Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
Aku baru saja memasuki rumah ketika kulihat sesuatu di rumah sebelah. Rumah Sesyl kelihatan agak berbeda dari biasanya. Disana, di pekarangan rumah itu terparkir sebuah Honda Jazz berwarna merah. Aku agak bingung sekaligus bertanya-tanya bagaimana mungkin ayahnya Sesyl yang selama ini hanya bekerja sebagai kuli bangunan itu bisa membeli Honda Jazz? Biasanya juga sehari-harinya suka minjem uang ke ibu.

Aku sudah berada di depan kamar. Aku melihat ke ruang lain sejenak, ada ibu yang sedang menyiapkan makan malam disana. Aku bermaksud menghampiri dan ingin menanyai mobil yang ada di rumah sebelah. Namun, kuurungkan niatku karena ku yakin ibu tidak akan pernah mau membahasnya. Ibu selalu mengingatkanku bahwa tidak ada baiknya mencari tahu urusan orang lain. “nanti jadi ghibah lho”, begitu ibu berujar selalu.


Aku memasuki kamar dan kembali melirik ke rumah sebelah melalui jendela kamarku. Kamarku terletak paling depan, tepat disebelah ruang tamu sehingga dari jendela kamarku itu kita akan langsung terhubung dengan pekarangan minimalis dan bisa langsung melihat ke rumah tetangga sebelah. Lagi-lagi rasa keingintahuanku menggelitik otakku. Pertanyaan-pertanyaan muncul seolah tidak percaya dengan apa yang aku lihat.

“bagaimana mungkin pak Joni bisa membeli mobil?”, “apakah Pak Joni baru saja menang lotre?”, “atau mungkin pak Joni melakukan pesugihan ?”. Pertanyaan itu berputar-putar di pikiranku tanpa ku tahu jawabannya.

Malam itu setelah makan malam aku tertidur dengan berbagai pertanyaan tentang pak Joni yang tidak bisa terjawab.

*****

Hari ini aku agak terlambat berangkat ke sekolah. Namun, untungnya guru yang mengajar belum masuk sehingga aku bisa berjalan tenang melalui lorong kelas. Aku baru saja menghempaskan tubuhku ke bangku di sebelah Gina. Namun, sahabatku itu langsung memberondongku dengan berbagai pertanyaan.

“Re, beneran ya ayahnya Sesyl menang lotre semalam ?”, pertanyaan itu meluncur dengan santai dari bibir Gina.

“nggak tahu gin, aku nggak nanya”, aku menjawab sekenanya.

“lagian buat apa kita ngurusin masalah orang lain”, aku berujar lagi.

Tanpa ku minta Gina mulai bercerita tentang Sesyl yang diantar oleh ayahnya tadi. Anak-anak lain juga mulai berkicau mengatakan hal-hal aneh tentang Sesyl, mulai dari dugaan bahwa ayah Sesyl menang lotre, sampai anggapan bahwa ayah Sesyl memakai ilmu hitam untuk mendapatkan itu semua. “persis sama dengan apa yang ada dipikiranku semalam”, batinku.

Hari itu, kelasku diributkan dengan masalah Sesyl. Sementara itu, Sesyl seperti tidak ingin berkomentar dan tiap kali ditanya tentang itu hanya tersenyum.

*****

Sore ini aku baru saja selesai mandi. Di kamarku sudah ada Gina yang sedang memegang majalah sambil melihat kearah jendela. Aku memang sudah ada janji dengan Gina untuk mengerjakan tugas.

“Re, coba kamu lihat ke sebelah, Sesyl lagi sama om-om”, Gina memanggilku yang masih mengenakan handuk.

“kamu jangan asal ngomong deh, mana mungkin Sesyl kayak gitu”, aku mencoba membela Sesyl sembari melihat keluar jendela.

“Astaghfirullah....”, tanpa sadar mulutku berujar melihat yang terjadi di luar. Apa yang kulihat dari balik jendela membuatku shock. Sesyl sedang berbincang-bincang dengan seorang lelaki paruh baya yang tidak aku kenal. Jujur, aku kenal hampir semua saudara dari ayah atau ibunya namun laki-laki yang sekarang aku lihat memang tidak pernah kulihat sebelumnya.

“Wah Re, ini jauh lebih buruk dari dugaan anak-anak Re”, Gina mulai berkomentar lagi sambil memegang bahuku. Aku hanya terdiam. Namun aksi diamku dimanfaatkan Gina. Tangannya menjalar ke buah dadaku yang masih terbungkus handuk.

“eeeeh, Gina mau ngapain??”, Tidak menjawab, Gina malah mencium bibirku dengan lembut. Aku kaget tapi tidak sanggup melawan. Bibirnya melekat kemudian melumat dengan lembut. Rasa ini terlalu nikmat untuk dilawan. Sambil mencium, tangan Gina terus bergerilya di buah dadaku.

Perlahan tapi pasti handukku mulai melorot dan jatuh kebawah. Gina semakin menjadi-jadi, ritme remasannya pd buah dadaku semakin cepat, aku merinding, lututku serasa goyah ketika satu tangannya menjalar kearah selangkanganku.

“Ahhhhsssh…… ”, aku mendesah ketika Gina berhenti melumat bibirku, dada Gina bergerak seirama dengan helaan nafasnya.

“pindah ke kasur yuk Re”, Gina berbisik di telingaku.

“Jangan Ahhh…”, aku menggelengkan kepala kemudian berkata “udah ya Gin, jangan terlalu jauh, aku mau pake baju dulu”, aku mengambil handukku yang tergeletak di lantai.

Gina menolak keinginanku. Ia menahan tanganku yang sudah kembali memegang handuk.

“pleaseee, ayolah Ree, tanggung…”, Gina menatapku penuh harap. Dia terus merengek memaksakan keinginannya.

Setelah menghela nafas panjang, akhirnya aku menuruti keinginan Gina, ada rasa cemas yang mengisi relung dadaku, ada sedikit rasa penasaran, namun juga ada rasa takut untuk melakukan hal baru seperti ini.

Gina menuntunku naik ke atas kasur, ia menyuruhku berposisi menungging. Ia sedikit mendorong tubuhku, kemudian sedikit menunggingkan pantatku, berat badanku sekarang tertumpu pada kedua tanganku. Gina mengelus lembut betisku. Usapan-usapannya semakin naik merayap ke atas, merayapi permukaan paha bagian dalamku. Pelan tapi pasti tangannya hinggap di pantatku.
Lubang anusku menjadi tujuannya. Dengan agak menundukkan badannya, ia mulai mengelus-elus lubang yang selama ini ku anggap kotor itu. Ia semakin menunduk hingga akhirnya aku merasakan sesuatu yang basah hinggap di lubang anusku, aku mencoba melihat kebelakang, ternyata lidahnya sudah mengulas-ngulas lubang anusku, membasahinya dengan air liurnya sebagai pelumas dan kemudian ditusuknya lubang anusku dengan lembut.

“Uhhhh….” Aku menarik pinggulku ketika jari Gina mengelus lembut lubang anusku. Perlahan-lahan jarinya menekan-nekan berusaha melakukan penetrasi.

Nafasku kadang-kadang memburu, kadang tertahan, kadang menghela nafas panjang dengan tubuh yang mengejang ketika perlahan-lahan jari sahabatku itu memasuki lubang anusku.

“Ahhhhhh…, Shhhhhhh, pelanh, pelannhhh….” aku mengernyit ketika Gina mulai menarik dan menusukkan jari telunjuknya, Gina menghentikan gerakan jarinya, dengan lembut Gina mengecupi buah pantatku, ia memberiku kesempatan agar dapat membiasakan diri dengan sebuah jari yang tertancap dilubang anus. Agak lama barulah Gina melanjutkan gerakan jarinya, ditariknya perlahan kemudian ditusukkannya dengan selembut mungkin.

Tangan Gina yang satunya lagi membelai-belai permukaan vaginaku yang bersih tanpa bulu, Gina tersenyum, Aku memang rajin mencukur buluku, dan rajin merawat daerah intimku itu.

Jari Gina mulai melakukan gesekan pada belahan vaginaku sekaligus menarik dan menusukkan jarinya pada lubang anusku. Mulutku ternganga-nganga tanpa dapat mengeluarkan suara, yang ada hanya desahan nafas yang tersendat-sendat.

“Sssshhhhhhh…..,” kepalaku terangkat keatas, mulutku sedikit ternganga, kemudian mendesah panjang “Ahhhhhhhhhhhh……..”

“Crrrrrrrrttt… Crrrrtttt….” tubuhku mengejang kemudian seperti terhempas dengan lembut, lubang vaginaku berdenyut-denyut membuahkan rasa nikmat yang menjalari sekujur tubuhku.

Mulut Gina buru-buru melumat lubang vaginaku, diemutnya dengan lembut, dihisapinya cairan-cairan lengket itu sampai kering. Rasa nikmat yang sangat luar biasa membuat kaki dan tanganku ikut gemetar, dan tanpa bisa ku tahan tubuhku terhempas ke kasur.Gina ikut-ikutan berbaring dan mengusap rambutku.

“Gimana Re? enak ga?”, Gina menatap nakal kearahku yang masih tersengal-sengal. Lebih kurang lima menit aku terkapar dan Gina memeluk sambil mengusap rambutku lembut.

Tiba-tiba terfikir olehku untuk membalas Gina. Aku melepas pelukannya dan bangkit, tanganku bergerak liar menelanjangi Gina tanpa ada perlawanan. Aku memeluk erat tubuhnya. Dia mendesah sambil membalas pelukanku, untuk beberapa saat kami berdua saling berpelukan, rasa hangat dan desiran darah itu kembali menjalari tubuhku, perlahan membakar kemudian dengan mengobarkan lagi birahiku. Aku merundukan kepalaku untuk mencium bahu Gina, ku kecup lembut bagian itu. Kecupanku perlahan menjalar ke leher Gina, sebelum akhirnya bibir kami menyatu, saling memagut, saling mengecup dan saling kulum.

Gina tersenyum kecil sambil menggesek-gesekkan dadanya pada dada ku. Aku juga ikut menggerak-gerakkan dadaku, sesekali desahan kecil bergantian keluar dari mulut kami.

“Re, lagi ngapain di dalam?”, bantuin ibu masak buat makan malam dong sayang”, gerakan dan desahan kecil kami terhenti karena terusik oleh suara ibu yang sudah berdiri di depan pintu kamarku.

“aku masih ngerjain tugas bu, kalau bantuin ibu dulu takutnya ntar Gina pulangnya kemaleman, aww!”, aku melotot ke arah Gina yang tiba-tiba menarik putting buah dadaku.

“itu kenapa teriak-teriak? Klo ngerjain tugas yang serius, jangan sambil becanda, biar cepat selesainya. Ya udah, ibu ke belakang dulu nyiapin makan malam ya sayang”, langkah kaki ibu mulai terdengar menjauh dari kamarku.

“ini si Gina tiba-tiba main cubit aja bu, awww Gina pleaseee…”, lagi-lagi Gina memutar-mutar dan menarik putingku. Aku mendelik kearah Gina dan dibalas dengan senyuman nakal olehnya. Awass yaa, pasti ku balas!, batinku.

Tak terdengar lagi suara langkah kaki ibu, sepertinya beliau sudah sampai di dapur. Perlahan-lahan kami memulai kembali kegiatan yang sempat terhenti. Aku menundukkan kepalaku kearah payudara Gina, aku kecupi dengan lembut bulatan dada Gina yang menggembung semakin membuntal padat, sesekali mulutku memagut-magut liar sampai Gina mendesah keenakan. Gina menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, dan menyodorkan vaginanya kedepan dengan posisi kedua kakinya sedikit mengangkang. Kepalaku mengarah ke antara kedua kaki Gina, tanganku merayapi permukaan paha Gina, matanya menatap sayu ke arahku. Sepertinya dia sudah benar-benar ingin. Sedangkan tanganku mulai menjalar ke belahan vagina Gina sebelum akhirnya aku menjulurkan lidahku keluar dan memoles belahan bibir vagina Gina, kukecup bibir vagina Gina dan kuhirup aromanya yang masih sangat aneh bagi hidungku.
Bibir ku dengan lembut memagut-magut bibir vagina Gina, jariku menekan sisi bibir vagina Gina agar belahan itu sedikit merekah. Aku menggerakkan lidahku mirip seperti sedang mengait sesuatu, mengorek, dan mengulasi daging klitoris Gina yang semakin membengkak. Sesekali Gina menarik vaginanya ketika rasa geli itu semakin hebat menyerang daerah intimnya, namun kemudian menyodorkan kembali vaginanya ke mulutku. Tangan Gina membelai – belai rambut ku, dan sesekali mencoba meraih payudaraku yang menggantung. Kepala Gina kadang terangkat ke atas dengan mata terpejam-pejam menikmati pagutan-pagutan lidahku di vaginanya.
Wajah Gina tampak semakin sensual ketika mendesah-desah, kadang mulutnya seperti hendak mengucapkan kata “A”, kadang meruncing tajam.

“Reeeeeee….” Gina mendesah sambil mengusap-usap kepalaku.

“Ennghh…,gimana gin , enak?”, aku menghentikan sejenak aktivitasku dan menatap Gina yang masih tersengal-sengal.

“lumayanlah, untuk pemula kayak kamu”, ucapnya sambil meleletkan lidahnya.
“Shiittt! Dia malah mengejekku”, ujarku dalam hati.

Aku kembali menjulurkan lidahku sebentar ke vaginanya, kemudian aku membalikkan tubuh Gina. Gina mengikuti saja arahanku. Kemudian lidahku kembali beraksi, tetapi kali ini lubang anusnya yang menjadi tujuanku. Persis seperti apa yang ia lakukan padaku tadi. Lidahku mulai mengelitiki sela-sela pantat Gina, seinchi demi seinchi akhirnya sampai ke lubang anus Gina, ku remas lembut buah pantat Gina yang bulat padat, sambil lidahku tetap melumasi lubang anusnya. Setelah lubang anus Gina agak basah oleh air liurku, barulah ku tempelkan jari tengahku di lubang anus Gina.

”Annghhhhh….” Gina menggigit bibir bawahnya ketika merasakan jari tengahku mulai mengorek dan menusuk lubang anusnya, sepertinya ia sedikit merasa pedih ketika jari tengah ku perlahan-lahan memasuki anusnya.

