Khawatir apa Bu “
“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”
“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau pulang.
“Benar Dok”
“Ibu merasakan keluhan apa ?”
“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”
“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.
“Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku.
“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”
“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”
“Terima kasih Dok”
“Sama-sama Bu, selamat sore”
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.

Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu . udah baikan”
“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”
“Perutnya ?”
“Udah enak”
“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”
“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”
“Udah diperiksa belum ..?”
“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.
“Cuman apa .”
“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”
“Memang terasa ada, gitu “
“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.
“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.
“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.
“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.
“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !
Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”
Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.
“Dada kanan Bu ya .”
“Benar Dok”
Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..
“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.
Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu ?”
“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”
Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa-apa lah ..
Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan sendiri cup-nya …
Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !
Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..
Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang !
Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.

“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.
“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .
“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”
“Syukurlah”
“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …
“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.
“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.
“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.
“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol
“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.
“Apalagi .”
“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !
“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.
Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.
Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.
Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.
“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”
“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?
Gila !
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .
Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku
“Ih kerasnya ..”
“Engga bisa dong Bu ..’
“Dokter udah siap gitu .”
“Iya .. memang .. Tapi masa .”
“Please dokter .. Cumbulah saya .”
Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?
“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .
“Saya udah engga tahan .”
“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.
“Okey ..okey . Bener ya Dok”
“Bener Bu”
“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”
“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.
“Ehhhhfff”
Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.
“habis Dok”
Dia langsung berberes. Rapi kembali.
“Dokter belum mau pulang ?”
“Belum. Silakan duluan”
“Baiklah, kita duluan ya”
Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.
Syeni masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.
Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.
“Dok …”
“Ya .Syeni .”
Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..
Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..
Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.
Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..
Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …
Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh .. Maaassss ..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !
Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.
“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.
Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.
Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Syeni
Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.

Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !
Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.
“Kapan melepasnya ?”
“Tadi, sebelum turun .”
Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.
Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..
“Maass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.
“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.
Aku menekan lagi.
“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas ..”
“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.
Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..
Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau?
Siapa yang kamu setubuhi ini?
Pasienmu dan isteri orang!
Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.
Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.
Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt………..Kesempr otkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut ….
Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.
Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …
Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.
Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.
“Siapa Syen” tanyaku.
“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.
“Curiga ya dia”
“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.
“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.
“Suamimu tahu kamu ke sini”
“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.
“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Syeni puas”
“Ah masa .. “
“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”
“Ah . engga usah basa basi”
“Bener Mas .. Malah Syeni mau lagi .”
“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”
“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”
“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”
“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.
“Oh ya ..?”
“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.
“Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi … Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”
“Habis . kamu sexy banget sih …”
“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”
“Entar ajalah . mau mandi dulu .”
Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.
“Syeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .”
“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.
“Eh .. Bangun lagi ya ..” Syeni ternyata menyadarinya.
Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.
“Mas mau lagi .?”
“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”
“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.
“Udah malam Syen, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..
Penisku langsung menerobos vaginanya ..
Syeni bergoyang bagai naik kuda .
Sekali lagi kami bersetubuh .
Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …
Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.
“Ngaco . suamimu .?”
“Kalo dia sedang engga ada dong ..”
Baiklah, kutunggu undanganmu.
Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy..:

Gairah Panas Pasienku



Aku Dina. waktu kakakku nikah tentu aja aku harus ngebantuin, aku menjadi salah satu dari tim penerima tamu. Aku ngajak temenku untuk bantuin sebagai penerima tamu, dua lagi temen kakakku. Sebenarnya bukan kakak kandung tapi anak dari tanteku dan aku numpang dirumah tanteku. Pestanya meriah juga, tamu lumayan banyak sehingga kami tim penerima tamu sampe gak sempet makan karena harus melayani tamu yang mengalir kaya banjir yang mudah2an gak mampir di ibukota lagi. Setelah tamu mereda, dan sudah menjelang berakhirnya resepsi, barulah kami secara bergantian ngambil makanan dan minuman, dan kebagian cuma makanan di meja prasmanan karena makanan di saung yang biasanya enak2 dah abis ludes sampe sambel2nya. ya gak apa, yang penting masi ada yang dimakan lah.

Ketika ngambil makanan itu aku amprokan ma mertua kakakku. Si om ganteng banget deh malem itu dalam jasnya, gak kalah ma anaknya yang jadi penganten. Dia senyum2 ketia melihat aku. "Kamu siapa ya, kok bisa bantuin jadi penerima tamu". "Dina om, adiknya mempelai prempuan".
"Masak kamu adiknya mantunya om, rupanya beda banget". "Kakak anaknya tantenya Dina om". "O pantes aja, tapi kamu cantik banget deh, mana sexy lagi, gak kalah ma mantu om". "Masak si sexy om, Dina sembari makan ya om". "Yuk duduk masak makan sembari berdiri", katanya sambil menggiring paksa aku menuju sederetan kursi yang dah mulai kosong karena sebagian tamu dah pamitan pulang. "Dina mesti ke meja penerima tamu om". "Gak da tamu lagi lah, nanti om suru temen2 kamu makan semuanya deh, kamu duduk disini aja ya, nti om balik lagi". Si om ngeluyur kedepan dan tak lama semua temen2ku di meja penerima tamu dah bergabung dengan yang laen, temenku gabung ma aku setelah ngambil makanan. Si om duduk lagi disebelah aku. "Iya Din, kamu sexy banget". Memang si seragam penerima tamu dibuat pas badan dan mini lagi, mana bagian dadanya cukup terbuka sehingga belahan toketku ngintip juga biar toketku gak besar2 amat juga. Temenku cuma senyum2 aja mendengar si om ngegombalin aku. MC memanggil si om naik lagi ke panggung karena moa da acara foto2an. "Nti ngobrol lagi ya Din", katanya sambil beranjak ke panggung. "Wah si om laper banget matanya tu ngeliatin kamu Din, kaya dah lama gak liat prempuan". "Masak si". "Iya, pasti dia lagi omes tu ke kamu, pengen ngegiring kamu ke ranjang". "Masak si". "percaya deh ma aku, dari sorot matanya dah kliatan banget kalo dia napsu banget ngeliatin kamu, palagi si om duda kan". (Memang temenku tu dah pengalaman urusan ma om2, dia sering diajak cek in ma om2, dia suka crita ma aku, jadi aku lama2 pengen juga nyobain kaya apa si rasanya maen ma om2. "Kalo aku si lebi nikmat maen ma om2 katimbang ma cowok aku", kata temenku. "Kenapa?" tanyaku. "Aku gak bisa jelasin detil tapi aku lebi puas kalo dah maen ma om2". "Gitu ya").

"Kamu kan pengen maen ma om2, dah ajakin ja tu mertua kakak kamu hihi". "Hus, ngawur". "Kapan lagi, kamu suka kan ngeliat tu om, ganteng gitu, gantengan juga dia katimbang cowok kamu". "iya sih". Aku beranjak mencari desert, kebetulan masi ada buah, yang laen udah licin tandas. Ketika ngambil buah, si om nyamperin aku lagi, "Besok kamu ada acara gak, kerumah om yuk, jadi bisa ngobrol lebih lama, om pengen kenal aja lebi dalem ma adik mantu om". "Sedalem apa om, sumur? Rumah om mangnya dimana". Dia tertawa sambil menyebutkan alamatnya, didaerah perumahan elit rupanya, wah tajir banget kayanya mertua kakakku ini, untung banget kakakku dapet mertua kaya, pasti anaknya juga bergelimang harta juga, gak usah repot mikirin duit datengnya dari mana, pasti duitnya gak da nomer serinya tu. Lagian suami kakakku mengelola perusahaan bapaknya yang sudah mapan. "Kalo mo renang juga bisa dirumah". "Dina gak punya baju renang om". "Ya gak usah pake baju renangnya, gitu ja kok repot". Wah candanya mulai menjurus tu, kayanya bener tu kata temenku kalo si om napsu ngeliat aku. "Ya udah, besok pagi om tunggu ya, antara jam 9 jam 10 ya". Wah maksa banget, tapi ya acara dah bener2 selesai jadi pihak keluarga pun beranjak pulang juga, aku ikut tante dan om ku pulang.

Esoknya aku ragu, mo kerumah si om pa enggak, yang pasti aku gak bakal amprokan ma kakakku dan suaminya karena mereka pasti lagi asik di hotel. gak tau deh seblon nikah kakakku dah maen blon ma cowoknya (ketika itu kan masi cowoknya blon jadi suaminya). Hp ku bunyi, ada sms, ternyata dari si om, nanyain aku jadi dateng gak. Hebat juga move si om sampe dapet no hp ku tanpa aku ngasi ke dia. Effort banget ya dia buat ngedeketin aku. Ya dah kuputuskan untuk kerumah si om aja deh, aku kan juga gak da kerjaan dirumah. Rada jauh si kerumah si om, si om pesen naik taksi aja, ntar ongkosnya dibayarin. Aku jalan agak jauh juga untuk nyari taksi, ketemu langsung aja taksi kuarahkan ke rumah si om, alamat si om ku kasi ja ke sopirnya, tu sopir dah paham jalan kesana jadi aku gak usah nunjuk2in, lagian aku juga gak tau pasti lokasinya dimana. Aku si bawa bikini, cowokku beliin aku bikini, gak perna dipake berenang tapi kalo mo maen aku disuru pake tu bikini biar doi tambah napsu seblon ngegelutin aku. Wah rumahnya kaya istana, gede banget. Aku sms si om kalo aku dah didepan rumahnya, si om segera keluar bukain aku pintu dan bayarin taksinya. Aku diajaknya masuk. di ruang keluarganya diterasnya ada pool yang tertutup sehingga gak nampak dari luar, lagian ruang keluarganya sebenernya ada di lantai satu, jadi jauh lebi tinggi dari jalan. lantai dasarnya buat garasi super gede, 6 mobil juga masuk kali. Asri banget penataan poolnya, banyak taneman sehingga rimbun sekali, dibawah pepohonan ada beberapa dipan dengan matrasnya. Si om ngajak aku ngadem di pinggir pool aja, dia dah nyiapin snack, buah macem2 buat temen ngobrol dan minuman dingin tentunya.