“Aww….pelan-pelan Reeeee…..”aku menghentikan gerakan jari tengahku ketika Gina meringis.

“Ahh cemen, masa gitu aja sakit? Terus ga nih?”, Aku berbalik mengejeknya karena ia mengatakanku pemula tadi.

Gina tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mendapat persetujuan, jari tengah ku kembali menekan dan kali ini lebih dalam.

“Cuppp.. Cupppp… Cuppp”,aku mulai sedikit bergeser. Aku mengecupi pinggul, pinggang, punggung dan kemudian mengecupi tengkuk leher Gina. Tangan kiriku begerak meremas-remas payudara Gina yang membuntal, semakin padat dan kenyal ketika tanganku mengelus dan meremasi benda itu.

Gina menolehkan kepalanya kearah ku, lidah Gina terjulur keluar menghampiri lidahku, mulutku terbuka lebar dan mencaplok lidah Gina kemudian lidah kami saling menghisap dengan lembut, tangan kiriku mulai merayap lagi kebawah meninggalkan dadanya, dan mulai mengelusi bibir vagina Gina, terkadang dengan gemas ku meremas-remas selangkangan Gina, sementara jari tengah tangan kananku yang masih mengait lubang anus Gina bergerak keluar masuk dengan lembut. Aku semakin giat merangsang Gina untuk mencapai orgasmenya.

“Aaaakhhhhhh…” Akhirnya Gina terpekik kecil ketika merasakan letusan nikmat yang diiringi dengan denyutan-denyutan kenikmatan di lubang vaginanya, hanya desahan-desahan kecil yang terdengar dari bibir Gina yang tersendat-sendat.

“Crrrrrrrrrrrrrt… Crrrrrrrrrtttt”

Ginapun akhirnya terhempas ke ranjang. Aku merapatkan buah dadaku ke punggung Gina, kedua tanganku menggenggam bongkahan payudara Gina, sesekali terdengar helaan – helanan nafas panjang diiringi oleh suara rintihan kecil. Kami sama-sama terbaring di ranjang.

Beberapa saat kemudian setelah tenaga kami kembali, Aku berjalan ke kamar mandi meninggalkan Gina yang masih terlihat pasrah, aku mencuci tangan dan kemudian mencuci wajahku kembali dengan pembersih muka. Aku beranjak kearah lemari bajuku, ku lihat Gina mengelap wajahnya dengan tissue basah, kemudian gadis itu berlalu masuk ke kamar mandi.
“Ahh, gila! Sahabatku itu sudah memberiku pelajaran baru”, aku membatin dan tersenyum sendiri.

Sesaat kemudian Gina sudah berdiri lagi di jendela kamarku. Melihat ke rumah Sesyl.
“Lihat Re, Sesyl pegang-pegangan sama om itu”, Gina mengucapkan hampir setengah berbisik karena tidak percaya.

Aku yang sedang mengenakan celana pendek kaget, dan bergegas menggunakan BH pink, senada dengan warna celana dalamku. Aku yakin yang sepenuhnya terjadi tidak seperti itu. Aku sangat yakin Sesyl pasti punya alasan sendiri tentang hal ini.

“Kita kesana aja yuk Gin”, aku berkata sambil memakai kaos kesayanganku yang bergambar kucing. Sesaat kemudian, aku menarik tangan Gina keluar kamar.

“Kita ga usah kesana deh, ga enak”, baru beberapa langkah kita berjalan, tiba-tiba Gina menahanku. Kami kemudian balik ke kamar dan duduk di ranjang.

“Apa mungkin Sesyl dijual ayahnya ke om-om itu ya ?”, Gina berbisik lagi ditelingaku.

Aku hanya diam, pikiranku kini berisi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Aku tidak ingin menghakimi begitu saja. Namun, apa yang kulihat benar-benar membuatku tak bisa untuk berpikiran positif lagi pada Sesyl. Sesyl memang sangat cantik. Di sekolah Sesyl menjadi idola, bukan hanya bagi anak laki-laki tetapi juga para guru. Selain karena dia yang cantik, otaknya juga cerdas. Sesyl memang langganan juara kelas. Itu membuat ia semakin populer di sekolah.

“Dijadiin istri muda atau istri simpanan mungkin?”, Gina lagi-lagi berspekulasi.

“Bisa jadi..”, tanpa sadar bibirku berucap demikian.

Aku tahu, tidak seharusnya aku mengatakan itu pada Gina, karena itu sama saja dengan memberi Gina dukungan untuk menyebarkan itu di sekolah. Biasanyakan yang sering mengumbar gosip di sekolahan kan Gina. Pasti sekarang dia merasa mendapat dukungan dariku.

“Gin, tolong jangan ngomong yang macam-macam di sekolahan ya, aku tidak ingin anak-anak berpikiran aneh-aneh tentang Sesyl”.

“Tapi kan kita sudah melihat dengan mata kepala sendiri Re, kurang bukti apalagi?”, nada bicara Gina mulai berubah.

“Ya, cukup ini kita aja yang tahu, jangan disebar-sebarin”, aku mencoba berujar pelan agar tidak memancing emosi Gina.

“Iya deh iyaa, aku nggak akan kasih tahu siapa-siapa, tapi ada syaratnya”, Gina akhirnya tersenyum kembali.

“syarat apaaa, jangan aneh-aneh!”, aku menekankan kata aneh sambil mendelik, berpura-pura marah.

“cium aja kok, ga aneh kan Re?!”, ia berujar sambil menunjuk bibirnya, matanya mengerling nakal.

Aku terdiam sejenak. Ragu. Harga diriku sedikit terusik. Tapi, ahh, jangankan bibir, vaginaku saja sudah diciumnya tadi. Lantas harga diri seperti apa lagi yang harus ku bela?, pikiranku sedikit berkecamuk, akhirnya aku mengangguk dan tersenyum lemah.

Tanpa dapat ditahan lagi, bibir Gina langsung menerkam bibirku dengan ganas. Kami berciuman cukup lama. Sampai akhirnya pelan-pelan Gina melepas lumatannya.

“Tapi aku heran, kenapa kamu masih belain Sesyl?, sudah nyata-nyata kamu lihat sendiri”.

“Sstttt, udah ya buk gosipnya, kita kerjain tugas sekarang, biar kamu pulangnya tidak kemalaman”, aku menutup mulut Gina dengan telunjukku. Sesaat kemudian kita tertawa bersama.

*****

Lagi-lagi aku terlambat ke sekolah. Kali ini aku berlari menuju kelas. Beberapa orang yang menyapaku saat berpapasan tak kuhiraukan. Beruntung aku masih diperbolehkan masuk oleh Pak Ginting, guru fisikaku.

Aku duduk di bangkuku dengan tenang, dadaku masih berdebar kencang karena lari tadi. Aku melirik Gina sesaat. Terpancar senyum manisnya, wajahnya biasa saja seolah-olah semalam kami tidak melakukan apa-apa.

“Re sepertinya apa yang kita bicarakan kemarin itu benar, coba lihat bangku Sesyl”, Gina setengah berbisik padaku. Aku tidak menjawab, namun secara refleks mataku melihat ke bangku kanan paling depan, bangkunya Sesyl kosong.

“Mungkin sekarang, Sesyl sudah pergi sama om-om yang kita lihat kemarin. Dan mungkin juga dia tidak sekolah lagi disini, soalnya tadi aku lihat di ruang guru, Ayahnya Sesyl bicara dengan Kepala sekolah”, Gina lagi-lagi mengoceh tanpa kuminta.

Pikiranku mulai melayang, aku tidak memperhatikan pelajaran. Aku ingat, semalam ibu sempat mengatakan kalau beberapa waktu lalu pak Joni meminta tolong ibu untuk menjualkan rumahnya.

“Apa mungkin dugaan kita itu benar ya, Gin?”, aku menghela nafas panjang.

*****

Aku keluar dari kantin, ingin ke kelas. Akhirnya aku terbebas dari rasa lapar yang membelenggu sejak pagi tadi. Aku baru saja memasuki kelas ketika seseorang memanggilku. Aku menoleh ke belakang.

“Re, benar ya kalau Sesyl dijual ayahnya ke om-om hidung belang?”, aku kaget mendengar pertanyaan Ririn, teman sekelasku.

“Kata siapa?”, aku balik bertanya. Bukannya menjawab tapi Ririn malah menunjuk ke arah bangkuku. Ternyata disana sudah berkerumun teman-teman sekelas mengelilingi Gina yang sepertinya asyik bercerita.

“Tanya Rere aja kalau kalian masih nggak percaya”, Gina menunjuk aku yang sedang berjalan kesana. Matanya menatapku tajam seolah-olah memintaku untuk memberi pernyataan yang mendukungnya. Alhasil anak-anak kelaspun mengerubuti ku. Aku mendelik ke arah Gina, dia hanya tersenyum menghampiriku, dan membisikkan sesuatu. Aku menghela nafas sejenak.

Akhirnya aku ikut-ikutan bercerita tentang kejadian yang kami lihat kemarin. Tak butuh waktu lama, gosip itupun menyebar di berbagai kalangan di sekolah ini. Sebenarnya aku merasa bersalah karena hal ini, tapi Gina berusaha meyakinkanku bahwa apa yang kami lakukan tidak salah.

*****

Hari ini aku pulang agak sore. Baru saja masuk ke rumah, terdengar suara ibu memanggilku di dapur. Aku berjalan menuju dapur dan ku lihat ibu sedang asyik memasak untuk makan malam kami.

“kamu mau ikut ke Semarang minggu ini?”, ibu bertanya tanpa melihat kearahku.

“Pamannya Sesyl menikah, tadi sebelum pak Joni dan Sesyl berangkat ke Semarang, pak Joni memberi kita undangan”, ibu menjelaskan padaku. Sesaat kemudian ibupun menceritakan tentang paman Sesyl tersebut. Ia adalah anak kelima dalam keluarga ayah Sesyl. Seorang tentara. Sempat ditugaskan ke Jalur Gaza sebagai pasukan perdamaian. Sehingga kami tidak pernah bertemu ataupun melihatnya. Ibu juga menceritakan bahwa mobil Jazz yang beberapa hari ini dipakai oleh pak Joni adalah mobil adiknya itu. Ya, paman Sesyl itu meminta tolong pak Joni untuk membeli mobil untuknya. Dan kemarin, paman Sesyl itu baru saja datang dari Gaza. Menjemput mobilnya sekaligus mengajak Sesyl dan ayahnya untuk pulang ke Semarang membantu persiapan pernikahannya.

Akhirnya semuanya jelas. Teka teki tentang Sesyl dan Honda Jazz merah. Tiba-tiba aku merasa menjadi orang paling berdosa karena sudah menuduhkan hal-hal yang tidak dilakukan oleh Sesyl. Dan parahnya lagi semua itu sudah menyebar di sekolah.
Aku berlari menuju kamarku sambil terisak. Ibu yang menyadari itu segera menyusulku. Ibu duduk diranjangku dan membelai rambutku.

“kamu kenapa tiba-tiba nangis? ada yang ingin kamu ungkapkan?”

Aku hanya terisak dan langsung memeluk ibu. Beberapa menit lamanya aku hanya menangis dipelukan ibu. Setelah agak reda, akupun menceritakan semua yang terjadi beberapa hari ini kepada ibu, termasuk yang baru saja aku dan Gina lakukan di sekolah tadi. Tentu saja aku merahasiakan pergulatan nafsuku dengan Gina.

Ibu tidak marah, ia tersenyum kemudian menghapus air mataku dengan tangannya yang lembut.

“kamu tahu Rere sayang, tidak semua yang kamu lihat itu benar. Meskipun kamu melihatnya dengan mata kepala sendiri, tetapi semua tetap butuh penjelasan, kamu tidak bisa menghakimi begitu saja atas pandangan matamu”, ibu menasehatiku seperti biasa.

Aku sadar aku yang salah. Aku harus meluruskan kembali gosip yang tersebar tentang Sesyl tadi. Dan aku harus melakukan itu sebelum Sesyl kembali dari Semarang, Senin depan. Aku tidak tahu bagaimana caranya tapi aku pasti akan melakukannya untuk Sesyl. Aku janji.

-The End-

Mobil Merah Tetangga Sebelah

Sore itu aku sedang berada di atas kereta api dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, setelah tugas dari kantor selesai dilaksanakan. Ketika melewati daerah Padalarang, diluar jendela kereta terlihat hamparan sawah yang terjepit diantara kampung dan perbukitan. Aku jadi teringat kampung halamanku. Lamunanku membawa aku kembali ke kampungku....LIMA BELAS TAHUN YANG SILAM.... *

Aku tinggal di sebuah kampung di pedalaman pulau Sumatera yang dikelilingi oleh pegunungan. Sebagian besar penduduk dikampung kami berprofesi sebagai petani baik bersawah maupun berkebun. Udara yang sejuk dan tanah yang subur sangat mendukung kegiatan pertanian. Dipinggir kampungku ada sebuah sungai yang selain digunakan untuk mengairi sawah juga digunakan untuk mandi dan mencuci. *


Oh ya, namaku Herman dikampung aku biasa dipanggil Maman. Aku anak pertama dari dua saudara. Kedua orang tuaku merantau ke negara tetangga, *hanya pulang kampung waktu Lebaran saja. Jadi dirumah kami tinggal bersama nenek. Usiaku sekarang menginjak 16 tahun dan aku duduk dikelas 1 SMA di kota kecamatan sekitar 3 km dari kampungku. Jadi aku ke sekolah pakai sepeda atau numpang pada teman yang bawa motor. *

Sebagaimana layaknya anak laki-laki di kampung, kebiasaanku setelah pulang sekolah adalah kumpul bersama teman-teman. Dari sekian temanku, yang paling akrab adalah Rizal. Kami sudah berteman sejak kecil bahkan sebelum masuk SD. Keakraban kami terjalin tidak hanya karena kami seumuran, tapi karena kami keluarga dekat. Ibunya Rizal, yang biasa kupanggil Bi Marni adalah adik sepupu Ibuku. Aku pun sudah dianggap seperti anak sendiri. Umur Bi Marni kurang lebih 40 tahun. Bapaknya Rizal yaitu Wak Amir sudah meninggal hampir dua tahun yang lalu karena sakit. Kata orang Wak Amir bekerja terlalu keras di sawahnya dan juga berkebun. Rizal anak bungsu dari 3 bersaudara. Kedua kakaknya merantau keluar daerah, tinggallah Rizal berdua Bi Marni saja di rumah. Ada beberapa pria yang ingin mendekatinya, tapi tanggapan Bi Marni dingin saja. *