"Kok sepi om". "Pembantu hari ini gak disuru dateng". "Kok". "Kan mo ada kamu, ntar ganggu lagi, lagian memang pembantu datengnya 2 hari sekali, dan hari ini memang gak jadwalnya pembantu dateng. Dah sarapan Din". "Udah om, minum cereal aja". "Wah pantes kamu langsing gitu. Mo renang gak, bawa baju renang kan". "Kan Dina dah bilang gak ada baju renang, adanya bikini", jawabku sambil tertawa. "Wah seksi banget tu kamu kalo pake bikini, tukeran deh pake bikini di ruang bilas". Di penghujung pool ada ruang bilas. Aku segera ke ruang bilas dan memakai bikiniku. Sebagai seorang cewek, aku cukup beruntung punya wajah yang eksotis, kulit mulus kecoklatan, rambutku pendek seuai dengan bentuk mukaku, sepasang toket yang kecil tapi ranum dan keras, body yang padat berisi yang bikin mata si om tidak berkedip. "Wah Din, ruar binasa seksinya kamu". Aku biasa aja menyikapinya, aku duduk di dipan sebelah dipannya.

Si om sebetulnya sudah tidak muda lagi. Usianya sekitar akhir empat puluhan, anak2nya ikut mantan istrinya ketika mereka bercerai. Meskipun begitu wajahnya masih kelihatan cukup ganteng, dengan rambut lurus dan kulit putih agak kemerah2an pertanda ia sering berada di bawah terik sinar matahari, membuat ia makin tampak jantan. Badannya gagah dan tegap dengan perut yang ada 6packs nya. Dimasa mudanya pastilah si om adalah seorang yang ganteng dan banyak digandrungi oleh cewek2. Ia pasti sudah berpengalaman dan sangat tahu bagaimana memuaskan perempuan. Saat itu si om cuma memakai celana gombrong aja, t shirtnya dah dilepas. Suka banget aku ngeliatnya, pengen dipeluk deh jadinya liat lelaki ganteng perkasa kaya si om. "Kamu masi skola Din". "Masi om, baru klas 10". "Wah abg banget kamu ya, tapi dah sexy kaya gini". "Om ni muji mulu deh". "Bukan muji sayang, kenyataan". "Wah sayang2an ni ye". "Gak mau disayang2 ma om". Aku cuma senyum aja. "Om Dina mo brenang ya". "Yu bareng". Segera aku nyebur ke kolam, si om juga. aku renang pelan2 mondar2 mandir dari satu sisi ke sisi laen pada bagian panjangnya.

Setelah itu aku naek lagi, si om ikutan. Dia nyodorin anduk buat aku ngelap rambut dan badanku. Si om gak kedip memandang bodinya, sepintas aku ngelirik ke selangkangannya, celana gombrongnya nempel ke badannya karena basah, keliatan amat ngegelembung, kayanya "adeknya" dah bereaksi tu mandangin aku terus. Bikiniku hanya menutup tubuhku seadanya. CD bikini yg kupakai tidak kuasa menutup mem ekku sepenuhnya hingga beberapa lembar bulu jembutku pada nongol di sela-sela cd bikiniku. Aku memang punya bulu jembut yang lumayan lebat. "Din, jembut kamu lebat ya, sampe ngintip keluar cd bikini kamu". Aku senyum sambil menjawab, "om suka kan ngeliatnya", pancingku. "Suka banget Din". "Napa om". "Cewek yang jembutnya lebat napsunya gede, gak puas kalo maennya cuma seronde, ya gak. Kamu kalo maen ma cowok kamu pasti lebi dari seronde kan". "Tau aja si om", jawabku. "Nikmat gak Din maen ma cowok kamu". "Ya nikmatlah om, kalo gak nikmat ngapain juga dilakuin kan". "Wah cerdas juga tu jawabannya". "Na om ndiri dah gak da tante trus gimana?' "Gimana apanya". "Kelamaan gak dikluarin kan bisa jadi odol". "Jadi akik malah Din". Kami tertawa berderai, candaan kami dah ngarah ke vulgar. "Pasti nyarinya abg ya om, atau ma pembokat", kata ku sambil memandang penuh arti kepadanya. Tanpa sadar tanganku menggengam tangannya. "Ya iyalah, masak nyari yang seumuran om, ma pembokat om gak selera, dah gak legit lagi dong", jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku sementara tangannya meremas tanganku penuh nafsu.

Dia lalu memandangku, tiba2 dia menarikku ke dalam pelukannya dan melumat bibirku penuh nafsu. Aku pun membalasnya tidak kalah panasnya. Lidahkan kami saling bertautan. Tangannya meraba-raba dadaku mencari pentilku yang masi tertutup bra bikiniku, kemudian meremas-remasnya. Tubuhku mengeliat2 nikmat. kami pun dengan penuh nafsu membara saling berpelukan dan berciuman. Kembali bibirku di lumatnya. Kami saling bertukar ludah dan saling menghisap lidah. Dengan ganas, si om meremas toketku, kemudian dia mengurai ikatan bra bikiniku sehingga toketku menjadi lebi bebas untuk digarapnya. Dia menghisap pentil kananku sementara tangan kirinya meremas-remas toketku sebelah kiri. Tangan kanannya turun meraba-raba pahaku.

Aku pun tidak mau kalah. Tanganku meraba-raba selangkangannya. Kon tolnya sudah mulai mengeras dan membesar. Tanganku masuk ke balik celana gombrongnya, melewati ”hutan” jembutnya sebelum tanganku menemukan kon tol dan biji pelernya yang besar2. Tanganku mengelus2 kon tolnya membuat batang itu semakin keras dan membesar. Wooh..kon tol si om gede banget! Aku sudah tidak sabar lagi ingin merasakan kon tolnya. Aku segera berjongkok di depannya. Dia membiarkan saja tanganku memelorotkan celana renangnya. Ketika celana renangnya sudah melorot sebatas pahanya, kontan kon tolnya yg sudah kaku mengeras dan membesar menyembul keluar berdiri tegak bagaikan tugu monas

aku terpesona ngeliatnya. Meskipun aku sudah sering melihat kon tol cowokku, tapi gak ada apa2nya kalo dibandingkan si om punya. Kont olnya yang besar, panjang dan keras, dah disunat, dihiasi bulu2 jembutnya yang lebat, keriting dan kecoklatan, di pangkal kon tolnya menutupi sebagian biji pelernya. Betapa nikmatnya jika kon tol ini menusuk masuk ke dalam me mekku. Dia berdiri tegak dihadapanku seakan sudah pasrah menanti aksiku. Aku memelorotkan celana renangnya lebih jauh lagi sehingga sekarang ia sudah tidak pakai celana renang itu. Aku memeluknya, mencium bibirnya, menjilat2 lehernya lalu dadanya, menghisap pentilnya, lalu ketiaknya. Walaupun ketiak itu ditumbuhi banyak bulu ketek tapi bau tubuhnya begitu harum, semakin membangkitkan nafsu birahiku. Kemudian aku menjilat2 perutnya yg 6packs. Dan akhirnya sampailah pada organ vital lelaki di bawah pusarnya. kon tolnya yang berdiri tegak, keras dan kaku, segera kuhisap degan penuh nafsu. Mula2 aku menjilat2 palkonnya. ”Aaahh,...aduh enak betul, Din. Terus! Jilat terus! Ooouuch..nikmat betul!” dia menjerit nikmat. Lidahku terjulur mulai menjilat2i palkonnya, terus turun ke bawah, ke batang nya. Sesampai di bijinya, aku mulai menghisap2nya. Balik lagi keatas, Aku menjilati lagi palkonnya, dan memasukkan kedalam mulutku. Rasanya mulutku penuh banget karena mulutku terlalu kecil untuk memuat palkonnya yang besar dan keras tapi aku tidak berhenti dan terus menghisap2nya. Dia melenguh penuh nikmat.

Tangannya yang kekar meremas-remas rambutku dan menekan--nekan kepalaku agar kon tolnya masuk lebih jauh lagi ke dalam mulutku. Puas menghisap-hisap palkonnya, aku pun mengocok-kocok batangnya. Kocokanku semakin cepat seiring dengan teriakannya yang semakin kuat, merasakan nikmatnya batangnya dikocok2. ”Ya aaaah! Aduh enak sekali, Din! Kocok teruuuus! Jangan berhenti! ooooohhh".crot-crot! Croooot! Crooot! Crooot! Crot!Cret! Cet! Aaaaahhhh! Sampailah pada puncaknya. Dia berteriak puas. Pejunya muncrat tak tertahankan lagi membasahi wajah, tangan, dan dadaku. Pejuya berwarna putih kental. Aku segera mengusap-usap tanganku membersihkan pejunya di wajah dan dadaku, menjilatinya dan menelannya. Hmm..nikmatnya bau air mani itu. ”Huaaah! Kau memang hebat Din! Masi sekolah dah hebat sekali! Aku benar2 puas!” Dia tersenyum puas. "Sekarang giliran kamu ya".