Rumahku dan rumah Rizal saling berdekatan sejarak 100 meter. Rumah Rizal sudah seperti rumahku sendiri, aku terkadang menginap dan makan disitu. Rumah ini mempunyai 3 kamar, dua kamar didepan saling berdekatan, kemudian terpisah satu kamar dibelakang dekat dapur. Rizal menempati kamar paling depan, satu kamar lagi bekas kakaknya sekarang kosong, sedangkan Bi Marni di kamar paling belakang. Di bagian depan rumah, Bi Marni membuka warung kecil-kecilan. Di warung inilah kami sering nongkrong sampai larut setiap malam minggu atau liburan. Biasanya Bi Marni menjaga warung sampai jam 6 sore, lalu kadang-kadang malamnya dilanjutkan oleh Rizal sampai sekitar jam 9. *

Siang itu sepulang sekolah aku kerumah Rizal, tapi ternyata yang ada hanya Bi Marni lagi jaga warung.
"Rizal kemana Bi..?" tanyaku sambil duduk di bangku warung.
"Tadi katanya ke bengkel motor di kota kecamatan", jawab Bi Marni. Aku perhatikan memang motor bebek Rizal tidak kelihatan. Biasanya selalu di parkir di selasar depan warung. Ya sudah, akhirnya aku pilih menunggu di warung sambil bantu Bi Marni melayani pembeli. Karena sepi pembeli aku jadi banyak memperhatikan sosok Bi Marni yang sedang merapikan barang-barang.
Bi Marni memakai kaos oblong dan kain panjang yang dililit ketat seperti penjual jamu. Walaupun sudah berumur 40 tahun tubuh Bi Marni masih terlihat menggairahkan, tidak gemuk tapi montok. Dengan tinggi badan sekitar 160 cm, payudara yang besar (belakangan aku baru tahu ukurannya 38 C) dan pantat yang bahenol walaupun perutnya agak sedikit maju. Kulitnya kuning langsat dengan wajah oval dan sepasang mata yang bulat besar. Wajah dan tubuh Bi Marni mengingatkan aku pada aktris-aktris film India.
"Man, tolong bantu Bibi mindahin karung beras ini ya," kata Bi Marni.
Aku langsung bergerak menuju ke salah satu ujung karung. Ketika Bi Marni menunduk untuk meraih karung itu, mataku tanpa sengaja melihat ke celah kaos Bi Marni yang longgar. Tampaklah bongkahan payudara yang montok dan putih samar terlihat urat-urat berwarna kebiruan. Kedua bukit kembar itu seakan mau tumpah dari BHnya. Darahku langsung berdesir, kerongkonganku seakan tercekat
"Siap ya Man, satu...dua..tiga...!" ucapan Bi Marni mengagetkan aku. Karena cukup berat, posisi kami mengangkat karung agak membungkuk. Jadi aku cukup lama menikmati pemandangan dari celah kaos Bi Marni hingga karung kami letakkan di sudut warung.

Ketika Bi Marni membelakangiku, mataku langsung tertumbuk pada bongkahan pantatnya yang semok dibalik ketatnya kain panjang. Perlahan tapi pasti "adik" kecilku mulai bereaksi membentuk tonjolan di celanaku. Aku gelisah, takut kalau Bi Marni melihatnya.
"Bi, Maman pulang dulu ya", aku beralibi sambil berusaha menutup tonjolan di celanaku. "Lho, sebentar lagi paling si Rizal juga datang", sahut Bi Marni. Aku tidak merespon dan langsung bergegas pulang.

Sampai di rumah aku termenung di teras, membayangkan kejadian yang baru saja aku alami. * Entah berapa lama aku termenung sendirian, hingga aku dikagetkan ada yang memanggil namaku.
"Man, oiii...! Rizal sudah pulang, itu lagi ada di warung", *teriak Bi Marni sambil melewati jalan setapak di depan rumahku hendak menuju ke sungai. Tubuhnya hanya dibalut kain panjang sebatas dada sehingga bahunya yang putih mulus terpampang jelas. Handuk dililitkan dikepalanya, sedangkan tangan kanannya menjinjing ember berisi cucian.
"Eh, iya Bi", aku menjawab sekenanya.
Mataku tak pernah lepas menatap goyangan pantat Bi Marni hingga menghilang dari pandanganku. Pikiranku berkecamuk oleh rasa penasaran ingin melihat lebih jauh dari yang sudah kulihat di warung tadi. Jam dinding di ruang tamu sudah pukul 5 sore, aku langsung bergegas menyusul Bi Marni. *

Sesampai di sungai, aku langsung bersembunyi dibalik semak kurang lebih 10 meter arah depan dari tempat mandi perempuan. Ternyata Bi Marni baru selesai mencuci dan masuk ke sungai untuk mandi, kain panjangnya yang basah melekat membentuk lekuk tubuhnya terutama bokong dan teteknya. Aku menelan ludah, burungku langsung tegang. Kedalaman sungai hanya selutut orang dewasa.
Aku lihat Bi Marni berdiri menyabuni tubuhnya dan mengendorkan ikatan kainnya. Dia menyibakkan kainnya untuk menyabuni betis dan pahanya yang putih. Tangan kanan Bi Marni menggosok-gosok selangkangannya sedang tangan kirinya meremas buah dadanya. Sejenak mata Bi Marni mengawasi sekitarnya, lalu tiba-tiba kain panjangnya diturunkan hingga ke pinggang. Kedua buah dadanya menggantung seperti mangga yang ranum, putingnya berwarna kecoklatan.
Melihat pemandangan seperti itu aku langsung mengelus burungku. Elusan tanganku berubah menjadi kocokan ketika kulihat Bi Marni semakin bergairah menggosok selangkangannya. Matanya terpejam sambil mengatupkan bibirnya, tangan kirinya memilin puting susunya.
Ternyata dibalik sikapnya yang dingin, Bi Marni sangat haus sentuhan laki-laki. Beberapa saat kemudian tubuh Bi Marni mengejang seperti kena setrum. Aku mempercepat kocokanku dan....crott...crott! Spermaku tumpah ke semak-semak. Setelah Bi Marni selesai mandi, aku pun pulang dengan perasaan yang ringan.

Hari-hari berikutnya, mengintip Bi Marni mandi menjadi aktivitas rutinku. Aku benar-benar terobsesi dengan kematangan seorang wanita dewasa pada diri Bi Marni. *

Aku jadi sering bantu Bi Marni diwarungnya, terutama kalau Rizal sedang tidak di rumah atau lagi bermalasan di kamarnya. Ruangan yang sempit diantara rak barang membuat badanku sering berdempetan dengan Bi Marni. Sikutku kadang kusenggolkan ke dadanya, atau ketika mengambil barang di rak selangkanganku kudempetkan ke bokong Bi Marni. Kelihatannya Bi Marni acuh saja, mungkin mengira aku tidak sengaja.

*"Man, anterin Bibi nengok sawah ya, mau lihat apa sudah bisa dipanen belum. Si Rizal kakinya keseleo habis main bola", kata Bi Marni suatu hari. Setelah mengunci pintu dan menutup warung, tangannya mengulurkan kunci motor Rizal. Hari minggu siang itu Bi Marni memakai kebaya dan kain panjang sebatas lutut, rambut panjangnya digulung bertutup kain selendang. Wah, pucuk dicinta ini namanya. Setelah motor kuhidupkan, Bi Marni lalu naik dibelakang dengan posisi menyamping.

Jarak ke sawah sekitar 1,5 km melewati jalan tanah yang bergelombang. Ketika lewat jalan berlubang motor agak oleng, tangan kanan Bi Marni reflek melingkari pinggangku sehingga buah dadanya terasa begitu kenyal menempel di punggungku. Akibatnya aura mesum langsung merasuki otakku.

Akhirnya kami sampai juga di tujuan. Hamparan padi terlihat mulai menguning. Setelah motor kuparkir di pinggir jalan, kami lalu berjalan menuju pondok ditengah sawah. Bi Marni berjalan didepanku. Bokongnya bergoyang-goyang membuatku menelan ludah. Kontolku mengeras dibalik celana training. *

Sesampai di pondok kami langsung duduk bersebelahan diatas bale-bale. Bahu kami saling menempel. Mata Bi Marni menatap lurus ke hamparan sawah di depan.
Aku justru melihat ke leher kebayanya, tampak belahan teteknya menyembul dari balik BH hitam berenda. Tangan kananku perlahan kulingkarkan memeluk perut Bi Marni. Tidak ada reaksi apapun dari Bi Marni.

Aku makin merapatkan tubuhku, kemudian daguku kutempelkan dibahu kirinya.
Bi Marni menoleh menatapku, tapi sesaat kemudian kembali memandang kedepan.
Aku mengelus-elus perutnya hingga naik ke bongkahan buah dadanya, bibirku kukecupkan ke lehernya. Bi Marni seperti tersentak kegelian tapi tidak ada tanda-tanda menolakku.

Aku jadi semakin berani. Tangan kiriku kuselipkan dibalik kainnya dan kuelus mulai lutut hingga pangkal paha kirinya. Jariku bersentuhan dengan gundukan daging yang masih ditutupi celana dalam.
Sekarang posisi Bi Marni menyandar ke dadaku. Nafasnya terdengar berat.
Matanya terpejam wajahnya tengadah, hingga aku leluasa menyedot lehernya. Tangan kananku kumasukkan ke belahan teteknya yang masih tertutup kebaya. Kuremas-remas teteknya bergantian kanan dan kiri.
Kain panjang Bi Marni kusibak hingga ke pinggang. Lalu tanganku kumasukkan ke balik cd Bi Marni dan belahan memeknya kuelus dengan ujung jari.
Bi Marni membuka lebar pahanya kesamping, hingga jariku semakin leluasa memainkan itilnya. Jariku terasa lengket dan berlendir.

Kuputar posisi duduknya hingga kami saling berhadapan.
Bi Marni memalingkan wajahnya ketika kebayanya kulepaskan. Dengan tangan gemetar kubuka kait BHnya dan kubaringkan tubuh Bi Marni.
Aku langsung menindihnya. Buah dadanya yang sedikit kendor kusedot dengan penuh nafsu.
"Sshhh....ahhhh...hmmmhh...", Bi Marni mendesah-desah sambil meremas rambutku. Nafas kami berdua menderu beradu dengan desir angin sepoi-sepoi. *
Aku lalu bangkit dan melepas semua pakaianku. Burungku yang sedari tadi sudah mengeras berdiri mengacung.
Kulihat Bi Marni melirik ke senjata pusakaku itu. Kulepas cd Bi Marni dan kugulung kainnya naik hingga perutnya.
Paha Bi Marni mengangkang lebar lututnya ditekuk. Aku bisa melihat dengan jelas memeknya yang tembem berbulu lebat. Lalu aku mengarahkan kontolku ke memek Bi Marni, menekannya perlahan tapi susah sekali masuknya. Kupaksakan, tapi kontolku malah meleset ke perutnya.
Kucoba lagi menggesek kepala kontolku ke belahan memek Bi Marni, hingga terasa menyentuh bagian yang licin dan basah. Aku yakin inilah lubang memeknya, lalu kudorong pinggulku kedepan. Blesssppp...
"Awww...ahhh..!", Bi Marni memekik tertahan, punggungnya melengkung hingga terangkat.
Tangannya mencengkram sisi bale-bale. Secara bersamaan aku juga mendengus. "Hmmh...ahhh..!", kontolku seperti dicengkeram sesuatu yang hangat, lembut, dan basah. Aku mendiamkan sebentar kontolku yang seakan dihisap oleh memek Bi Marni. Rasanya aku seperti sedang bermimpi. Wanita yang selama ini cuma bisa kuintip dan jadi objek onani, akhirnya bisa kesetubuhi. Aku menindih Bi Marni dengan bertumpu pada kedua sikutku.
Aku mulai memaju mundurkan pinggulku. Lubang memek Bi Marni walaupun sudah basah ternyata masih sempit. Sambil menyodok memeknya, mulutku menyedot tetek Bi Rahmi. Lehernya yang mulus pun tak luput kusedot juga.

Karena ini pertama kalinya aku bersetubuh, aku belum bisa mengatur tempo. Baru beberapa menit saja aku sudah merasa ujung kontolku semakin geli. Aku mempercepat sodokanku ke memek Bi Marni. Aku sekarang seperti posisi push-up. "Plak...plak...plak...!", begitu suara yang terdengar ketika selangkangan kami beradu. Tetek Bi Marni terguncang-guncang, kedua tangannya diangkat keatas kepalanya. Pondok sawah itu juga ikut bergoyang.
Gerakanku semakin cepat. Plak...plak..plak...! Lalu aku menekan kontolku dalam-dalam ke memek Bi Marni, dan...Crott..! Crott..! Spermaku muncrat dan tubuhku langsung ambruk menindih Bi Marni.

Kontolku masih menancap dalam memeknya. Nafasku ngos-ngosan, aku baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku benar-benar telah menjadi LAKI-LAKI. Aku seperti terlempar dari dunia mimpi. *

Setelah nafasku teratur, aku mencabut kontolku. Plopp..!bunyi ketika kontolku terlepas, bersamaan dengan itu terlihat cairan putih kental ikut keluar dari memek Bi Marni hingga menetes ke lantai pondok. Bi Marni masih terlentang, sudut matanya terlihat basah oleh air mata. Aku jadi salah tingkah. Aku mau minta maaf atas kelancanganku, tapi kuurungkan niatku.

Kami saling membisu sambil mengenakan pakaian masing-masing.
"Sudah sore Man. Ayo pulang", kata Bi Marni datar. Kami lalu berjalan beriringan kepinggir sawah, aku jalan didepan.
Menjelang sampai ketempat motor diparkir, tiba-tiba Bi Marni mencengkeram lenganku.
"Man..jaga rahasia ini baik-baik ya..!, katanya sambil menatap mataku.
"Iya Bi", jawabku sambil tertunduk. Aku tahu di kampungku hukum adat atas perbuatan kami sangat keras. Kami bisa diarak keliling kampung. Atau malah bisa diusir selama-lamanya. *

Sesampainya dirumah kuserahkan kunci motor ke Rizal yang sedang menjaga warung. Bi Marni langsung masuk kerumah. Kainnya terlihat basah di bagian pantatnya.
"Terima kasih Man", kata Rizal menyambut kunci motor dari tanganku.
"Ya..", jawabku singkat. Didalam hati aku hanya bisa berkata...SAUDARAKU, MAAFKAN AKU YANG TELAH MENYETUBUHI IBUMU...

Peristiwa di pondok sawah itu bukanlah akhir, tapi hanyalah titik awal dari kisah panjang petualanganku di kampungku..

Kisah Dari Bukit Barisan

Pada akhir Januari 2004, aku dan pacarku (Michael) menonton film Lord Of The Ring 3 di sebuah mall besar di Jakarta Barat. Film dimulai sekitar jam 4 sore.

Karena keberuntungan saja, kami dapat tiket pada kursi deretan paling atas (berkat mengantri 5 jam sebelumnya) walau berada di hampir pojok kanan. Film ini sangat digandrungi anak-anak muda saat itu, jadi kami perlu memesannya jauh sebelum film dimulai.

Aku sebenarnya kurang begitu suka film seperti ini namun karena pacarku terus membujuk, akhirnya aku ikut saja. Lagipula aku merasa tidak rugi berada di dalam bioskop selama 3 jam lebih karena memang selama itulah durasi film tersebut.

Setelah duduk di dalam bioskop, kami membuka ‘perbekalan’ kami (berhubung selama 3 jam ke depan kami akan terpaku di depan layar). Aku mengeluarkan popcorn dan minuman yang telah kami beli di luar.


Michael duduk di sebelah kiriku. Dua bangku paling pojok di sebelah kananku masih kosong. Beberapa menit kemudian, trailer film-film sudah mulai diputar. Menjelang film Lord Of The Ring dimulai, seorang pria bersama pacarnya duduk di sebelah kananku. Aku hanya dapat melihatnya samar-samar karena suasana di dalam ruangan itu sangat gelap.

Pria itu duduk tepat di sebelah kananku dan pacarnya di sebelah kanan pria itu. Mereka pun mengeluarkan makanan dan minuman untuk disantap selama film diputar.

Sepuluh menit berlalu setelah film tersebut berjalan. Aku sekilas melihat pria di sebelahku menaruh tangan kirinya di alas lengan di antara kursi kami berdua. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan pacarnya.

Ia mengenakan sebuah cincin dengan hiasan batu cincin besar yang sangat mencolok di jari tengah tangan kirinya. Dan di jari manisnya ia mengenakan sebuah cincin yang sangat sederhana. Menurut analisaku pria ini telah menikah. Selain dari cincin yang kuduga adalah cincin pernikahan, aku juga melihat sekilas wajah pria itu.

Kulitnya lebih hitam dari kulitku yang putih (aku dari keturunan chinese). Dari wajahnya aku memperkirakan umurnya sekitar 35-an. Akan tetapi aku tidak sempat melihat wanita yang datang bersamanya (istrinya?). Pikiranku menduga-duga apakah pria ini sedang berselingkuh dengan wanita lain. Namun segera aku tepis pikiran itu dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa pria itu sedang bersama istrinya dan tidak perlu aku berprasangka buruk terhadap mereka.

Aku kembali berkonsentrasi pada film di layar di hadapanku sambil menikmati kudapan. Sesekali Michael juga meraup popcorn yang kupegangi itu. Michael begitu serius menonton. Memang ia sangat menyukai film yang merupakan akhir dari 2 seri sebelumnya. Setengah jam kemudian, semua makanan dan minuman yang kami beli tadi sudah habis.

Boleh dikatakan film itu sangat tegang. Dengan adegan perang yang sangat seru, mataku mau tidak mau terpaku pada layar. Pada satu adegan yang mengejutkan, aku sampai terlonjak dan berteriak. Michael meraih tangan kiriku dan menggenggamnya dengan lembut. Aku pun semakin mendekatkan diri padanya karena memang pada dasarnya aku takut menonton adegan perang.

Dari ujung mataku, aku merasakan pria di sebelahku memandangi kami (atau aku?). Karena pria itu hanya sebentar saja memandangi kami, aku tak menggubrisnya. Akan tetapi makin lama, pria itu semakin sering dan semakin lama memandangi kami. Aku menyempatkan diri untuk melirik ke arahnya dan benar dugaanku bahwa pria itu memang memandangi kami, atau lebih tepatnya ia memandangi aku.

Walau merasa risih, aku memutuskan untuk mengacuhkan pria itu. Untunglah film itu terus menerus mengetengahkan adegan-adegan yang seru sehingga aku dapat dengan mudah melupakan pria itu.

Film telah berlangsung hampir setengahnya. Michael berkata bahwa ia ingin buang air kecil. Dalam gelap, ia meninggalkanku (kebetulan film bukan sedang adegan yang seru).

Setelah Michael hilang dari pandanganku, tiba-tiba pria itu menepuk lenganku dan berkata, “Sudah baca bukunya?”

Aku terlonjak karena kaget tiba-tiba diajak ngobrol seperti itu di tengah pemutaran film. Seingatku aku tidak pernah berbicara dengan orang asing di dalam bioskop (apalagi saat film sedang berlangsung).

Aku mengira-ngira apa yang dimaksud dengan pertanyaan pria itu. Aku rasa ia menanyakan tentang buku Lord Of The Ring 3. Aku menjawab singkat, “Belum.”


Entah mengapa jantungku jadi berdebar kencang. Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatiku. Campuran antara kaget, curiga, penasaran dan… takut. Dari awal berbicara denganku, pria itu menatap mataku dalam-dalam seperti sedang membaca pikiran dalam benakku.

“Sayang sekali. Baca dulu deh, baru bisa lebih menikmati filmnya,” pria itu menyanggah dengan suara yang dalam namun pelan.

Setelah itu ia kembali menatap ke depan dan meneruskan menonton. Aku ditinggalkan dalam perasaan yang tidak menentu dan agak kosong. Anehnya aku merasa seperti ingin menangis. Pada saat itulah Michael kembali.

Aku tidak menceritakan kejadian aneh itu kepadanya. Mungkin karena aku tidak ingin mengganggu kenikmatannya menonton film itu. Tapi alasan yang lebih menonjol adalah timbulnya rasa takut untuk menceritakannya kepada pacarku saat itu.

Aku berusaha untuk menonton lagi walau pikiranku terus melayang ke sana kemari. Ketika pikiranku berputar-putar tak tentu arah, tiba-tiba aku merasakan ada yang menyentuh pundak kananku.

Awalnya aku mengira Michael yang menyentuhnya. Tetapi setelah kuperhatikan, ia sama sekali tidak bergerak (ia masih serius memperhatikan layar bioskop).

Aku melihat ke belakangku. Tidak ada apa-apa karena memang kami duduk di baris paling belakang. Aku melihat ke sebelah kananku dan mendapati pria itu sedang menonton dengan asik bersama istrinya.

Setelah lelah mencari-cari, aku kembali menonton. Dalam hati aku masih mencari-cari apa yang menyentuh pundakku itu. Tadi aku benar-benar merasakan sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku yakin benar. Namun aku jadi bingung karena tidak melihat adanya orang lain di sekitarku yang mungkin melakukannya.

Kepalaku menjadi pusing dan berputar. Aku merasa mual dan tidak enak badan. Aku menutup mataku untuk menenangkan pikiranku. Beberapa detik kemudian, aku merasakan diriku seperti sedang mengapung di air yang sejuk dan tenang. Semua perasaan tak enak tadi sekonyong-konyong lenyap begitu saja dan digantikan dengan perasaan nyaman dan santai.

Mataku masih terpejam pada saat aku kembali merasakan sebuah tangan menjamah pundak kananku. Aku berusaha untuk tetap tenang. Aku melirik ke pria di kananku. Ia duduk berdempetan dengan istrinya. Pria itu sedang merangkul pundak istrinya.

Kecurigaanku padanya langsung hilang begitu mengetahui ia tidak sedang berada dekat dengan tubuhku. Aku menengok ke Michael dan juga mendapati ia sedang asyik menonton. Dengan adanya perasaan sebuah tangan sedang merangkul pundakku, aku meneruskan menonton sambil mencoba untuk tidak memikirkan hal itu. Usahaku sia-sia.

‘Tangan’ di pundak kananku bergerak-gerak ke atas dan ke bawah seperti sedang mengusap-usap lembut tubuhku. Kemudian aku merasakan ada angin hangat berhembus perlahan meniup bagian kiri leherku.

Aku langsung menengok ke arah datangnya angin itu. Tidak ada apa-apa. Michael sedang duduk melipat tangan di depan dadanya sambil bersilang kaki.

Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku merasakan leherku dijilat. Ya, aku benar-benar merasakan sebuah lidah yang hangat dan basah menyapu leherku itu. Bulu kudukku spontan meremang.

Langsung aku menengok lagi sambil mengusap leherku pada bekas jilatan itu. Kering. Tidak basah sama sekali. Dan tidak ada apa-apa di sampingku.

Michael rupanya agak terganggu dengan kegelisahanku. Dia menanyakan ada apa. Aku tidak memberitahukannya. Aku menyuruhnya untuk kembali menonton.

Michael kembali menonton. Ia menggenggam tangan kiriku dan mendekatkan tubuhnya sehingga lengan kanannya menempel dengan lengan kiriku. Aku masih merasakan pundak kananku dirangkul oleh ‘tangan’ yang tak nampak.

Dalam posisi yang lebih dekat dengan pacarku, aku bisa menjadi lebih tenang. Namun perasaan tenang itu hanya sebentar.

Kuping kiriku dikecup dengan lembut. Aku menengok ke kiri. Tetap saja tidak ada apa-apa selain Michael yang sedang menatap serius layar di depan.

Aku mulai panik. Jangan-jangan ada mahluk halus di dalam bioskop itu, pikirku. Aku merasakan kembali kecupan itu. Mulai dari telingaku lalu bergerak ke bagian belakangnya.

Pada saat kecupan itu menghampiri belakang telingaku, darahku mendesir dengan kuat. Jantungku berdebar. Hanya Michael (dan diriku tentunya) yang tahu bahwa belakang telinga merupakan titik erogenku (erogen = daerah pada tubuh yang sensitif terhadap rangsangan sexual).

Aku melepaskan nafas yang panjang melalui mulutku sambil mengubah posisi duduk. Michael melihat perubahan pada diriku. Tentu ia mengira aku bosan karena setelah itu ia mengusap-usap tanganku yang digenggamnya.

Entah apa yang sedang terjadi pada diriku. Hanya karena Michael mengusap-usapkan jari-jarinya di tanganku, aku menjadi terangsang. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Walau kami sudah berpacaran lebih dari setahun, aku tidak pernah berbuat jauh selama berpacaran dengan Michael. Tidak pernah melebihi ciuman di kening, pipi dan bibir. Aku tahu sebenarnya diriku tergolong gadis yang tidak tertarik akan hal-hal yang berbau sex, boleh dibilang: frigid.

Baru akhir-akhir ini saja aku mulai melayani Michael dengan tanganku. Pertama kali memegang penisnya, aku merasa risih dan agak jijik. Namun setelah melakukannya dua atau tiga kali, aku dapat mengatasi perasaan tersebut.

Hal yang paling menarik dalam memberi Michael ‘hand-job’ adalah pada saat dirinya berejakulasi. Melihat dirinya mengejang-ngejang sangatlah menarik dan sexy. Juga sebelumnya aku tidak pernah membayangkan seorang pria dapat menyemprotkan cairan seperti itu.

Michael pernah memintaku untuk menghisap kemaluannya. Tentu saja aku tolak. Dan untunglah sampai saat ini ia tidak pernah memintanya lagi.

Michael juga tidak pernah menjamah tubuhku. Sentuhan-sentuhannya paling hanya berkisar pada lengan dan wajahku. Aku tidak akan mengijinkannya menjamah dadaku terlebih lagi kemaluanku, dan ia tahu itu. Aku takut kami tidak dapat mengendalikan diri sehingga akhirnya kami kebobolan. Aku ingin agar hubungan sex kami dilakukan pada malam pertama yang sakral. Singkat kata, kami menerapkan sistem berpacaran yang ketat dan konservatif. Sampai saat ini aku masih perawan dan begitu pula Michael (setidaknya ia mengaku demikian). Michael merupakan pacar pertamaku sedangkan Michael sebelumnya sudah pernah satu kali berpacaran. Jadi saat itu adalah pertama kalinya aku mendapatkan ‘kecupan’ di belakang kuping. Michael pernah menyentuhnya dengan ujung jarinya dan itu saja sudah membuatku berdebar.

Aku tidak dapat berpikir banyak. Biasanya aku dapat mengatasi dorongan sexualku namun saat itu aku seakan jatuh ke dalam aliran sungai birahi yang deras dan hanyut terbawa arusnya.

Jantungku serasa akan mau copot pada saat kecupan itu bergerak turun ke leherku. Aku mengerang sedikit karena saat sadar apa yang kuperbuat, aku segera menghentikan eranganku. Michael tidak mendengar eranganku tadi.

Aku menoleh ke kanan untuk melihat apakah pria itu mendengar eranganku tadi. Rupanya pria itu sedang mencumbu istrinya. Bagus, pikirku. Dengan demikian ia tidak akan melihat atau mendengarkan diriku.

Sebenarnya aku agak risih berada di samping pria yang sedang mencumbu istrinya itu. Walau demikian aku mencuri-curi pandang ke arah pria itu untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Lewat ujung mataku, diam-diam aku memperhatikan sepasang insan yang sedang bercumbu itu.

Pria itu sedang menciumi leher istrinya. Tangan kanannya dirangkulkannya ke pundak istrinya. Istrinya terlihat sangat menikmati.

Saat tangan kiri pria itu memegang lengan kiri istrinya, aku juga merasakan ada sebuah tangan menyentuh bagian atas lengan kiriku. Aku kaget memikirkan kemungkinan yang terjadi saat itu. Tangan kiri pria itu menggenggam erat lengan kanan istrinya. Genggaman pada lengan kananku juga bertambah. Kecurigaanku semakin kuat.

Entah bagaimana, semua perbuatan pria itu pada istrinya juga dirasakan oleh tubuhku. Aku sangat takut. Memikirkan kemungkinan yang dapat terjadi kemudian, jantungku seperti berhenti berdetak.

Perasaan pusing dan berputar itu kembali muncul seiring dengan usahaku untuk ‘membebaskan diri’. Semakin aku berusaha, kepalaku semakin sakit.