Sekarang gantian. Aku hanya pasrah siap dimakan. Tubuhnya masih telanjang bulat. akibat permainan tadi, peluhnya membanjiri seluruh tubuhnya. Tubuhnya tampak mengkilat-kilat ditimpa sinar matahari. Tiba2 dengan sigapnya ia menarikku ke dalam pelukannya, aku dibaringkan di dipan. kemudian dia melumat bibirku. Lidahnya terjulur kedalam mulutku aku pun menghisap lidahnya. Kemudian lidahnya memain2kan lidahku. Entah sudah berapa lama kami berciuman panas. Puas melumat-lumat bibirku, bertukar ludah dan mengulum lidahku, ciumannya mulai menjalar ke bawah, ke leherku. Aku menekan kepalanya dan meremas-remas rambutnya. Tiba-tiba aku merasakan gigitan mesra yang bikin geli di leher. Meninggalkan bekas gigitan merah. Sesaat kemudian dadaku yang mendapat giliran. aku merasa kegelian ketika mulutnya dengan penuh nafsu menghisap-hisap secara bergantian kedua pentilku yang makin keras dan memerah. Aku semakin menggeliat-geliat penuh nikmat. ”Ooh om.... Terus om... Lebih keras lagi om hisapannya...Oohhh...” Kebetulan si om belum bercukur dan kumisnya tumbuh pendek-pendek dan kasar. Aku semakin kegelian ketika kumis2 pendeknya menyapu dadaku.

Sambil terus menghisap2 pentil kananku dan mengesek2kan kumis pendek dan kasarnya, tangannya kirinya meremas-remas toketku yg sebelah kiri sementara tangan kanannya menyusuri pahaku. Aku kegelian nikmat ketika tangannya mengelus2 pahaku terus ke belakang dan meremas bukit2 pantatku. Sampai di selengkanganku, tangannya masuk ke balik cd bikiniku, menyusuri ”hutan” jembut dan akhirnya sampai dilobang me mekku. Aku yang sudah terangsang sejak tadi membuat bibir luar me mekku membesar dan memerah. Jari2nya yang besar kasar mengilik me mekku. Tubuhku menggelinjang penuh nikmat ketika sekali lagi jari jemarinya yg kasar meng-ubek-ubek me mekku. Me mekku mengeluarkan cairan bening membasahi jari tangannya. Pertanda aku sudah sangat terangsang. Dia tahu kalau me mekku sudah basah dan membasahi jari2nya. Ia kemudian menarik tangannya dan menghisap dan menjilat2 cairan me mekku yang membasahi jari2nya. ”Hmm bau me mekmu nikmat sekali.” bisiknya di telingaku. Aku tersenyum. Aku memang selalu menjaga kebersihanku. Secara rutin aku membersihkan memekku dgn cairan air rebusan sirih. Memekku jadi keset, bersih dan harum, ini ajaran tanteku sejak aku mulai haid. Aku menjadi makin terangsang, sebentar lagi pasti aku orgasme. Tapi dia malah melepaskan cd bikiniku.

Sejenak ia terpaku memandangi tubuhku dari kepala sampai ujung kaki. Tanpa sadar matanya melotot dan mulutnya ternganga. Badanku ramping namun padat berisi dengan kulit mulus kecoklatan. Toketku mungil namun padat dan keras dan pentilnya yang kecil dan memerah. Tepat pada sekengkanganku, me mekku sudah membengkak dgn bibir luar dan itilnya yang memerah dihiasi oleh rambut2 jembut yg hitam lebat. ”Tidak kusangka kau memiliki tubuh yang begitu indah, Din. Sayang banget kalau dilewatkan. Pasti enak sekali kalau dien tot”, katanya katanya penuh kekaguman. Aku sudah tidak sabar menunggu dia menerkamku dan mengen tot me mekku itu. Kini aku sudah telanjang bulat, rebah di matras siap dientot. Tapi dia belon mau keinti permainan.

Dia kemudian merenggangkan kedua kakiku sehingga selangkanganku terbuka. Tampak me mekku yang sudah membengkak berwarna merah jambu dihiasi rambut2 jembut yang lebat. ”Wow me mek kamu sudah bengkak tuh. Enak banget nih kalo dientot,” katanya. Ia kemudian membenamkan kepalanya ke dalam selangkanganku. Mulutnya kemudian mengecup memekku yang sudah basah. "Aaaah! Aooooh! Uuuuhhhh!", Aku menjerit2 geli-geli nikmat ketika lidahnya terjulur masuk kedalam lubang me mekku memain2kan bibir me mek dan juga itilku. Kata orang bagian yg paling sensitif dari me mek perempuan adalah itilnya. Ia menggigit2 lembut itilku dan menarik2nya membuat aku semakin melambung. Semakin aku terangsang, semakin keras aku meremas2 rambutnya dan semakin keras aku menekan kepalanya dalam selangkanganku. Sembari mulutnya mengecup dan menghisap2 me mekku, jari jemarinya dengan nakal mengubek-ubek lobang me mekku. Aku menggeliat-geliat merasakan geli-geli nikmat. Lidahnya terus menjilat2 lubang me mekku. aku hampir-hampir tak tahan lagi. ”Oaaah om Dina dah pengen dien tot. Dina sudah tak tahan om".

Dia membalikkan tubuhku sehingga aku tengkurap lalu ia menarik pinggangku ke atas sehingga posisiku nungging. Aku mengerti rupanya ia ingin memulai ngen tot dgn gaya Doggy. Dengan gaya ini, lobang memekku dan lobang pantatku akan terlihat jelas. Aku pun semakin menunggingkan pantatku sehingga lobang memekku makin kelihatan jelas. Aku mengoyang2kan pantatku menggoda dia. Pelan-pelan ia mendekatiku. Kon tolnya yg sudah tegak lagi dibimbingnya dengan tangan kanannya menuju lobang me mekku. Sebelum ia menusukkan kon tolnya kedalam lobang me mekku lebih dulu ia mengosok2an palkonnya di lobang memekku. Aku pun merasakan geli-geli nikmat. Apalagi ketika palkonnya menggesek2 itilku. Rasanya enak sekali, susah dikatakan! Aku masih mendesis2 nikmat ketika tiba2 kurasakan ada benda keras, besar panjang dan hangat menusuk me mekku. Oouch...enak betul. Palkonnya mulai menusuk me mekku. ”Aaaah Din, me mek kamu enak betul! Keset, sempit, dan hangat. Ooaaah Uuuuh! Nikamat banget,” dia melenguh nikmat setiap kali kon tolnya menusuk2 me mekku. Dia mengangkat pantatku lalu menekan keras-keras kon tolnya sehingga ... Blesss... kon tolnya semakin dalam amblas ke dalam me mekku. ”Aaaaahhhhhkh!” teriakku. Gerakan maju mundur pantatnya menghujamkan kon tolnya ke dalam me mekku semakin lama semakin cepat dan keras. Begitu keras sampai berbunyi pluk! Pluk! Pluk! Pluk! Pluk! Setiap kali kon tolnya dicabut dan dihujamkan ke dalam me mekku terdengar berbunyi pret! Pret!

Hingga suatu saat, kon tolnya masih menancap dalam me mekku, dia mengubah posisinya, diamengangkat tubuhku sehingga aku ada di atas tubuhnya. Posisi WOT (woman on the top!) Hebat betul. Entah bagaimana tehniknya, dia mengubah posisi sex kami dgn kon tol tetap manancap dalam me mekku dan tidak sampai tercabut! Rupanya dia sudah sangat berpengalaman soal urusan ngen tot. Dengan posisi ini, aku membelakangi dia dan tangannya bebas untuk meremas2 toketku dari belakang. Aku pun mengoyang2kan pinggulku dengan gerakan berputar2, naik turun dan maju mundur. Gerakan ini menimbulkan sensasi rasa yang begitu nikmat. Kon tolnya serasa berputar2 mengilik2 dan menusuk2 me mekku. ”Oooooh...terus Din...Jangan berhenti....Lebih cepet lagi.Yaaaaahhhhh...” Ia berteriak2 penuh nikmat sementara kedua tangannya meremas-remas kedua toketku. Semakin ia merasa nikmat semakin keras ia berteriak dan semakin keras remasan tangannya pada kedua toketku. Aku pun sama2 nikmat! Aku terus mengoyang2kan pinggulku. Aku sebenarnya sudah hampir mencapai puncaknya dan ingin segera selesai tapi si om tampak masih senang bermain-main dengan memekku. Mungkin ini dampak dia dah ngecret duluan ketika aku mengemut kon tolnya ya.

Selang beberapa lama kemudian ia mengubah posisi sex kami. Kini aku rebah terlentang dengan kaki yang mengangkang terbuka lebar2 sementara ia sudah ada di atasku, menindih tubuhku. Posisi ini membuat dada, perut, dan paha kami saling bersentuhan, merapat bagaikan dua raga menjadi satu. Barangkali karena ini maka disebutnya bersetubuh. Wajahnya begitu dekat dgn wajahku. ”Say, aku ingin melihat wajahmu yang lagi terangsang dan lagi orgasme! Pasti nikmat sekali! Membuat aku makin terangsang,” bisiknya. Dia mengangkat pantatnya dan menghujamkan keras2 kebawah. Kon tolnya menancap dalam2. Aaahhhh Oooouuuuch Yaaaaaah! Aku mendesis2 keenakan. Sementara pantatnya naik turun, tangannya dengan bebas meremas-remas toketku. Aku memejamkan mataku, mulutku tak henti2nya mendesis keenakan, wajahku memerah. Dia kembali menatap wajahku sambil berbisik, ”Din, kamu tampak makin cantik dan seksi kalau lagi horny. Aku makin bernafsu,” bisiknya. Ia kemudian melumat2 bibirku. Dia terus saja mengangkat pantatnya naik turun tidak bosan2nya. Aku merasakan kon tolnya menusuk2 me mekku. ketika aku sudah hampir sampai puncaknya ”Om, Dina dah mo nyampe...". "Iya Yang, aku juga dah mo ngecret", jawabnya sambil makin gencar menggenjotkan kont olnya keluar masuk me mekku. Dan akhirnya, ...." aku nyampe, bersamaan dengan itu dia menancapkan kon tolnya dalam2 di me mekku dan "Aaaaahhhhhh", dia juga menjerit keras, ...Croooot! Croooot! Croooot! Crot! Crot! Cret! Cret. Aku merasakan cairan hangat menjalar dalam me mekku. Aduhhh nikmat sekali. Pejunya sudah keluar, muncrat membasahi seluruh ruang memekku. Sampailah kami pada puncaknya. Dia masih diatas tubuhku. kon tolnya belum dicabut dari me mekku, akan tetapi gerakan yang tadi menggebu2 itu sudah berhenti. Yang ada gerakan2 yang lembut, ciumannya, rabaaannya atau remasannya pada toketku terasa lembut sekarang. Ketika dia mencabut kon tolnya dari me mekku dan berguling kesamping, terasa ada cairan hangat mengalir keluar dari me mekku. Tanganku meraba2 cairan itu. Pejunya. Cairan itu berwarna putih kental dan berbau harum. Aku menjilat2 jari2ku yang belepotan pejunya dan menelannya. Kami berbaring terlentang telanjang bulat kelelahan. Peluh membasahi kesekujur tubuh kami. Kami memandang ke atas, ke dedaunan pohon yang memayungi kami. Sinar matahari samar2 menerobos dedaunan. Sementara angin yg semilir dengan lembut membelai2 tubuh kami polos. Kami tersenyum puas. "Gimana Yang", dia manggil aku Yang dah beberapa kali, seneng deh dengernya. Aku menoleh kepadanya memandang sambil tersenyum manis. Tanganku memainkan kon tolnya yg sudah loyo. Wajahnya sangat tampan. Dengan kumis yg tumbuh pendek2 dan kasar serta peluh yg membasahi wajahnya, ia tampak sangat jantan."Nikmat banget om, Dina baru sekali ngerasain dimasukin yang segede om punya". "Mangnya punya cowok kamu kecil ya Din". "Rasanya si gede om, tapi dah ngerasain punya om gak da papanya cowok Dina punya". "aku juga nikmat banget ngen totin kamu Din, mem ek kamu dah peret, kerasa banget deh kedutannya. Masih mau lagi kan Din". "Terang ja kerasa peret, soalnya kon tol om gede banget si, sampe sesek deh me mek Dina kalo dah masuk semua, kalo diamblesin mentok deh om, ngilu2 nikmat gimana gitu lo". "Lagi yuk Din". wow, baru ja ngecret segitu banyak di me mekku dah ngajakin lagi? gak da matinya ni orang.

”Gimana mau lagi?” tanyanya lagi. ”mangnya om masi kuat?", jawabku padahal tadi rasanya benar2 menguras tenaga kami. ”Jangan kuatir. Aku punya tenaga cadangan. Kita lanjut dikamarku aja ya, lagian makan dulu deh ya, laper". Aku bangkit dari dipan, membantunya membawa kembali snack, buah2an dan minuman yang dah gak dingin lagi, yang gak sempet kami sentuh karena ada urusan yang jau lebi nikmat katimbang ngemil. Buah dan minuman kumasukkan kedalam lemari es, dia mengeluarkan sekotak besar pizza, "suka pizza kan kamu?' aku hanya menggangguk, sekarang terasa lapernya setelah dia mengubek me mekku abisan barusan. Dia memasukkan pizza yang sudahj terpotong2 itu kedalam microwave oven, mengambil beberapa minuman kaleng yang laen untuk menemani kami melahap pizza ukuran besar itu. Aku keluar lagi mengambil pakean dan bikiniku. Ketika aq masuk, pizza dah siap di meja, langsung kami santap dengan lahap sembari tetep bertelbul. .Wah kenyang rasanya setelah pizza itu pindah ke perut kami berdua, ditutup dengan minum minuman dingin yang tadi dia ambil dari lemari es. Setelah kenyang dia menggandengku masuk kamar tidurnya.

aku duduk di ranjang di dalam kamarnya yang besar. Ia duduk disebelahku, memelukku dan mencium bibirku mesra, kayanya abis ngecret barusan si om pengen romantis ma aku ni. Ya kuladenin ja ciumannya. tangannya merayap kesana-kemari, menggerayangi seluruh pahaku, kaki kurenggangkan tapi tangannya gak mampir diselangkanganku, cuma mondar mandir di pahaku aja. Elusan lembut di pahaku membangkitkan napsuku juga si pelan2. aku memejamkan mata menikmati juga perlakuan si om. Kini aku mulai membalas ciumannya. Bibirku bergerak menjelajahi bibirnya. Kami saling berciuman dengan hangat. Bahkan di dalamnya, lidah kami juga saling bertemu dan beradu. Sambil menciumi aku, kedua tangannya sekarang mengelus2 punggungku dan turun terus sampe ke pantatku. Dia mengelus2 pantatku, mesra banget deh rasanya, seneng aku diperlakukan kaya gitu, gak grusa grusu. badanku dipeluknya sehingga menempel di tubuhnya. Setelah puas berciuman, aku direbahkan ke ranjang. kali ini aku yang mengambil inisiatif dengan mulai menciumi dia lagi. Sambil memejamkan mata, bibirku menempel di bibirnya, kukecup dan kukecup lagi. Kembali bibirku menempel dan mengemut bibirnya. Satu tangannya memeluk aku sedang tangan satunya kembali menggerayangi pahaku, Dia mulai menyentuh-nyentuh selangkanganku sehingga membuat aku semakin “on” saja dan makin nafsu menciumi nya. Tangan nakalnya terus mejelajah keatas, mengelus2 toketku, pentilku mulai mengeras karena ulahnya. Sambil terus berciuman aku mengeluarkan lirihan-lirihan kecil. Kon tolnya pun mulai mengejang lagi. Toketku mulai diremas2nya, tetep pelan jauh dari kesan terburu2 walaupun aku tau napsunya juga dah makin memuncak. terasa sekali kon tolnya yang besar dah mengeras dengan sempurna menyentuh2 pahaku, seperti lagi kulonuwun pengen menyusup lagi kedalam me mekku. Aku memejamkan mataku menghayati nikmatnya toketku diraba-raba dan diremas-remas. Kedua pentilkupun ikut menjadi sasaran elusannya, geli2 asik saat pentilku digesek2 dengan telapak tangannya dengan gerakan memutar, kemudian dia meremas kembali toketku gantian.

Si om melanjutkan explorasi di tubuhku, jarinya sekarang mengelus2 jembutku, kemudian menyusup ke me mekku. Ia meraih tangan aku dan menaruhnya di batangnya yang besar dan berdiri tegak ke atas. Kuremas btangnya yang dah mengeras kembali itu, kukocok2 batangnya, sesekali kuremas2 biji pelernya, ini membuat si om makin napsu, palagi aku memijit2 palkonnya yang besar dengan ibu jari dan telunjukku. "Din, aku pengen diemut", katanya. Ya aku nurut aja deh, namanya juga berbagi kenikmatan kan. aku duduk disebelahnya, kon tolnya tetep kukocok2 dan Shleebpp…shleebbp…shleebppp…., palkonnya yang besar dan keras telah masuk dalam mulutku, kepalaku bergerak turun naik mengocok palkonnya dengan mulutku, saking besarnya cuma muat palkonnya ja di mulutku. Terdengar suara-suara kecipakan saat mulutku bergerak naik turun itu. Si om mengerang-erang menikmati rangsangan mulutku terhadap palkonnya. Apalagi lidahku bergerak-gerak kesana kemari menjelajahi setiap jengkal palkonnya. kemudian kulepas palkonnya dari mulutku, leher kon tolnya, persis dibawah palkonnya kujilati, melingkar kekiri dan kekanan. Ini membuat si om makin kelojotan, "Din, kamu dah pengalaman banget ya urusan sepong menyepong, kamu nelungkup diatas aku aja, jadi aku bisa ngemut itil kamu juga".

Aku segera menelungkup diatas tubuhnya dengan gaya 69. kon tolnya berada di mukaku dan me mekku berada diatas mulutnya, toketku menekan2 dadanya, segera pentilku disambernya, diplintir pelan2 sembari menjilati itilku, ini membuat aku menggelinjang gak keruan sehingga aku gak konsentrasi lagi ngejilatin palkonnya. pinggulku bergoyang menggeser2kan me mekku di mulutnya, kumisnya terasa ikut menggelitik me mekku. Aku melanjutkan seponganku, kuemut2 kembali palkonnya, kukeluarmasukkan di mulutku, sementara dia sambil menilat itilku, jari tengahnya dimasukkan kedalam me mekku dan meraba2 mancari g spotku, begitu teraba aku mengejang saking enaknya, "om....", lenguhku. desahanku makin memanjang dan keras sementara si om terus aja mengemut2 itilku, jari tengahnya dikeluar masukkan kedalam me mekku sembari menggesek g spotku, ini membuat aku makin menggelinjang dan akhirnya bobollah tanggulku untuk kesekian kalinya. "ooooom.....", lenguhku, tubuhku menggelinjang hebat dan dari mem ekku membanjirlah cairan nikmatku membuat wajah si om jadi ikutan basah. Dia gak perduli akan hal itu, jilatannya dilanjutkannya lagi, ini membuat aku makin kuyup dan semakin liar gelinjangan tubuhku. "om udah, masukin aja sekarang om", rintihku minta dia segera mulai aksinya.