Akhirnya aku menyerah dan tidak memberikan perlawanan lagi. Aku membiarkan semua ‘perasaan’ yang muncul saat itu.

Pria itu menarik wajah istrinya mendekat lalu memagut bibirnya. Pagutan mulut pria itu pada istrinya terasa jelas pada bibir mulutku. Setiap sentuhan, tekanan serta usapan bibir dan lidah pria itu semua kurasakan pada bibir dan mulutku. Aku menutup mulutku rapat-rapat namun masih saja merasakan pagutan yang kian memanas.

Aku tahu lidah pria itu sedang bermain-main dengan lidah istrinya karena lidahku pun merasakan sensasi itu. Mendapati diriku menikmati semua itu membuat malu diriku. Aku belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini pada saat berciuman dengan Michael.

Setelah pria itu melepaskan mulutnya dari bibir istrinya, wanita itu tampak terengah-engah. Sialnya, aku pun mengalami hal yang sama. Dadaku naik turun terengah-engah, seperti baru selesai berlari.

Untunglah sampai saat itu, baik pria itu maupun Michael tidak memperhatikan diriku. Lalu pemikiran itu muncul. Jangan-jangan pria di sebelahku itu memang sedang mengguna-gunai aku dengan pelet, hipnotis, guna-guna atau hal-hal lain yang sejenisnya. Jika benar demikian, berarti seharusnya ia tahu apa yang sedang terjadi pada diriku.

Aku teringat perkataan pendetaku di gereja, bahwa orang beriman tidak bisa kena guna-guna atau pelet. Hatiku mencelos. Sudah sekian lama aku tidak beribadah kepada Tuhan. Seharusnya dua minggu lalu, aku menerima ajakan temanku untuk ke gereja bersamanya. Namun aku malah pergi bersenang-senang ke mall.

Penyesalanku menguap dengan cepat pada saat aku merasakan payudaraku ‘dijamah’. Jamahan itu tidak terlalu terasa. Aku melirik ke kanan. Pria itu sedang menggerayangi dada istrinya.

Untungnya aku tidak terlalu merasakan apa-apa pada saat itu. Belum pernah aku disentuh oleh orang lain pada daerah dadaku. Boleh dikatakan saat itu merupakan pertama kalinya aku merasakan sentuhan (walau secara tak langsung) pada payudaraku. Dan rupanya tidak senikmat seperti yang kudengar dari omongan orang.

Akan tetapi aku harus segera meralat pendapatku itu. Pria itu memasukkan tangannya ke dalam kemeja istrinya. Tangannya hilang di balik kemeja tersebut sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.

Detik berikutnya sungguh membuatku melambung tinggi. Aku merasakan dengan sangat jelas, jari-jari pria itu memuntir lembut puting susu istrinya. Aku memejamkan mataku sambil mengatur nafasku yang mulai tak teratur karena secara tak langsung aku pun merasakan jemari pria itu menari-nari pada payudara dan puting susuku.

Sejenak aku merasa jijik pada pria itu tetapi setelah beberapa saat perasaan yang tinggal hanyalah birahi semata. Selama ini aku mengira bahwa aku tidak akan pernah menikmati hal-hal sexual seperti ini. Sekarang aku merasakan yang sebaliknya.

Pilinan jari-jari pria itu membuat darahku lebih menggelegak dibanding sensasi dari ciuman di belakang telingaku. Aku tidak pernah menyadari bahwa payudaraku (terutama putingnya) sangat sensitif. Sejak saat itu aku baru tahu bahwa daerah payudara juga merupakan titik erogen pada tubuhku.

Belum sempat aku mengikuti pacu detak jantungku, aku merasakan pria itu menyentuh bagian dalam paha istrinya. Kemudian pria itu mengusap kemaluan istrinya. Usapannya terasa seperti terhalang sesuatu (yang akhirnya kutahu bahwa ia mengusap kemaluan istrinya yang masih tertutup celana dalam).

Aku membuka mataku dan menoleh sedikit ke arah pria itu untuk melihat apa yang sedang dilakukannya. Dengan tangan kanannya, ia memain-mainkan payudara istrinya dan tangan kirinya merogoh selangkangan istrinya. Saat itulah aku dapat dengan lebih jelas melihat istrinya.

Wanita itu sangat cantik (jauh lebih cantik dariku). Bila ia mengaku dirinya artis dengan mudah aku akan percaya. Kulitnya sedikit lebih putih dibanding suaminya namun masih lebih gelap dari kulitku. Rambutnya panjang agak ikal. Dari wajahnya ia terlihat begitu menikmati sentuhan-sentuhan suaminya (yang secara tak langsung juga kunikmati). Ia mengenakan kemeja yang sudah terbuka kancing-kancingnya dan memakai rok pendek.

Kemudian dari balik celana jeans yang kukenakan saat itu, aku merasakan sebuah jari (yang sangat panjang) mengusap sekujur bibir kemaluanku. Usapan itu terasa begitu panjang dan lama. Aku sempat menggigil karena terjangan sensasi yang menghambur dari selangkanganku menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh.

Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri dan berlari meninggalkan bioskop itu. Aku tidak mengatakan apa-apa pada Michael. Lagipula ia sedang asik menonton (waktu itu sedang adegan perang yang terakhir).

Aku melompati dua anak tangga sekaligus untuk keluar dari ruangan itu. Aku bergegas menuju WC berharap semua sensasi pada tubuhku dapat hilang seiring dengan menjauhnya diriku dengan pria itu. Dugaanku salah.

Sepanjang jalan menuju WC, aku terus merasakan pria itu mengoles-oles jarinya di sepanjang bibir kemaluan istrinya. Sedikit demi sedikit jarinya semakin masuk lebih dalam. Cukup sudah, pikirku. Hentikan! Aku tak tahan lagi terhadap gemuruh birahi dalam tubuhku.

Aku merasa liang kewanitaanku menjadi agak basah. Aku hampir tidak pernah ‘basah’ di bawah sana bahkan pada saat sedang berciuman dengan Michael. Paling sesekali aku menjadi ‘basah’ pada saat sedang memberikan ‘hand-job’ pada Michael.

Pintu WC kubuka dan aku lega karena tidak ada orang di dalamnya. Aku masuk ke salah satu ruang toilet dan segera menguncinya. Pada saat itulah aku tersentak karena kaget dan sedikit sakit. Pria itu memasukkan jarinya ke dalam vagina istrinya. Aku merasa jari itu begitu besar dan panjang seakan menyentuh ujung rahimku. Untuk sesaat jari itu tidak bergerak di dalam vagina istrinya. Bukan hanya jari itu yang tidak bergerak, tubuhku juga tidak bergerak karena shock.

Aku merasakan jari pria itu jelas-jelas menembus liang kewanitaanku yang berarti selaput daraku sudah sobek. Setelah dapat menguasai diriku kembali, aku segera membuka celana jeansku untuk melihat apakah ada darah yang keluar dari kemaluanku. Tidak ada. Tidak ada bercak merah pada celana dalamku. Yang ada hanya cairan bening (agak putih) yang keluar dari kemaluanku sebagai pelumas.

Tak lama setelah itu, secara perlahan ia menggerak-gerakkan ujung jarinya seperti sedang mengorek-ngorek. Kakiku menjadi lemas seakan berubah menjadi agar-agar. Aku segera duduk di closet untuk menenangkan diri.

Nafasku semakin memburu. Desahan demi desahan keluar dari mulutku seiring dengan gerakan ujung jari itu. Seluruh tubuhku terasa panas dan gerah.

Gerakan jari pria itu sekarang berubah menjadi gerakan maju dan mundur. Gerakannya sangat pelan namun sensasi gesekan kulit jari pria yang besar itu terasa begitu jelas pada dinding vaginaku. Seakan jari pria itu benar-benar maju mundur dalam diriku.

Bersamaan dengan itu, aku mendengar pintu WC dibuka dan terdengar seseorang masuk. Aku menutup kuat-kuat mulutku sendiri dengan kedua tanganku. Aku tidak ingin orang lain mendengar aku mendesah-desah di dalam toilet.

Sulit sekali menghiraukan rangsangan yang begitu hebat yang melanda tubuhku saat itu. Aku berkali-kali harus menggigit bibir bawahku agar tidak bersuara.

Pria itu sedikit mempercepat gerakan jarinya namun semakin lama hujaman jarinya itu terasa semakin mendalam. Pintu WC kembali dibuka. Aku masih menekap mulutku dengan kedua tanganku sambil mendengar apakah benar orang yang tadi masuk sudah keluar (atau jangan-jangan ada orang lain lagi yang masuk ke WC).

Setelah memastikan tidak ada orang lain di dalam WC, aku melepaskan kedua tanganku dari atas mulutku dan kembali ‘bersuara’. Rupanya pria itu sudah tidak memain-mainkan payudara istrinya karena aku baru saja merasakan tangan yang satunya memilin klitoris istrinya. Saat itu pula aku mengerang keras (aku tak peduli lagi apakah ada yang mendengar).

Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Aku bergetar karena terangsang dan juga malu karena menikmati semua itu. Jika aku tidak berkeinginan kuat untuk memegang komitmen menjaga keperawananku sampai menikah, aku benar-benar ingin mencoba berhubungan sex dengan Michael setelah ini.

Pria itu menghujamkan jarinya dalam-dalam dan diam tidak bergerak. Lalu ujung jarinya bergetar-getar kecil. Wow, aku benar-benar dibawa melambung semakin tinggi. Lalu seperti tiba-tiba, pria itu mengeluarkan jarinya. Dalam hatiku berkecamuk perasaan antara lega dan kesal karena semua itu kelihatannya sudah berakhir.

Aku terdiam. Dorongan sexual masih berkobar dalam diriku. Namun aku terus berusaha untuk menurunkan tekanan dalam diriku itu. Lima menit aku seperti terkulai lemas tak berdaya duduk di closet sambil mengejap-ngejapkan mataku dan mengatur nafasku yang menderu-deru.

Pada saat aku masuk ke bioskop kembali ke tempat dudukku, aku hampir tak berani menatap pria itu. Dari ujung mataku aku merasa ia memandangi aku dengan senyum penuh kemenangan. Segera aku duduk dan memeluk lengan pacarku.

Dua puluh menit kemudian film berakhir. Aku mengajak Michael untuk segera meninggalkan ruangan itu sehingga tidak perlu bertatapan dengan pria di sebelahku. Michael menurut saja.

Akhirnya kami bergabung dengan gerombolan orang-orang yang berdesakan ingin segera keluar dari bioskop. Pria itu dan istrinya tidak beranjak dari tempat duduknya. Betapa leganya aku mengetahui semuanya itu sudah berakhir.

Namun sekali lagi aku salah. Setelah keluar dari ruangan itu, kami tidak langsung pulang (walau sudah malam). Kami berjalan-jalan di mall. Kebetulan aku hendak membeli kemeja untuk kerja (maklum aku baru kerja satu bulan).

Sekitar satu jam setelah keluar dari bioskop, selagi kami berjalan-jalan di R*** (departemen store), tiba-tiba aku mulai merasakan sensasi seperti tadi di dalam bioskop. Payudaraku terasa seperti diremas-remas. Kali ini remasan itu terasa pada kedua payudaraku.

Hatiku mencelos dan berpikir jangan-jangan pria itu kembali bercumbu dengan istrinya. Namun kali ini ia melakukannya tanpa ‘foreplay’ terlebih dahulu.

Hanya selang beberapa menit aku kembali dikuasai oleh birahiku yang meletup-letup. Michael yang kugandeng sedari tadi belum menyadari perubahan pada diriku.

Namun pada saat aku merasakan jari pria itu menyentuh kemaluan istrinya, aku terdiam dan berdiri tegang. Michael tersentak karena aku berhenti secara tiba-tiba. Ia menanyakan ada apa. Aku belum bisa menjawabnya. Mulutku kelu dan hatiku berdebar keras. Aku hanya dapat berharap ia tidak mendengar dentum jantungku.

Sepuluh detik kemudian aku memberi alasan bahwa aku teringat akan suatu hal namun sudah lupa lagi saat itu. Michael tampaknya mempercayainya.

Jari pria itu secara perlahan membuka mulut bibir vagina istrinya, aku dapat merasakan tiap sentuhannya. Dengan sangat amat perlahan jari itu menembus masuk ke dalam liang kewanitaannya. Aku harus berpegangan erat pada rak (tempat digelarnya baju-baju obral) agar tidak jatuh. Michael masih tidak memperhatikanku.

Jari itu terasa begitu besar bahkan terasa lebih sakit dari saat jarinya pertama kali menembus vaginanya tadi di bioskop. Tiba-tiba aku baru menyadari bahwa yang masuk ke dalam liang kewanitaannya itu bukanlah jari melainkan penis.

Memikirkan hal itu membuat jantungku seperti dihempas dari atas gedung lantai 10. Seperti inikah rasanya bila penis seorang pria menerobos masuk ke dalam diriku. Sakit. Otot-otot vaginaku terasa seperti akan robek.

Detik-detik berikutnya sama sekali tidak dapat kuduga bahwa ada sensasi yang begitu nikmat dalam hidup. Pria itu menggerak-gerakkan penisnya maju mundur. Bersamaan dengan itu, ia memain-mainkan klitoris istrinya.

Serta merta lututku langsung terasa hampa dan aku terpuruk jatuh ke lantai seperti boneka tali yang diputuskan tali penyangganya. Michael panik melihat diriku yang terjatuh itu, namun tidak sepanik diriku. Beberapa orang di sekitar kami, memandangi aku dengan pandangan bingung.

Aku berusaha bangun tapi sensasi kenikmatan itu terus menghantam diriku bertubi-tubi sehingga semua usahaku sia-sia. Rasa takut dan malu mulai menyelimuti hatiku. Jangan sampai orang-orang itu tahu apa yang sedang terjadi. Oh Tuhan, apa yang sedang terjadi pada diriku, aku membatin.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku mulai berdoa, meminta ampun pada Tuhan dan mohon pertolonganNya. Sekejap mata semua sensasi itu lenyap musnah.

Michael sudah berhasil memapah aku untuk berdiri. Aku juga sudah dapat menguasai diri lagi. Sebelum sempat ia bertanya, aku memberi alasan bahwa aku kurang enak badan dan minta segera diantar pulang.