Si om brenti ngilik itil dan g spotku, aku disurunya nungging diranjang. dijilatinya lagi mem ekku sebentar, dan akhirnya didekatkannya kon tolnya ke me mekku. sambil memegang pantattu, dia mendorong tubuhnya ke depan sampai tubuhku juga ikut terdorong ke depan. aku melenguh saat kon tol si om kembali membelah me mekku dan tertancap semuanya. itu dimungkinkan karena me mekku dah banjir cairan nikmatku akibat emutan dan gesekan yang dia lakukan tadi. Aku mendesah2 kembali ketika si om mengeluarkan kon tolnya di me mekku, mulainya pelan dan makin lama makin cepat frekuensi keluar masuknya. Dia berkonsentrasi penuh memompa me mekku sambil memegangi pantatku, perkasa sekali si om, dah umur segitu masi ja sanggup mengaduk2 me mekku terus2an. “Aaaaahhh…aahhhhhh…….aaaahhhhhhhh……..”, aku semakin keras mendesah-desah. Tubuhku ikutan bergerak maju mundur seiring dengan irama si om mengocok kon tolnya itu. toketku jadi bergoyang-goyang terguncang-guncang dibuatnya, ini membuat si om bernafsu untuk segera menyangganya dengan kedua tangannya, menepuk-nepuk dan meremas-remasnya. Dia me massage toketku sambil terus kon tolnya maju mundur di dalam me mekku. Nikmat banget rasanya ditn yoyin si om, mau rasanya aku tiap malem ngeladenin napsunya, nikmat banget soale, tapi gak mungkin kan tiap malem aku nginep di rumah si om.

Lagi nikmat2nya aku menikmati sodokan kon tolnya, dia menghentikan aksinya, ganti posisi rupanya. Kini dia menidurkan aku di ranjang dan dimiringkannya tubuhku. Dia berbaring disebelah belakangku. Lalu diangkatnya satu kakiku ke atas. Dalam posisi agak serong, dimasukkannya lagi kon tolnya kedalam me mekku. Posisi menyerong begini sungguh memberikan sensasi yang berbeda. kon tolnya menjadi terjepit dengan kuat oleh otot me mekku, ini menyebabkan dia dengan gencar menjodok2kan kon tolnya keluar masuk me mekku. Satu tangannya kini meraba-raba toketku, digeseknya pentilku dengan telapak tangannya, kemudian diplintir2nya pentilku dan akhirnya toketku diremas2nya, begitu bergantian, menambah rasa nikmat yang mendera tubuhku, "ooommm....", aku hanya bisa melenguh saking nikmatnya. Bahkan setelah itu aku memejamkan mata membiarkan tubuhku bergerak-gerak dienjot si om. “Emmhh…mmmhhh…mmmhhhh……,” kembali aku mendesah tertahan sambil mengemut jari telunjukku sendiri. Menyaksikan reaksiku, si om makin heboh aja enjotannya. dia terus-menerus mengocok-ngocok kon tolnya untuk membombardir me mekku.

Setelah itu posisi berganti lagi. Dia duduk di ranjang dengan kon tolnya begitu perkasanya berdiri mengacung tegak ke atas. Dipangkunya aku memunggi dirinya. dia meraba2 pundakku sambil menciumi rambut dan leherku, pinter banget deh si om mengolah tubuhku, aku hanya bisa melenguh menikmatinya. Lalu ia mengecup-ngecup leherku membuat aku kegelian sehingga tubuhku menggeliat-geliat sambil mendesah perlahan dengan mata terpejam. Dia menciumi punggungku sambil tangannya meraba-raba pahaku. Lalu dia kembali menciumi rambut dan leherku. Dadanya menempel di punggungku. Sambil terus menciumi rambut dan leherku, dia meraba-raba toketku dan meremas-remasnya. Kedua pentilku dimainkan dengan jari-jarinya. Tak lama kemudian dia mengangkat tubuhku sedikit, dimundurkannya sedikit dan, bleesshhh!, kini masuklah kon tolnya ke dalam me mekku berbarengan dengan turunnya tubuhku ke pangkuannya. Kini giliran aku yang “menunggang” kon tolnya. Kugerak-gerakkannya tubuhku naik turun, mula-mula perlahan tapi makin lama makin cepat iramanya, sambil mendesah-desah. Seluruh tubuhku bergoyang-goyang, terutama toketku yang ikutan bergerak naik turun bahkan sambil berputar-putar saat aku semakin cepat menggoyang tubuhku mengocok kon tolnya. “Aaaaahhh…aahhhhhh…….aaaahhhhhhhh……..,” tanpa bisa menahan diri lagi aku mendesah-desah dengan suara cukup keras. Sementara si om di belakang juga merem melek menikmati goyangan tubuhku karena kon tolnya jadi dikocok-kocok oleh me mekku yang terasa begitu sempit menjepit kon tolnya. Sambil menikmati “tunggangan” aku ini, ia menatap wajahku yang kini sedang terangsang hebat itu melalui pantulan kaca rias. Memang si om sengaja duduk dengan posisi menghadap meja rias, sehingga selain bisa menikmati mulusnya punggung aku, juga ia tak kehilangan pemandangan indah tubuh bagian dan juga reaksi wajahku saat sedang dien totinya. Aku terus menggoyang tubuhku naik turun, membuat rambutku menutupi wajahku dengan tak beraturan. si om kembali membenamkan wajahnya di rambutku sambil tangannya terus memainkan toketku, menyentuh dan memlintir pentilku, juga melingkar-lingkarkan jarinya di sekeliling pentilku. aku semakin cepat dan tak terkendali menggerak-gerakkan tubuhku naik turun sambil terus mendesah-desah dan berteriak-teriak. Ini membuat tenagaku habis, sampai akhirnya aku berhenti menggoyang.

Dia merabahkan badannya dan minta aku memutar badanku menghadap kearahnya. Dengan susah payah aku membalikkan badanku tanpa mencabut kon tolnya yang masih tertanam dalam me mekku. Aku menelungkup diatas badannya dan kembali mengocok kon tolnya dengan menaik turunkan pantatku, sambil berciuman bibir dengan hangat. Setelah itu badanku diangkatnya sedikit sehingga dia bisa mencium leherku kemudian turun terus kearah toketku. Dia menciumi toketku bergantian kiri dan kanan. Kedua pentilku yang menonjol langsung dikenyot-kenyotnya. Ini membuat aku makin liar. aku terus menaik-turunkan tubuhku, mengocok kon tolnya dengan me mekku. Dia terus mengemut pentilku, sambil mengemut, lidahnya juga dijulur-julurkan menyentuh-nyentuh ujung pentilku yang amat sensitif itu. aku terus menggoyang tubuhku membiarkan kon tolnya terus menyodok-nyodok lme mekku sampai akhirnya, aku mencapai klimaks yang kesekian. "Ooommm, nikmatnya...." Aku nelungkup terdiam diatas tubuhnya, lemes banget rasanya.

Dia ingin menuntaskan permainan yang sangat melelahkan bagiku walaupun nikmatnya ruar binasa. Dia berguling sehingga sekarang dia yang diatas, ahli banget dia meakukan itu tanpa mencabut kon tolnya dari me mekku. Di atas, dia mengambil alih permainan. Kon tolnya disodok2annya dengan cepat dan keras sehingga menghunjam2 dalam sekali di me mekku, terasa mentok malah kalo diamblesin semuanya. wah banget rasanya, badanku sampe terguncang2 saking napsunya dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk me mekku, sepertinya bentar lagi da juga mo keluar, makanya aku hanya bisa memeluk tubuhnya saja. “Shleebb…shleeebb….shhleebbb….” kontolnya keluar masuk mengaduk2 me mekku dengan perkasanya, masih cukup lama dia memompa me mekku sampai akhirnya aku mencapai klimaxku sekali lagi, berbarengan dengan itu dia menancapkan kontolnya dalam2 di mem ekku dan terasa semburan kuat pejunya dalam beberapa kali kecrotan membanjiri me mekku. Crotttttttt—crottss—crotttzz–crottt–crott—–crott. Selesailah sudah huru hara yang terjadi diatas ranjangnya. "om, nikmat banget deh maen ma om, baru sekali Dina ngerasain nikmat kaya gini". "Masak si Din, sayang aja kamu gak bisa tinggal bareng aku ya Din, kalo gak bisa tiap malem aku menikmati me mek kamu". "Lemes banget om, om kuat banget si maennya". "Tapi kamu suka kan, ya dah kamu bobo aja dulu, ntar sore aku anter kamu pulang, ntar dicari ma tante kamu lagi". Sebentar kemudian aku terlelap saking lemesnya, dan juga saking nikmatnya, di mulutku tersungging senyum kepuasan.

Mertua Kakak

Namaku Hendriansyah, biasa dipanggil Hendri. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Pariwisata sambil bekerja di sebuah hotel bintang lima di Denpasar, Bali. Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku masih duduk di kelas II SMA, di kota Jember, Jawa Timur.

Saat itu aku tinggal di sebuah gang di pusat kota Jember. Di depan rumahku tinggalah seorang wanita, Nia Ramawati namanya, tapi ia biasa dipanggil Ninik. Usianya saat itu sekitar 24 tahun, karena itu aku selalu memanggilnya Mbak Ninik. Ia bekerja sebagai kasir pada sebuah departemen store di kotaku. Ia cukup cantik, jika dilihat mirip bintang sinetron Sarah Vi, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sebahu. Namun yang paling membuatku betah melihatnya adalah buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.


Keindahan tubuh Mbak Ninik tampak semakin aduhai saat aku melihat pantatnya. Kali ini aku tidak bisa berbohong, ingin sekali kuremas-remas pantatnya yang aduhai itu. Bahkan jika Mbak Ninik memintaku mencium pantatnya akan kulakukan. Satu hal lagi yang membuatku betah melihatnya adalah bibirnya yang merah. Ingin sekali aku mencium bibir yang merekah itu. Tentu akan sangat nikmat saat membayangkan keindahan tubuhnya.

Setiap pagi saat menyapu teras rumahnya, Mbak Ninik selalu menggunakan kaos tanpa lengan dan hanya mengenakan celana pendek. Jika ia sedang menunduk, sering kali aku melihat bayangan celana dalamnya berbentuk segi tiga. Saat itu penisku langsung berdiri dibuatnya. Apalagi jika saat menunduk tidak terlihat bayangan celana dalamnya, aku selalu berpikir, wah pasti ia tidak memakai celana dalam. Kemudian aku membayangkan bagaimana ya tubuh Mbak Ninik jika sedang bugil, rambut vaginanya lebat apa tidak ya. Itulah yang selalu muncul dalam pikiranku setiap pagi, dan selalu penisku berdiri dibuatnya. Bahkan aku berjanji dalam hati jika keinginanku terkabul, aku akan menciumi seluruh bagian tubuh Mbak Ninik. Terutama bagian pantat, buah dada dan vaginanya, akan kujilati sampai puas.

Malam itu, aku pergi ke rumah Ferri, latihan musik untuk pementasan di sekolah. Kebetulan orang tua dan saudaraku pergi ke luar kota. Jadi aku sendirian di rumah. Kunci kubawa dan kumasukkan saku jaket. Karena latihan sampai malam aku keletihan dan tertidur, sehingga terlupa saat jaketku dipakai Baron, temanku yang main drum. Aku baru menyadari saat sudah sampai di teras rumah.

"Waduh kunci terbawa Baron," ucapku dalam hati. Padahal rumah Baron cukup jauh juga. Apalagi sudah larut malam, sehingga untuk kembali dan numpang tidur di rumah Ferri tentu tidak sopan. Terpaksa aku tidur di teras rumah, ya itung-itung sambil jaga malam.

"Lho masih di luar Hen.." Aku tertegun mendengar sapaan itu, ternyata Mbak Ninik baru pulang.

"Eh iya.. Mbak Ninik juga baru pulang," ucapku membalas sapaannya. "Iya, tadi setelah pulang kerja, aku mampir ke rumah teman yang ulang tahun," jawabnya.
"Kok kamu tidur di luar Hen."

"Anu.. kuncinya terbawa teman, jadi ya nggak bisa masuk," jawabku. Sebetulnya aku berharap agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya. Selanjutnya Mbak Ninik membuka pintu rumah, tapi kelihatannya ia mengalami kesulitaan. Sebab setelah dipaksa-paksa pintunya tetap tidak mau terbuka. Melihat hal itu aku segera menghampiri dan menawarkan bantuan.

"Kenapa Mbak, pintunya macet.."
"Iya, memang sejak kemarin pintunya agak rusak, aku lupa memanggil tukang untuk memperbaikinya." jawab Mbak Ninik.
"Kamu bisa membukanya, Hen." lanjutnya.
"Coba Mbak, saya bantu." jawabku, sambil mengambil obeng dan tang dari motorku.
Aku mulai bergaya, ya sedikit-sedikit aku juga punya bakat Mc Gayver. Namun yang membuatku sangat bersemangat adalah harapan agar Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya.

"Kletek.. kletek..." akhirnya pintu terbuka. Aku pun lega.
"Wah pinter juga kamu Hen, belajar dari mana."
"Ah, nggak kok Mbak.. maklum saya saudaranya Mc Gayver," ucapku bercanda.
"Terima kasih ya Hen," ucap Mbak Ninik sambil masuk rumah.
Aku agak kecewa, ternyata ia tidak menawariku tidur di rumahnya. Aku kembali tiduran di kursi terasku. Namun beberapa saat kemudian. Mbak Ninik keluar dan menghampiriku.
"Tidur di luar tidak dingin. Kalau mau, tidur di rumahku saja Hen," kata Mbak Ninik.
"Ah, nggak usah Mbak, biar aku tidur di sini saja, sudah biasa kok, "jawabku basa-basi.
"Nanti sakit lho. Ayo masuk saja, nggak apa-apa kok.. ayo."
Akhirnya aku masuk juga, sebab itulah yang kuinginkan.

"Mbak, saya tidur di kursi saja."
Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa yang terdapat di ruang tamu.
"Ini bantal dan selimutnya Hen."
Aku tersentak kaget melihat Mbak Ninik datang menghampiriku yang hampir terlelap. Apalagi saat tidur aku membuka pakaianku dan hanya memakai celena pendek.
"Oh, maaf Mbak, aku terbiasa tidur nggak pakai baju," ujarku.
"Oh nggak pa-pa Hen, telanjang juga nggak pa-pa."
"Benar Mbak, aku telanjang nggak pa-pa," ujarku menggoda.
"Nggak pa-pa, ini selimutnya, kalau kurang hangat ada di kamarku," kata Mbak Ninik sambil masuk kamar.

Aku tertegun juga saat menerima bantal dan selimutnya, sebab Mbak Ninik hanya memakai pakaian tidur yang tipis sehingga secara samar aku bisa melihat seluruh tubuh Mbak Ninik. Apalagi ia tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam pakaian tidur tipis itu. Aku juga teringat ucapannya kalau selimut yang lebih hangat ada di kamarnya. Langsung aku menghampiri kamar Mbak Ninik. Ternyata pintunya tidak ditutup dan sedikit terbuka. Lampunya juga masih menyala, sehingga aku bisa melihat Mbak Ninik tidur dan pakaiannya sedikit terbuka. Aku memberanikan diri masuk kamarnya.

"Kurang hangat selimutnya Hen," kata Mbak Ninik.
"Iya Mbak, mana selimut yang hangat," jawabku memberanikan diri.
"Ini di sini," kata Mbak Ninik sambil menunjuk tempat tidurnya.
Aku berlagak bingung dan heran. Namun aku mengerti Mbak Ninik ingin aku tidur bersamanya. Mungkin juga ia ingin aku.., Pikiranku melayang kemana-mana. Hal itu membuat penisku mulai berdiri. Terlebih saat melihat tubuh Mbak Ninik yang tertutup kain tipis itu.

"Sudah jangan bengong, ayo sini naik," kata Mbak Ninik.
"Eit, katanya tadi mau telanjang, kok masih pakai celana pendek, buka dong kan asyik," kata Mbak Ninik saat aku hendak naik ranjangnya.
Kali ini aku benar-benar kaget, tidak mengira ia langsung memintaku telanjang. Tapi kuturuti kemauannya dan membuka celana pendek berikut cekana dalamku. Saat itu penisku sudah berdiri.
"Ouww, punyamu sudah berdiri Hen, kedinginan ya, ingin yang hangat," katanya.
"Mbak nggak adil dong kalau hanya aku yang bugil, Mbak juga dong," kataku.
"OK Hen, kamu mau membukakan pakaianku."
Kembali aku kaget dibuatnya, aku benar-benar tidak mengira Mbak Ninik mengatakan hal itu. Ia berdiri di hadapanku yang sudah bugil dengan penis berdiri. Aku memang baru kali ini tidur bersama wanita, sehingga saat membayangkan tubuh Mbak Ninik penisku sudah berdiri.

"Ayo bukalah bajuku," kata Mbak Ninik.
Aku segera membuka pakaian tidurnya yang tipis. Saat itulah aku benar-benar menyaksikan pemandangan indah yang belum pernah kualami. Jika melihat wanita bugil di film sih sudah sering, tapi melihat langsung baru kali ini.

Setelah Mbak Ninik benar-benar bugil, tanganku segera melakukan pekerjaannya. Aku langsung meremas-remas buah dada Mbak Ninik yang putih dan mulus. Tidak cuma itu, aku juga mengulumnya. Puting susunya kuhisap dalam-dalam. Mbak Ninik rupanya keasyikan dengan hisapanku. Semua itu masih dilakukan dengan posisi berdiri.

"Oh, Hen nikmat sekali rasanya.."
Aku terus menghisap puting susunya dengan ganas. Tanganku juga mulai meraba seluruh tubuh Mbak Ninik. Saat turun ke bawah, tanganku langsung meremas-remas pantat Mbak Ninik. Pantat yang padat dan sintal itu begitu asyik diremas-remas. Setelah puas menghisap buah dada, mulutku ingin juga mencium bibir Mbak Ninik yang merah.