Sesampai di rumah Michael kusuruh segera pulang (karena sudah larut malam). Aku segera masuk ke dalam kamar dan bersiap tidur. Aku kembali memikirkan apa yang terjadi tadi. Malam itu aku mendapat pengalaman yang benar-benar tak dapat kulupakan.

Aku tahu aku masih perawan (secara fisik) namun secara batiniah aku merasa keperawananku telah direnggut oleh pria itu. Walaupun begitu aku bersyukur tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk tadi. Aku juga berjanji untuk lebih mempertebal imanku sehingga tidak mudah diguna-guna oleh orang lain.

Anehnya terlintas sekelebat di benakku agar dapat merasakan kembali apa yang telah aku rasakan di mall tadi. Apa ruginya, pikirku. Selaput daraku masih utuh namun aku dapat merasakan nikmatnya berhubungan sex dengan pria. Namun mengingat janjiku kepada Tuhan barusan, aku membuang jauh-jauh pikiran itu.

Sekarang aku tidak lagi menilai diriku sebagai wanita frigid. Aku merasa nyaman dengan sexualitas diriku dan kini aku lebih terbuka akan hal-hal yang berbau sex. Tetapi aku tetap saja menerapkan sistem berpacaran yang ketat dan konvensional pada Michael, pacarku.

Sampai saat ini pun, aku tidak menceritakan pengalamanku itu kepada Michael. Ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan tak diucapkan, menurutku.

Sensasi Baru Dalam Bioskop

Pagi ini aku tidak bisa memakai mobil, karena adikku meminjam untuk acara sekolahnya. Aku jadi kalang kabut, mengingat janjiku sama Evi kemarin. Mana mungkin ke puncak dengannya naik bis? Kalau tak ditepati, Evi pasti melapor pada Indah. Aku pusing tujuh keliling. Aku mampir ke warung di depan rumah untuk membeli rokok. Aku terdiam sambil merokok di depan warung. Tak berapa lama, Randy kawan adikku datang menghampiriku dengan motor ninja RR nya, dan menanyakan adikku. Aku mengatakan ia telah pergi dari jam 6 pagi tadi.

“Kak, aku titip motor di rumah boleh ya. Biar aku susul Randy ke sekolah naik taxi. Soalnya kalau motor ditinggal di sekolah nggak ada yang jaga, hari ini kan semuanya study tour ke Bandung”, sahut Randy kalem.


Mendengar itu, akupun mendapat ide cemerlang. Namun, apakah enak ke puncak dengan Evi naik motor? Daripada nggak jadi samasekali dan Evi ngadu dengan Indah, kayaknya ide ini perlu dicoba. Akhirnya aku memberanikan diri untuk meminjam motor dari Randy.

“Ya udah kak, pake aja motorku, aku ambilnya besok siang aja ya”, sahut Randy

Setelah menghubungi Evi via handphone, akhirnya aku berangkat ke sekolahan Evi di sekitaran melawai.

“kok naik motor kak”, sahut Evi.

Akupun menjelaskan semuanya, dan Evi memahaminya. Namun Evi minta dibelikan jaket terlebih dahulu, hingga akhirnya kami mengendarai motor kea rah Plaza Senayan. Jam menunjukkan pukul 8.30 WIB, dan Plaza Senayan belum dibuka. Akhirnya kami memarkir motor dan Evi pun menelpon mamanya untuk memberitahukan ia akan pulang malam untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah Sheila kawannya. Setelah itu kami mengobrol layaknya sepasang suami istri yang kasmaran. Bahkan sesekali Evi mengelus elus kontolku. Tak terasa, jam sudah menunjukkan jam 10.00 WIB, akhirnya kami segera masuk ke Metro dept. store di lantai tiga .

“Kak, yang ini aja ya. Harganya juga nggak terlalu mahal kok” ujar Evi. Kemudian ia membawanya kekamar ganti.

“Kak, liat sini dong”, teriaknya memanggilku kekamar ganti. Evipun menarikku masuk ke kamar ganti, lalu memaksaku meremas teteknya, dan tangan kanannya meremas kontolku yang telah mengeras dibalik jelana jeansku. Evi menciumiku seperti orang kesetanan. Mulai bibirku, pipiku, kupingku terus sampai ke leherku diciumi oleh Evi dengan membabi buta. Aku pasrah saja melihatnya, namun aku menikmatinya.

“maaf, disini dilarang melakukan hal asusila” ujar SPG sambil menyibakkan tirai kamar ganti. Kamipun bergegas ke kasir untuk membayar diiringi dengan senyuman mesem para SPG.

“Aku ke toilet dulu ya kak, mau ganti celana jeans dan pakai jaket. Oh ya, celana dalam kakak dilepas dong”, bisik Evi di telingaku.

Aku menjadi heran sendiri dengan Evi. Kenapa ia memintaku melepaskan celana dalam? Mengapa ia sebuas ini? Inikah Evi kecil itu? Apa yang merasukinya? Ahhh pusing, pikirku. Akupun ke toilet untuk melepaskan celana dalamku, kemudian bergegas keluar menunggu Evi. 10 menit kemudian Evi keluar dari toilet. Aku terpana melihat penampilan Evi siang itu. Pantatnya yang menyembul dibalik celana jeansnya. Teteknya yang mini dibiarkan menyembul tanpa BH dan memperlihatkan putingnya yang tertarik kaos ketatnya. Evi menggandeng tanganku dan kamipun berjalan ke parkiran dan melajukan motor ke arah Bogor lewat Depok.
Ketika melintasi jalur parung yang sepi, Evi mulai membelai belai kontolku yang masih terbungkus celana jeans. Evi membuka retsletingku, menutupi tangannya yang sedang memegang kontolku dengan tas sekolahnya, kemudian mengocok ngocokkan kontolku dengan lembut dan membisikkan suaranya yang mendesah desah di telingaku.

“kak, keluarin dong yang pertama diatas motor untuk Evi. Evi kan lebih hebat dari kak Indah dan Inem. Mmmmm ….ayo dong kakkk……” ujar Evi terbata bata.

Akupun membagi konsentrasi antara menikmati kocokan lembut Evi dan mengendarai motor yang kupacu 50 km/jam saja.

“ayo dong sayang, keluarin untuk Evi”, sahutnya lagi mendesah berulangkali seperti orang yang kesurupan.

“Ahhh ….. enak sayangg…..”, sahutku! Crooottttt……Pejuku keluar hingga tumpah membasahi speedometer. Lalu Evi memintaku menepi sejenak di tepi jalan yang sepi dan berbatasan dengan hijaunya persawahan. Evi turun dari motor, tanpa malu dan takut takut, ia pun memintaku langsung turun dari motor kemudian menarik tanganku kebelakang pohon besar di tepi jalan itu. Kemudian ia langsung jongkok, dan menghisap kontolku yang basah. Walau hanya 2 menit, sensani yang dibuat Evi membuat kenikmatan yang terkira untukku. Aku mencium keningnya sebagai ucapan terima kasih, lalu beranjak kemotor sambil melap maniku di speedo meter dengan jariku. Ketika aku ingin membuangnya, Evi menarik tanganku dan menjilati jariku tersebut. Ah, gila bener anak ini pikirku, namun aku senang sekali.
Pukul 15.00 WIB kami tiba di vila keluarga Evi di Megamendung. Setelah berbasa basi, menyogok dan mengencam mang Danu penjaga vila supaya tidak memberitahukan kedatangan kami, akhirnya kami masuk ke vila. Sesampainya di dalam, Evi langsung mengajakku mandi air hangat. Setelah mandi, kamipun beristirahat di kamar Evi hingga tertidur selama 1 jam.

“ahhhh…..ahhh …mmmmm” kudengar suara itu samar samar.

Dan aku merasakan geli dibagian kontolku. Rupanya Evi sedang menjilati sambil mengocoki kontolku. Yang lebih hebat, Evi melumuri kontolku dengan coklat. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati ulah adik pacarku ini. Kontolku yang semakin mengeras dan mengacung langsung ditidurkan oleh Evi yang menindih tubuhku sambil menggesek gesekan memeknya di kontolku.

“kak, Evi sudah keluar 2 kali nih. Evi masih mau terus kak” ujar Evi sambil menciumi tetekku yang berbulu.

Akupun mulai terbangun sepenuhnya, dan mendorong tubuh Evi hingga berdiri. Aku menjilati pantat Evi dari belakang, hingga kemudian kumasukkan tanganku ke lubang pantatnya.

“Aduh, sakit kakak” jerit Evi.

“Aku kan masih perawan kak, masukin aja burungnya kakak disini”, sambil menunjuk memeknya yang mini itu,

“Hah, jadi kamu belum pernah ya Vi” tanyaku kaget.

“Udah deh kak, ayo dong”, sahut Evi manja sambil menjilati tetekku.

Aku pun mencium Evi dengan lembut mulai dari mata, hidung, telinga, hingga kami berciuman dengan hebatnya sambil tanganku meremas remas pantatnya.

“Kak, masukin Evi dong. Evi udah nggak kuat nih” rintihnya memohon.

Kutidurkan tubuh Evi dengan lembut. Kucium bibirnya yang ranum. Kujilati teteknya bergantian dan sesekali kusedot hingga membuatnya meringis kegelian. Lalu kujilati pusernya, hingga akhirnya memeknya yang masih mini itu kujilati.

“Ayo kak, masukin dong” sahut Evi memelas sekali lagi.

Akupun mengarahkan kontolku kemukanya, lalu memintanya menjilatinya sejenak. Kemudia kugesek gesekkan kontolku di memeknya dan mulai memasukkannya dengan perlahan.

“aduh kak, sakittttt….” Jerit Evi!

“Sabar sayang, kakak masukinnya pelan pelan ya” sahutku sambil memaksa masuk kontolku di lobang memeknya yang sangat sempit itu. Ah, sungguh menggemaskan memek adik pacarku ini. Tubuhnya yang putih, mukanyanya yang imut, rambutnya yang panjang dan lurus terurai, bibirnya yang berwarna pink, tetek mungilnya yang mancung, kakinya yang jenjang, gayanya yang manja, nafsunya yang membara….dan sekarang aku mendapatkan keperawanannya pula. Ahhhhh ….. Evi, aku sayang kamu dik.

“Aaaakkkkhhhhh……” teriak Evi kesakitan.

“Arrrrrggghhhhh …..” teriakku kenikmatan.

Kontolku telah masuk 1/2 di memek Evi. Dengan perlahan lahan aku terus menembusnya dengan mendorongnya secara perlahan lahan. Darahpun mengalir dari memek Evi ketika kontolku masuk ¾ dimemeknya. Aku terkagum kagum memandangi darah perawan Evi yang mengalir.

“Terima kasih Evi. Aku sayang kamu”, kataku lembut sambil terus mengeluar masukkan kontolku hingga amblas sepenuhnya di memek Evi.

“Sekarang udah enak kak. Ayo lagi kak. Yang lembut sayang” ujar Evi terbata bata sambil menetekan airmata.

“Iya sayang” sahutku sambil terus mendulang kenikmatan dengannya. Tangan kananku terus meraba raba perutnya yang langsing terawat.

“ahhhh …. Aku sudah mau keluar kak, sedikit lebih cepat dong kak” ujar Evi memohon.

Evi pun menarik tangannku, menjambak rambutku, menciumiku membabi buta, lalu berteriak kenikmatan.

“ahhhhh kak……enaaakkkkk…….jangan dicabut dulu sayang” sahut Evi.

Akupun terus memutar mutar kontolku, mendorongnya, menariknya hingga membuat Evi menarik selimut di tempat tidur. Evi terkulai lemas, kemudian kucabut kontolku dengan perlahan. Kontolku masih keras dan mengacung, karena aku belum keluar.

Evi melirik kontolku, lalu menarik tanganku dan mengucapkan terima kasih sambil berbisik: “sabar sebentar ya kak, Evi masih capek” katanya dengan nada lemah.

Aku masih mengocok kontolku dengan lembut. Akupun heran, kenapa aku belum keluar di lobang perawan senikmat ini? Mungkin karena aku telah keluar pertama kali saat diatas motor tadi, dan biasanya keluar yang kedua ini menjadi lebih lama. Aku tetap terangsang saat memandangi darah yang tertumpah di sprei tempat tidur. Evi berdiri menghampiriku, mengangkat kaki kanannya ke sisi tempat tidur, menarik kontolku yang masih mengacung, dan kembali memasukkannya dalam posisi berdiri.

“Ayo kak, masukin lagi” kata Evi

Akupun menggendong Evi dengan perlahan kearah lemari yang berdempetan dengan tempat tidur, namun tak kulepaskan kontolku yang telah menancap setengah di memeknya.
Kudorong Evi, kuciumi bibirnya, kumasukkan kontolku sepenuhnya, mengeluarkannya setengah, memasukkannya kembali, memutarnya, hingga akhirnya kupacu dengan cepat hingga membuat Evi mendesah desah kenikmatan sepertiku.

“kak…ayo terus kak…..enak…..enak ahhhhh…kakak hebatttt……ahhhhh” ujar Evi setengah berteriak.

Aku terus memacu kontolku keluar masuk hingga merasakan memeknya Evi yang telah basah sekali. Kuremas teteknya, kucupang lehernya kiri dan kanan, kujambak rambutnya lalu kucium, bahkan kugigit bibir pinknya dengan lembut hingga membuat Evi menjerit.
“ahhhhh……Evi…..aku mau keluar sayang……” sahutku lantang.

Walaupun dalam kenikmatan yang luar biasa, aku masih ingat bahayanya jika kumuntahkan maniku didalam, hingga akhirnya kucabut kontolku, kemudian kuminta Evi menungging membelakangiku, dan tanpa permisi langsung kuludahi pantat Evi, dan kuhujamkan kontolku dipantatnya yang juga masih perawan. Evi menjerit kesakitan sampai menangis dan berusaha meronta ronta, namun aku terus memegangi tubuhnya dan menghujamkan kontolku hingga masuk sepenuhnya di pantat Evi.

“kakakkkkkkk….sakitttttt” teriak Evi sambil menangis!

Namun aku tetap memasukkannya, mengeluarkannya dan sesekali meremas pantas Evi yang montok. Tak sampai 3 menit aku memuntahkan maniku di pantat Evi, hingga keluar membasahi pantatnya. Setelah kucabut, aku meminta Evi menjilati dan menghisapnya. Evi pun menurutinya sambil melirikku dengan mata nakalnya. Setelah membersihkan kontolku dengan mulutnya yang imut itu, Evi balas menggigit perutku hingga terluka sedikit.