"Hen, kamu ahli juga melakukannya, sudah sering ya," katanya.
"Ah ini baru pertama kali Mbak, aku melakukan seperti yang kulihat di film blue," jawabku.
Aku terus menciumi tiap bagian tubun Mbak Ninik. Aku menunduk hingga kepalaku menemukan segumpal rambut hitam. Rambut hitam itu menutupi lubang vagina Mbak Ninik. Bulu vaginanya tidak terlalu tebal, mungkin sering dicukur. Aku mencium dan menjilatinya. Tanganku juga masih meremas-remas pantat Mbak Ninik. Sehingga dengan posisi itu aku memeluk seluruh bagian bawah tubuh Mbak Ninik.

"Naik ranjang yuk," ucap Mbak Ninik.
Aku langsung menggendongnya dan merebahkan di ranjang. Mbak Ninik tidur dengan terlentang dan paha terbuka. Tubuhnya memang indah dengan buah dada yang menantang dan bulu vaginanya yang hitam indah sekali. Aku kembali mencium dam menjilati vagina Mbak Ninik. Vagina itu berwarna kemerahan dan mengeluarkan bau harum. Mungkin Mbak Ninik rajin merawat vaginanya. Saat kubuka vaginanya, aku menemukan klitorisnya yang mirip biji kacang. Kuhisap klitorisnya dan Mbak Ninik menggeliat keasyikan hingga pahanya sedikit menutup. Aku terjepit diantara paha mulus itu terasa hangat dan nikmat.

"Masih belum puas menjilatinya Hen."
"Iya Mbak, punyamu sungguh asyik dinikmati."
"Ganti yang lebih nikmat dong."
Tanpa basa-basi kubuka paha mulus Mbak Ninik yang agak menutup. Kuraba sebentar bulu yang menutupi vaginanya. Kemudian sambil memegang penisku yang berdiri hebat, kumasukkan batang kemaluanku itu ke dalam vagina Mbak Ninik.

"Oh, Mbak ini nikmatnya.. ah.. ah.."
"Terus Hen, masukkan sampai habis.. ah.. ah.."
Aku terus memasukkan penisku hingga habis. Ternyata penisku yang 17 cm itu masuk semua ke dalam vagina Mbak Ninik. Kemudian aku mulai dengan gerakan naik turun dan maju mundur.
"Mbak Ninik.. Nikmaat.. oh.. nikmaattt seekaliii.. ah.."
Semakin lama gerakan maju mundurku semakin hebat. Itu membuat Mbak Ninik semakin menggeliat keasyikan.
"Oh.. ah.. nikmaatt.. Hen.. terus.. ah.. ah.. ah.."

Setelah beberapa saat melakukan maju mundur, Mbak Ninik memintaku menarik penis. Rupanya ia ingin berganti posisi. Kali ini aku tidur terlentang. Dengan begitu penisku terlihat berdiri seperti patung. Sekarang Mbak Ninik memegang kendali permainan. Diremasnya penisku sambil dikulumnya. Aku kelonjotan merasakan nikmatnya kuluman Mbak Ninik. Hangat sekali rasanya, mulutnya seperti vagina yang ada lidahnya. Setelah puas mengulum penisku, ia mulai mengarahkan penisku hingga tepat di bawah vaginanya. Selanjutnya ia bergerak turun naik, sehingga penisku habis masuk ke dalam vaginanya.

"Oh.. Mbak Ninik.. nikmaaatt sekali.. hangat dan oh.."
Sambil merasakan kenikmatan itu, sesekali aku meremas-remas buah dada Mbak Ninik. Jika ia menunduk aku juga mencium buah dada itu, sesekali aku juga mencium bibir Mbak Ninik.
"Oh Hen punyamu Oke juga.. ah.. oh.. ah.."
"Punyamu juga nikmaaat Mbaak.. ah.. oh.. ah..."
Mbak Ninik rupanya semakin keasyikan, gerakan turun naiknya semakin kencang. Aku merasakan vagina Mbak Ninik mulai basah. Cairan itu terasa hangat apalagi gerakan Mbak Ninik disertai dengan pinggulnya yang bergoyang. Aku merasa penisku seperti dijepit dengan jepitan dari daging yang hangat dan nikmat.

"Mbak Ninik.. Mbaaakk.. Niiikmaaattt.."
"Eh.. ahh.. ooohh.. Hen.. asyiiikkk.. ahh.. ennakk.. nikmaaatt.."
Setelah dengan gerakan turun naik, Mbak Ninik melepas penisku. Ia ingin berganti posisi lagi. Kali ini ia nungging dengan pantat menghadapku. Nampak olehku pantatnya bagai dua bantal yang empuk dengan lubang nikmat di tengahnya. Sebelum kemasukan penisku, aku menciumi dahulu pantat itu. Kujilati, bahkan hingga ke lubang duburnya. Aku tak peduli dengan semua hal, yang penting bagiku pantat Mbak Ninik kini menjadi barang yang sangat nikmat dan harus kunikmati.

"Hen, ayo masukkan punyamu aku nggak tahaan nih," kata Mbak Ninik.
Kelihatannya ia sudah tidak sabar menerima hunjaman penisku.
"Eh iya Mbak, habis pantat Mbak nikmat sekali, aku jadi nggak tahan," jawabku.
Kemudian aku segera mengambil posisi, kupegang pantatnya dan kuarahkan penisku tepat di lubang vaginanya. Selanjutnya penisku menghunjam dengan ganas vagina Mbak Ninik. Nikmat sekali rasanya saat penisku masuk dari belakang. Aku terus menusuk maju mundur dan makin lama makin keras.

"Oh.. Aah.. Hen.. Ooohh.. Aah.. Aaahh.. nikmaaatt Hen.. terus.. lebih keras Hen..."
"Mbak Ninik.. enak sekaliii.. niiikmaaatt sekaaliii.."
Kembali aku meraskan cairan hangat dari vagina Mbak Ninik membasahi penisku. Cairan itu membuat vagina Mbak Ninik bertambah licin. Sehingga aku semakin keras menggerakkan penisku maju mundur.Mbak Ninik berkelonjotan, ia memejamkan mata menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Rupanya ia sudah orgasme. Aku juga merasakan hal yang sama.

"Mbak.. aku mau keluar nih, aku nggak tahan lagi.."
Kutarik penisku keluar dari lubang duburnya dan dari penisku keluar sperma berwarna putih. Sperma itu muncrat diatas pantat Mbak Ninik yang masih menungging. Aku meratakan spermaku dengan ujung penisku yang sesekali masih mengeluarkan sperma. Sangat nikmat rasanya saat ujung penisku menyentuh pantat Mbak Ninik.
"Oh, Mbak Ninik.. Mbaak.. nikmat sekali deh.. Hebat.. permainan Mbak bener-bener hebat.."
"Kamu juga Hen, penismu hebat.. hangat dan nikmat.."

Kami berpelukan di ranjang itu, tak terasa sudah satu jam lebih kami menikmati permainan itu. Selanjutnya karena lelah kami tertidur pulas. Esok harinya kami terbangun dan masih berpelukan. Saat itu jam sudah pukul 09:30 pagi.

"Kamu nggak sekolah Hen," tanya Mbak Ninik.
"Sudah terlambat, Mbak Ninik tidak bekerja."
"Aku masuk sore, jadi bisa bangun agak siang.."
Kemudian Mbak Ninik pergi ke kamar mandi. Aku mengikutinya, kami mandi berdua dan saat mandi kembali kami melakukan permainan nikmat itu. Walaupun dengan posisi berdiri, tubuh Mbak Ninik tetap nikmat. Akhirnya pukul 14:30 aku pergi ke rumah Baron dan mengambil kunci rumahku. Tapi sepanjang perjalanan aku tidak bisa melupakan malam itu. Itulah saat pertama aku melakukan permainan nikmat dengan seorang wanita.

Kini saat aku kuliah dan bekerja di Denpasar, aku masih sering mengingat saat itu. Jika kebetulan pulang ke Jember, aku selalu mampir ke rumah Mbak Ninik dan kembali menikmati permainan nikmat. Untung sekarang ia sudah pindah, jadi kalau aku tidur di rumah Mbak Ninik, orang tuaku tidak tahu. Kubilang aku tidur di rumah teman SMA. Sekali lagi ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi.

Gara - Gara Kunci Rumah Dibawa Teman

Jam sekolah sudah berakhir, aku bersiap-siap untuk pulang.

Tiba-tiba seorang temanku yang bernama Agus, menghampiriku. "Be, mau ikut ga?" Tanyanya.

"Kemana?" Jawabku singkat.

"Ke villa di atas, ada acara berisik." Katanya. Dia bilang acara berisik untuk menyebutkan acara musik hardcore.

Ia, dulu aku suka dengerin musik seperti itu. Lumayan bisa liat orang teriak-teriak.

"Oya? Kapan?" Tanyaku lagi. Sambil berjalan keluar kelas.


"Ya sekarang. Inikan sabtu. Besok minggu jadi bisa istirahat langsung pulangnya." Jawabnya sambil mengikutiku keluar dari kelas.

"Emang jam berapa?" Aku bertanya lagi.

"Malam sih jam nya. Kamu mau pulang dulu?" Jawabnya.

"Engga ah. Aku kan ga pake baju seragam. Kalo cuma rok sih ga apa-apakan pake rok sekolah?" Kataku.

Iya, dihari-hari tertentu kalau hatiku sedang badmood, aku memang suka tiba-tiba membuka kemeja seragam sekolah. Aku tinggal pakai kaos dalam lalu sweater yang agak ketat.
Guru? Bukannya aku tidak menghargai mereka, tapi kalau tubuhku sudah tidak nyaman dengan kemeja seragam sekolah, aku akan sakit mendadak. Makanya, guru memaklumi. Ditambah, aku memang lumayan bebas disekolah itu, secara aku satu-satunya anak emas seorang guru paling disegani di sekolah. Kepala sekolah saja malah lebih segan ke guru itu.

"Iya ga apa-apa. Sambil nunggu, kita kerumah temen-temenku aja gimana?" Ajak Agus.

"Ayu aja." Jawabku singkat.

Agus ke parkiran sekolah, mengambil motornya. Aku menunggu di depan gerbang sekolah sambil ijin ketemen-temenku kalau aku gakan ikut main dengan mereka.
Aku dibonceng oleh agus menuju suatu tempat. Disebuah rumah sudah pula banyak anak-anak yang berpakaian sekolah juga yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing. Semua laki-laki. Disalah satu pojokan rumah, kulihat banyak botol bear dan beberapa botol anggur merah dan anggur putih. Disana sudah seperti basecame saja.
Aku duduk dikursi ruang tamu. Kami saling berkenalan. Entah ada berapa orang dirumah itu. Aku berkenalan dengan yang punya rumah, namanya Erik. Dia ramah sekali, terlihat sedikit mabuk. Agus menuju belakang rumah. Entah mau ngapain.
Tak lama, dari arah belakang, muncul 3 orang perempuan yang juga memakai seragam sekolah sambil tertawa-tawa. Mereka lalu melihatku. Aku tersenyum. 3 perempuan itu lalu menuju keluar rumah.
"Mereka pacar-pacarnya 3 orang yang suka kumpul disini juga Bee." Kata Erik tiba-tiba sedikit mengagetkanku.
"Oh." Suara yang keluar dari mulutku hanya itu.

Tiba-tiba dari pintu depan rumah masuk seorang laki-laki tinggi dan tegap, ditangannya penuh tatto. Ternyata aku mengenal dia. Dia salah satu kaka angkatku. Seorang preman yang menguasai daerah disekolahku dan sekitarnya. Aku memanggilnya dengan sebutan Aa. Aku memang sengaja mendekati dia, alasannya, dia bisa aku jadikan bodyguard ku. Ya, karna aku memang termasuk cwe yang suka kebebasan.
Dia melihat padaku dan tersenyum, lalu menghampiriku, duduk disamping kananku. Erik yang duduk disampingkiriku menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Aa. Semua yang berpapasan dengan nya pun begitu. Sepertinya, Aa disini juga sangat disegani.
"Bee, kamu disini juga? Ngapain?" Tanya nya sambil mencolek daguku.

"Ia a. Temenku Agus mengajak aku nonton acara musik." Jawabku sambil tersenyum semanis dan semanja mungkin.

"Ia, hati-hati ya? Kalo kamu kesana, nanti Aa nyusul kalo gitu." Katanya.

Kami akhirnya ngobrol bertiga dengan Erik. Sampai waktu yang ditunggu datang.
Aku tetap dibonceng Agus menuju ke villa di atas. Atas itu adalah suatu tempat kawasan tempat liburan. Terdapat banyak pohon teh disana.
Sampai ditempat, kami langsung menuju halaman belakang villa yang ternyata kolam renang besar, disalah satu sisi kolam ada sebuah panggung cukup besar. Acara sudah dimulai. Kami bersuka ria. Aku pun ikut mabuk bersama teman-teman. Malam semakin larut. Kami semakin dibakar nafsu dari alkohol-alkohol yang kami minum.
Dengan keadaan mabuk, aku kurang bisa membedakan mana teman-temanku dan mana yang bukan. Acara selesai tengah malam. Tempat itu terlihat sedikit lenggang. Ada yang sedang berenang, tiduran di tepi kolam renang, bahkan ada yang sedang bercinta didalam kolam. Aku diajak seseorang untuk mengikutinya.
Aku kira dia salah satu teman-teman baruku dari rumah erik. Aku dituntun nya, dibelakangku banyak laki-laki yang mengikuti kami. Dengan keadaan mabuk, aku ditarik masuk kerimbunan kebun teh yang membentang.

Dia lalu memelukku dan menciumiku. Aku kaget dan berontak. Tenaga dia lebih besar dariku. Aku terjatuh dan mengangkang. Dia menindihku dan menciumiku kembali. Aku teriak-teriak. Tapi siapa yang mau menolong ditengah kebun teh seperti itu? Terdengar banyak suara laki-laki yang menuju kearahku. Aku teriak terus.
Laki-laki yang meniduriku mengangkat rok seragamku. Melucuti celana dalamku. Aku benar-benar pusing dan lemah.

"Hikkss, jangan macem-macem kamu!" Kataku membentak tapi sambil menangis. "Toloonngg,, tolooonggg..." Teriak ku kembali.

Aku meronta, tapi rontaanku sama sekali tidak berpengaruh pada laki-laki itu.

"Diem kamu, ini pasti enak." Katanya sambil terus menciumiku.

Aku dikangkanginnya, terasa ada sebuah benda tumpul memasuki memekku. Dia dengan kasar nya menghentakkan kontolnya lebih masuk kedalam memekku.
"Anjiiingggg sakkiitttttt.. aaghhh.." Teriakku kesakitan.
Ya, rasanya memang sakit.

"Ga apa-apa nanti juga enak." Katanya sambil mulai menggenjot memekku.

Aku menangis, dan tetap berusaha memberontak. Kakiku berusaha menendang-nendang. Menggerakkan pinggulku agar kontolnya copot. Tapi bukannya copot, malah makin terlihat membuat laki-laki itu keenakan.

"Aaghhhh... " Desahnya.

Kontolnya terus terasa menggesek kedalam memekku. Masih terasa sakit.
Tiba-tiba terdengar banyak orang berbicara disekelilingku. Disana gelap tapi aku bisa sedikit melihat. Ternyata disana sudah banyak menunggu laki-laki yang melihat aku diperkosa.
Bajingan mereka! Kenapa hanya melihat? Bukan menolongku.

"Eh Wid, buruan, aku juga mau." Terdengar salah satu dari mereka berbicara.

"Hu'uh cepetlah." Kata suara yang lain. Entah aa beapa orang mereka yang menungguku.

"Bentar atuh, lagi enak-enaknya ini. Sumpah pulen euy ieu memek." Kata orang yang sedang menggagahiku.

Aku terdiam sejenak, lalu meronta lagi. Tapi ada yang aneh, aku sudah mulai merasakan kenikmatan didalam memekku. Aku mulai mendesah.

"Aaghhhh, oughhh.. memeknya sakittt..." Desahku sambil sedikit berontak. Aku gak mau terlihat sedang menikmatinya.

"Diem atuh neng, lagi enak banget ini. Masa ga ngerasain?" Kata laki-laki itu sambil terus menggenjotku.

Oh bagaimana ini? Ini rasanya sangat enak. Memberontak sedikit tapi dengan kasarnya laki-laki itu menekanku, melawan gerakanku dan itu membuat aku keenakan. Ada apa dengan diriku?
Aghh kalau terus seperti ini, aku akan klimak dan dia akan senang, begitu pula semua laki-laki yang menunggu gilirannya untuk memperkosaku. Malam ini, aku akan habis. Fikirku.

"Aaghhh, aghhhhhh toloongg lepasiinn.. sakiitt aaa sakiitt memekku.. kontolmu terlalu masukkkk.." teriak ku, ya kali ini aku sudah tidak mendesah. Karna aku tidak ingin memperlihatkan kalau aku sedang menikmati pemerkosaan itu.

Genjotan laki-laki itu makin terasa cepat.
"Aaghhh, aghhh enakkk nenggg. Memeknya pulen." Kata lelaki itu sambil menciumi leherku.

Dia terus mempercepat genjotannya. Aku menutup mataku, kali ini air mataku sudah tidak keluar.

Bruk! Tiba-tiba terdengar suara benda berat terjatuh.

"Aaawwww..." Terdengar juga teriakan-teriakan disekelilingku.

Aku membuka mata.
Lalu aku merasa laki-laki yang sedang menggagahiku terangkat tubuhnya keatas. Kepalanya menengadah. "Aaaaaaaaghhh awwwww..." Teriaknya.

Aku langsung bangun untuk duduk.
Aku melihat ada beberapa sosok tubuh yang sedang berkelahi. Laki-laki yang memperkosaku terlihat menungging di tanah. Sepertinya dia tidak sadarkan diri.
Aku masih merasa bingung. Lalu seseorang mengangkat tubuhku. Membopongku. Aku melihat wajahnya. Ternyata dia Aa. Wajahnya terlihat tegang. Akhirnya pandanganku memudar dan menghitam.

Terasa ada yang mengelus-elus pipiku. Aku bangun. Melihat sekeliling. Lalu aku lihat Aa ada disampingku.

"Kamu dirumah sakit Bee." Katanya lembut sambil tersenyum.

"Maaf Aa datang telat semalam. Aa nyari-nyari kamu sama temen-temen. Kata mereka, kamu tiba-tiba menghilang. Untungnya disana ada yang membicarakan kalau ada seorang wanita yabg akan digilir. Dan kami mengikuti mereka. Akhirnya, kami menemukan kamu Bee." Lanjut Aa menjelaskan panjang lebar.

Huft... Akhirnya aku selamat. Biarlah, ini menjadi pelajaran untukku. Salah satu pengalaman dikehidupan kelamku.

Kenikmatan Yang Aneh