“biar tau rasa” sahut Evi sambil berdiri dan menciumiku.

Wah, untunglah Evi tak marah pikirku. Luar biasa sekali hari ini. Akhirnya kami berdua tertidur pulas tanpa membersihkan badan terlebih dahulu.
Tiba tiba aku terbangun dan langsung melihat jam yang telah menunjukkan pukul 19.30 WIB. Aku segera membangunkan Evi. Herannya, Evi bukan bergegas mandi, namun justru meraih kontolku dan menghisapnya. Kali ini Evi memintaku diam saja di tempat tidur. Evi menjilati dan menghisap kontolku sesukanya, bahkan sesekali menciumi tetekku. Evi terus melakukan aksinya, hingga akhirnya air maniku keluar sedikit membasahi kontolku. Evi menggesek gesekkan kontolku di pipinya, kemudian mengajakku mandi.
Ketika menyabuni tubuhnya, Evi pun kembali mengocokkan kontolku dengan sabun. Kali ini Evi tidak memintaku memasukkan kontolku dimemeknya, namun ia segera duduk di toilet, membuka memeknya, dan memintaku menjilatinya dari ujung jempol kakinya.
Mengingat semua yang telah diberikan kepadaku, akhirnya kuturuti kemauannya. Bahkan ketika ingin beranjak menjilati betisnya, Evi memintaku untuk kembali menghisap jari jari kakinya.

“kak, sekarang jilat betis sampai ini Evi ya” sambil menunjuk memeknya.

20 menit kujilati mulai paha hingga memeknya sampai membuat Evi kembali mengalami puncak kenikmatan. Setelah itu ia kembali meraih kontolku, menjilati, mengocok, dan melumatnya hingga 5 menitan. Sekali lagi aku keluar, dan Evi memandikan aku dengan air hangat. Hingga akhirnya kami berpakaian kembali setelah mandi, dan Evi mengecupku lembut serta memasukkan sprei tempat tidurnya kedalam tasku. Untuk kenang kenangan, katanya.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan jam 20.50 WIB. Aku merasa lelah sekali, dan merasa tak sanggup untuk pulang ke Jakarta dengan motor. Akhirnya aku menghubungi pak Jaya penjaga vila keluargaku yang terletak tak jauh dari vila Evi. Aku meminta pak Jaya menyewa mobil angkot untuk mengantar kami ke Jakarta. Pukul 21.20 WIB pak Jaya datang menjemputku di vila Evi. Setelah motor dimasukkan kedalam angkot, kamipun pamitan ke pada mang Danu dan pak Jaya. Namun mang Danu memintaku untuk membawa hasil panen melon di kebun belakang. Aku tak mau, namun mang Danu memaksaku mengambilnya dibelakang vila. Sesampainya di belakang, mang Danu mengajakku berbicara serius mengenai kedatangan neng Fani tadi sore ketika kami tertidur.
Neng Fani yang dimaksudkan oleh mang Danu adalah kakak dari Indah pacarku dan Evi.
Neng Fani tidak mau mengganggu kalian, karena neng Fani juga datang dengan cowok gelapnya. Fani adalah kakak tertua dari Indah dan Evi. Fani yang berusia 30 tahun, dan telah menikah. Namun Fani sering berselingkuh dengan brondong, karena suaminya berlayar di Eropa. Walaupun 30 tahun, Fani memiliki tubuh yang sangat sempurna. Teteknya yang 36C, pantatnya yang montok, tubuhnya yang langsing, kulitnya yang putih bersih, parasnya yang cantik, bibirnya yang tebal, bicaranya yang rada cadel, rambutnya yang hitam lurus terurai, matanya yang tajam sampai kebiasaannya pipis di lantai dikamar mandi yang tak pernah dikuncinya itu memang sering membuatku mencuri curi pandang terhadapnya.

“Neng Fani sih orangnya bebas teuingg den. Soklah jangan takut dimarahin. Mamang juga sering melihat neng Fani begituan dengan berganti ganti lalaki di vila ini kok” ujar mang Danu.

Wah, penjelasan mang Danu tersebut membuatku tenang dan terangsang juga untuk mencicipi mbak Fani. Setelah selesai menjelaskan semuanya, akhirnya aku memberikan uang damai kepada mang danu untuk informasinya, lalu kami membawa melon ke angkot dan segera pulang ke Jakarta. Selama dalam perjalanan, Evi bercerita mengenai kebiasaannya mencuri blue film milik mbak Fani dan mbak Indah. Dari sanalah ia mempelajari semua yang dipraktekkan tadi denganku. Aku berlagak tenang dan acuh saja mendengarnya.
Pukul 00.30 WIB kami sampai di rumah Evi. Aku tak mengantarnya ke rumah, karena orang rumah mengira Evi dari rumah temannya untuk belajar. Setelah Evi pulang, kamipun berlalu ke rumahku.

-0-0-0-0-0-0-

“Aku sedang inginnnya” DEWA 19 mengalun dari MP.3 9500 membuktikan Indah yang menelponku.

“ya sayang” sahutku

“Aku nggak biasa ketemuan hari ini, lagi jalan nyari buku sama Sheila. Jangan nakal nakal ya say…blab la bla…. Dan diakhiri dengan muacchhhh” sahut Indah mesra lewat 9300 nya

“Iya, aku juga ke bandara nganter bibi yang mau pulang ke Jogja. Aku naik taksi, soalnya capek sekali nih. Besok siang aku jemput di kampus ya. Byee..” sahutku sambil mematikan handphone.

Setelah menunggu 2 jam, pukul 13.00 WIB akhirnya bibi boarding dan aku take off dengan taxi lagi. Aku keluar tol Kelapa Gading, dan bermaksud makan di sekitaran Kelapa Gading. Namun sayang, jalanan macet sekali, hingga akhirnya kubatalkan saja dan meminta taxi langsung meluncur ke bilangan selatan Jakarta. Melihat kondisi tol yang juga macet, akhirnya aku meminta supir taxi lewat non tol saja. Diperempatan ex Coca cola kulihat 300 E merah milik Indah melintas. Dibalik kaca beningnya, kulihat 3 orang didalam mobil. Rambut panjang Indah yang khas serta memperlihatkan gaya menyupirnya yang seperti orang bingung, dan disampingnya ada Sheila kawannya yang khas dengan rambut cepaknya. Satunya lagi pasti pacar Sheila, si Andi yang khas dengan gundul gothicnya itu. Aku meminta supir taxi mengejarnya, namun lampu lalulintas telah merah. Untung lampu hijau, hingga aku meminta supir taxi mengejarnya. Lumayan kalau diantar Indah pikirku, karena ongkos taxi sudah menunjukkan angka Rp. 100.000. Kami pun berusaha mengikuti mobil Indah yang berbelok ke bilangan Pulo Mas. Kira kira 100 meter dari jalan raya, aku melihat mobil Indah belok kekanan dan masuk ke suatu wilayah. Kamipun mengejarnya, dan sampai di depan wilayah itu aku membaca sebuah papan bertuliskan “HOTEL”. Mau ngapain nih si Indah. Beli buku kok di hotel? Pikirku kebingungan. Akupun meminta supir taxi menjauhi mobilnya, hingga dari kejauhan kulihat mobil tersebut masuk ke suatu garasi, lalu garasi tersebut langsung ditutup. Aku mencium gelagat kurang beres, hingga akhirnya aku meminta supir taxi menunggu 10 menit, hingga akhirnya aku membayar taxi dan turun menghampiri kamar tersebut.

“Maaf mas, mau kemana?” tanya seorang room boy padaku.

“Oh, saya sudah janjian sama kawan saya yang didalam sini pak” sahutku kalem.

“Silahkan mas” jawabnya kalem juga.

Aku masuk perlahan lahan melalui pintu kecil yang tidak berisik seperti roling door disampingnya yang berisik jika dibuka. Kemudian aku membuka pintu kamar, dan melihat Indah sedang membelai belai kepala Andi gundul yang sedang menjilati memek Indah. Sheila pun sedang asik menjilati tetek kanan Indah sambil tangan kirinya berusaha mengocokkan ****** Andi gundul.
Mereka bertiga kaget, dan satu persatu langsung duduk di sisi tempat tidur. Aku memberikan bogem mentah tepat di mata kanan Andi, kemudian menampar Sheila dan Indah.

“Kamu kok gitu sih N’dah” kataku dengan suara sedikit keras.

“Maaf ya sayanggg….” jawab Indah memelas dan berusaha memelukku.

“”Kita main berempat aja. Elu silahkan deh make Sheila” kata Andi bersemangat.

Tanpa basa basi, sekali lagi aku menendang Andi tepat di kepalanya hingga ia terjatuh ke lantai. Ketika berusaha melawan, sekali lagi kutendang kepalanya. Andi terkapar di lantai, dan akupun bergegas keluar dan menendang mobil Indah hingga penyok.
Aku berlari mencari taxi kedepan, dan setelah dapat taxi akupun melaju ke selatan Jakarta. Inikah karma, karena berselingku dengan Evi adiknya, pikirku bingung? Aku hanya terdiam hingga satu jam, hingga kemudian sampai di rumah. Setelah menenggak segelas Chivas milik ayah, mulai pukul 17.00 WIB sampai 20.00 WIB aku tertidur pulas di kamar. Sekitar pukul 21.00 WIB aku merasakan elusan lembut dibagian kontolku. Aku sedikit terbangun, dan melihat Indah sedang berusaha membuka retsletingku. Aku menampiknya dan berdiri. Akupun marah marah terhadapnya dengan berbagai makian, dan Indah hanya bisa tersedu sedu menangis sambil terus meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Hampir satu jam kami ribut, dan tiba tiba mamaku masuk menanyakan masalah kami.

“Semuanya baik baik saja kok mah” sahutku

“Ya sudah, nanti ke bawah ambil platinum card mama, kalian jalan jalan ya” sahut Mama

Akupun merasa tidak enak ribut dirumah, hingga akhirnya aku pergi keluar dengan Indah.

Setelah berputar putar hingga akhirnya sampai ke daerah menteng, kamipun tetap tidak menemukan titik temu, akupun memarkirkan mobil. Tiba tiba Indah bertanya : “Untuk nebus perbuatan aku. Kamu mau apa? Aku tetap diam sampai 10 menitan. Ketika melamun, tiba tiba aku terbayang bayang untuk berselingkuh dengan mbak Fani. Otakku mulai nakal dan berkata dalam hati: “Ah, alangkah nikmatnya jika bisa meremas tetek mbak Fani yang 36C, kontolku dihisap dan dijepit bibirnya yang sexy, menggoyang pantatnya yang sexy, ….”. Ketika aku bengong membayangkan keseksian mbak Fani, tiba tiba sekali lagi Indah bertanya sekali lagi: “biar impas, kamu mau selingkuh dengan siapa. Aku rela kok?
Tanpa dikomando, akupun langsung mengucapkan: “mbak Fani”!
Nampak nampak wajah kaget di muka Indah. Kamipun berdebat, hingga akhirnya Indah terdiam, lalu mengatakan: “Ya sudahlah, nanti aku usahain. Tapi kamu jangan tinggalin aku ya sayang” sahut Indah manja sambil memelukku. Aku rada heran juga dengan anak ini dan keluarganya, namun kunikmati sajalah, bahkan saat ini ia sudah mulai menjilati kontolku diatas mobil. Setelah maniku mau keluar karena dijilati Indah, aku menarik mukanya dan menyemprotkjan maniku di bajunya hingga belepotan. Herannya, Indah hanya mesem mesem sambil mengambil tissue untuk memgelap baju.
Pukul 23.00 WIB aku mengantar Indah sampai di gerbang, sambil berpesan: “Pokoknya, kalau perjanjian kita belum terlaksana, aku nggak mau ketemu”. Setelah Indah masuk, aku segera menancap Wranglerku.
Ini sudah hari ketiga, dan Indah belum juga menghubungiku. Pukul 12.00 WIB Indah menghubungiku via telepon rumah.

“Kamu nanti malam jam 8 an datang aja ke rumah ketemu mbak Fani tuh. Kami semua ke puncak untuk refreshing”. Sahut Indah di telepon

“Mbak Faninya marah nggak? Kamu bilang apa? Dan berbagai pertanyaan cemas lain kutanyakan pada Indah

“Aku tuh pernah nangkep basah mbak Fani selingkuh sama si Ivan supir papa, jadi nggak usah takut. Kayaknya dia juga kesenengan tuh. Nggak usah hot hot ya mainnya” sahut Indah dengan nada ngambeknya.

“Ya udah. Byeee” sahutku.

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Sekarang waktunya kerumah Indah pikirku. Pukul 19.30 WIB aku sampai lebih dulu di rumah Indah. Ternyata si Inem nggak ikut, malah ialah yang membukan pintu untukku.

“Loh, neng Indah kan ke puncak den. Mau gituin saya lagi ya den? Tapi ada neng Fani lo den” kata Inem dengan gaya menggodanya.

“Inemmmm, persilahkan masuk dong kalau ada tamu” teriak mbak Fani lantang

Akupun masuk, duduk, dan baca majalah, namun aku tidak melihat mbak Fani disitu. 15 menit aku menunggu sambil membaca majalah, hingga akhirnya Inem mengantarkan minum dan berbisik: “dipanggil mbak Fani di perpustakaan sebelah tuh den”.

Akupun menyapa mbak Fani, dan ia mempersilahkan aku duduk. Saat itu ia masih mengenakan pakaian kantor berikut sepatu hak tingginya. Mbak Fani ngobrol seputar mobil denganku, hingga akhirnya memintaku mengambilkan catalog mobil yang terletak di bagian atas lemari perpustakaan mereka.
Saat mengambil kursi untuk membantuku mengambil buku itu, mbak Fani membuka lemari dan mengambil sebotol air mineral, 2 buah kapsul berwarna biru dan satu botol kecil.
Ketika aku menaiki kursi dan berusaha meraih buku tersebut, mbak Fani menghampiriku dengan membawa 2 buah pil biru dan air mineral tersebut. Mbak Fani memintaku meminum 2 buah pil tersebut. Akupun meminumnya, dan aku paham, kalau itu adalah Viagra. Setelah aku minum, mbak Fani langsung membuka retseling celanaku saat aku berdiri diatas kursi. Mukanya persis di depan kontolku yang mulai mengeras dan mengacung didepan hidungnya. Mbak Fani tidak memegangnya dengan tangan, tidak mengocoknya, tidak menjilatinya namun langsung menghisap kontolku dalam dalam hingga pipinya yang cubi itu kempot.

“Ahhhhh…..mbak geliiiiiiiiii” sahutku kegelian.

Mbak Fani terus saja menghisap, melepaskannya, menghisap, melepaskannya, hingga akhirnya ia menjilati biji pelerku dengan rakusnya. Kali ini mbak Fani mengocokkan kontolku dari samping dengan bibirnya yang seksi. Keahliannya mengocokkan ****** dengan bibir perlu diacungi jempol. Mbak Fani membuka celanaku sepenuhnya, dan langsung menghampiri pantatku, menjilatinya, dan saat ini tangan kanannya mengocok kontolku dengan lembut dari belakang.

“Mmmmmmm………….enakkkkkk mbakkkk………”sahutku sampai gemetaran

Mbak Fani masih berpakaian lengkap dengan sepatu kantornya, namun sesekali berusaha membuka celana dalamnya, bahkan hingga melorot hanya sampai di bagian paha. Mbak Fani kembali menghisap kontolku dari depan. Aduh, baru kali ini ada hisapan ****** yang membuat tubuhku seperti tersedot semua ke mulutnya.

“Ahhhhhh…..mbakkkkkkk, aku kok keluarnya cepet nih” sahutku sambil gemetar

“Kalau mau keluar, bilang ya” sahut mbak Fani mendesah

“Sekarang mbak” sahutku lagi

“Tahan yaaaaa, sampai mbak bilang *******” sahutnya terbata bata

Mbak Fani mengeluarkan kontolku dari mulutnya, mengocoknya dengan tangan kirinya dan ia pun naik keatas kursi tempatku berdiri, menarik roknya keatas dengan tangan kanannya, mengangkat kaki kanannya dan meletakkannya di pinggiran lemari, kemudian mengarahkan kontolku ke memeknya.

“sempyyyyyyootttttt……….” Kata mbak fani mendesah

Akupun menyemprotkan maniku di memeknya hingga basah. Herannya, baru kali ini kontolku langsung mengecil saat keluar. Walaupun telah mengecil, mbak Fani tetap menggesek gesekkan kontolku di memeknya.
Mbak Fani memintaku turun, menggandengku ke sofa, mempersilahkanku duduk sementara ia tetap berdiri, memberikanku minuman, dan membelai rambutku seperti anak anak.
Mba Fani memintaku membukakan jasnya, bajunya dan BH nya, dan iapun membuka seluruh pakaianku. Mbak Fani mengambil botol kecil tadi, dan mengoleskan cairan di botol itu mulai dari lutut hingga pangkal pahaku.

“Aduh mbak, sakittttt” jeritku kesakitan karena urutan mbak Fani yang keras itu

“Sabar ya sayang. Biar kita bisa sampai pagi” kata mbak Fani.

Kemudian mbak Fani memintaku beristirahat sejenak dan kemudian ia memanggil Inem.

“Inemmmmmmmmmm…………” teriak mbak fani dengan keras.
Inem pun datang menghampiri mbak Fani. Aku sedikit bingung dengan sandiwara yang akan dimainkan mbak Fani, namun aku tetap saja mengangkang sambil terkaget kaget melihat ukuran kontolku yang menjadi lebih besar dan panjang dari biasanya. Apalagi saat itu melihat Inem dengan kaos pinknya yang memperlihatkan tetek dibalik BH hitamnya serta rok mini dari bahan kaos serta penampilan mbak Fani yang hanya memakai rok, sepatu hak tinggi dan tetek 36 C nya yang montok itu. Ahhhh, nikmatnya hidup ini pikirku.

“Inem, bersihin memek mbak nih” sambil mengarahkan memeknya yang masih setengah tertutup rok kearah bibir Inem.

Inem pun menjilati memek mbak Fani, sambil mbak Fani membelai rambut Inem. 5 menit memperhatikan mereka, tiba tiba maniku muncrat dengan keras hingga berbunyi “creeeeeeetttttt”.
Mbak Fani dan Inem tersenyum bersamaan, sedangkan aku nampak malu malu. Herannya, kali ini kontolku tidak menciut, melainkan tetap seperti tadi.. Sekarang mbak Fani meminta Inem berdiri diatas meja, membuka rok Inem dan menarik jemput Inem tercabut beberapa helai.

“Aduh mbak, ojo dicabutin lagi donggggg” sahut Inem memelas.

“Diem kamu Nem, nanti nggak mbak ajak lagi lo” ancam mbak Fani sambil menjilati memek Inem dengan rakusnya. Tiba tiba mbak Fani berhenti dan kembali membuka laci kembali. Mbak Fani mengambil beberapa sex toys koleksinya. Ia memilih ****** kontolan berwarna merah. Tanpa basa basi, Mbak Fani memasukkan benda itu ke pantat Inem, hingga membuat Inem meringis.

“Ayo Nem” ujar mbak Fani sambil mengocokkan ****** kontolan itu dengan cepat di pantat Inem.

“Ssssshhhhhh….mbak nikmat nikmmmmmmmm……aaahhhh” sahut Inem menanggapi jilatan dan hujaman ****** kontolan mbak Fani.

Adegan mereka berdua membuatku mengeluarkan mani sekali lagi. “creeeeettt…” namun kali ini sudah mulai sedikit yang keluar. Melihat aku telah keluar dua kali, mbak fani dan Inem menghampiriku, lalu menjilati kontolku secara bergantian.

“Ahhhh….mbak….Nem…..mbak……ennnnnn…..mmmmm……akkkk” ujarku

“Nem, bukain rok mbak pake mulut” kata mbak Fani terbata bata sambil menghisap kontolku.

Aku melihat Inem bersusah payah membukanya dengan mulut, hingga akhirnya terbuka juga. Inem langsung mencabut ****** kontolan yang ditancapkan mbak Fani di pantatnya, kemudian Inem pun langsung menancapkan ****** kontolan itu di pantat mbak Fani.

“Kurang ajarrrrrr kamu Nem” kata mbak Fani berteriak.

Namun Inem tetap saja mengeluar masukkan benda itu di pantat mbak Fani, hingga akhirnya mbak Fani menarik tangan Inem kedepan dan menyuruh saya menjilati tetek Inem yang masih terbungkus kaos pink dan BH itemnya

“Ayo den, jilatnya kerasan dikit dong” mohon Inem dengan nada memelas

Mbak Fani menarik badan Inem dan meletakkannya di kontolku. Mbak Fani membantu Inem dengan menaik turunkan tubuh Inem diatas kontolku.
Mbak Fani mengarahkan memeknya kemulutku dan memintaku menjilatinya. Tak sampai 5 menit, maniku muncrat lagi di memek Inem, kemudian Inem menarik memeknya dan memintaku menjilati memeknya, dan sekarang mbak Fani yang memasukkan kontolku ke memeknya. 5 menit kemudian, akupun memuncratkan maniku kembali di memek mbak Fani, hingga kemudian mbak Fani turut minta dijilati memeknya. 2 buah memek ada di depan mulutku saat ini. Mbak Fani dan Inem berebutan untuk dijilati, sambil mereka berdua berciuman dengan mesra diatas kepalaku.
Mbak Fani berbisik dengan Inem, dan kemudian mereka berpelukan, lalu memasukkan kontolku yang masih tetap tegak berdiri di celah celah tetek mereka yang sedang berpelukan. Sambil berpelukan, mereka menaik turunkan badan mereka yang menjepi kontolku. Sesekali mbak Fani meludahi kontolku. Aku tak bisa menahan sensasi yang baru kualami ini, hingga akhirnya maniku munrat kembali. Mbak Fani dan Inem kembali berebutan menjilati kontolku hingga bersih. Kamipun istirahat, kemudian mbak Fani membuka kaos dan BH Inem, lalu menjilati dan menghisap tetek Inem. Hampir 10 menit aku memperhatikan Inem dan mbak Fani saling menjilat dan menghisap.

“AArrrrrrrrrgggggghhhhh…..creeeeet” aku memuntahkan maniku untuk yang kesekian kali karena melihat ulah mereka. Kali ini mbak Fani meminta Inem menjilati pantatnya, dan kemudian mbak Fani memasukkan kontolku ke memeknya. Mbak Fani memacu tubuhnya naik turun dengan cepat di kontolku. Kali ini dengkulku serasa mau copot.

“Mbakkkkk…….ampppp……unnnnnn…..ssshhhhh ahhhh a……..” sahutku terbata bata

“ayo sayaaanggg puaskan mbbbaaa…….kkkk……”sahut mbak Fani terputus putus

Mbak Fani memacu lebih cepat lagi, hingga akhirnya berusaha menarik kepalaku, menjambakku, menciumiku dengan buas, dan kemudian menghantamkan tubuhnya dengan keras di kontolku.
“Ahhhhhhhhhhhhh…………..” sahut mbak Fani sambil memelukku erat erat hingga akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku.

“kamu hebat saying” ujar mbak Fani sambil mencium mata kananku, lalu ia berbalik menuju kursi dan duduk. Heran, kenapa kontolku masih saja terus berdiri, padahal sudah berkali kali memuntahkan mani.

“Sekarang jatah kamu Nem” kata mbak Fani pada Inem

Tanpa basa basi, Inem pun memacu tubuhnya seperti mbak Fani tadi, namun tak sampai 5 menit Inem telah terkulai di tubuhku. Mbak Fani berdiri menghampiri pantat Inem dan kontolku yang masih menyatu, lalu menjilatinya. Inem mulai menaik turunkan tubuhnya kembali diatas kontolku. Perlahan lahan Inem menaik turunkan tubuhnya dikontolku, sambil sesekali memutarnya, hingga akhirnya iramanya semakin cepat seperti tadi. Sudah 10 menit aku digoyang Inem, dan dijilati mbak Fani, namun mereka belum juga berhenti.

“ayo den, akhhhhhhhhhhhhhhh….saya wes keluar den” ujar Inem sambil berdiri dan mencabut memeknya dari kontolku.

Mbak Fani dan Inem menjilati kontolku yang masih tetap mengacung dan besar. Aku benar benar lemas, namun kontolku tak mau mengecil. Mbak Fani dan Inem pun akhirnya memahamiku.

“Aku capek mbakkkk” kataku pada mbak Fani.

Kamipun beristirahat selama 30 menit, dan mbak Fani meminta Inem mempersipkan makan malam. Dengan jalan yang malas malasan, Inem pun berlalu mempersiapkan makanan. Mbak Fani mengurutku dengan lembut.

“Mbak pijit ya sayang” ujar mbak Fani dengan lembut di telingaku sambil menjilati kupingku.

Aku dan mbak Fani tertidur di atas sofa selama 1 jam, dan terbangun saat Inem sedang melap badan kami dengan handuk hangat. Herannya, kontolku masih saja mengacung dan keras. Inem mempersilahkan kami makan. Dalam keadaan bugil, kami menuju meja makan. Mbak Fani tersenyum memperhatikan kontolku yang masih terus mengacung di bawah menja makan kaca milik mereka. Sesekali mbak Fani yang duduk diseberangku memainkan kakinya di kontolku. Dan yang paling kurang ajar adalah tingkah Inem yang masuk ke kolong meja makan dan menjilati kontolku. Buat apa marah, justru nikmat sekali kurasakan. Bahkan sesekali mbak Fani memasukkan jempol kakinya ke pantat Inem.
Selesai makan, kami beristirahat dan menonton CNN selama 1 jam di ruang keluarga. Mbak Fani meletakkan kepalanya dipangkuanku, dan Inem masih terus menjilati biji pelerku dan mengelus elus pahaku sambil menonton TV. Kali ini, mbak Fani hanya meminta Inem duduk diam disofa untuk masturbasi. Kemudian mbak Fani memintaku terlentang di karpet. Seluruh tubuhku dijilati mbak Fani hingga basah, bahkan sesekali ia meludahi tubuhku dan menjilatnya kembali. Aku sungguh terpana melihatnya. Wanita secantik dia, tetek sebesar itu, kulit yang putih seperti ini, rambutnya yang sering melambai lamai saat mengentotiku, bibir sexy, namun mau melayaniku dengan luar biasa seperti ini.

“Mbak masukin lagi ya sayang” ujar mbak Fani sambil mengelus pipiku.

Dengan hati hati, mbak Fani berjongkok diatas kontolku. Ia memasukkan kontolku dengan perlahan ke memeknya. Setelah beberapa kali naik turun, mbak Fani mencabutnya, dan pergi ke arah perpustakaan. Aku tetap tergeletak di karpet, sedangkan Inem masih asyik mendesah desah sendirian sambil memainkan memeknya di sofa.
Mbak Fani kembali membawa benda kecil. Mbak Fani memakaikan ring plastik berduri di kontolku. Mbak Fani kembali jongkok, kakinya tak menyentuh pinggulku, dan dengan hati hati ia memaksa kontolku masuk. Mbak Fani menaik turunkan tubuhnya diatas kontolku, memutar mutar memeknya di tubuhku dengan cepat.

“aaahhhhhh mbakkkk ennnn….aaaa……kkkkk” sahutku meringis.

Mungkin inilah goyangan madura itu pikirku. Selama 20 menit aku telah keluar 3 kali dengan goyangan mbak Fani itu. Akhirnya mbak Fani pun lemas, terkulai dan menciumi bibirku.

“Ma kasih saying. Mbak puas sekali. Kamu hebat” kata mbak Fani

“Iya mbak, aku juga puas. Ma kasi ya mbak” sahutku hingga kemudia aku tertidur.

Kami dibangunkan, dan aku sungguh kaget karena yang membangunkanku adalah Mamanya Indah, Evi dan mbak fani. Aku melihat mbak Fani tertidur pulas di depan kontolku, dan Inem diatas paha mbak Fani. Aku melihat ada yang terganjal di pantatku. Rupanya Inem memasukan ****** kontolan mbak Fani di pantatku. Mama mencabutnya dengan keras, dan melemparkannya ke Inem. Inem pun kaget, demikian halnya dengan mbak Fani. Berhubung baju kami ada di perpustakaan, akhirnya kamipun disidang dalam keadaan bugil di ruang tamu. Herannya, kontolku masih saja menacing dan keras. Entah obat apa yang diberikan mbak Fani padaku.
Setelah menginterogasi kami, akhirnya terbongkarlah semua skandal. Mbk Fani membongkar aksiku di puncak dengan Evi, Mbak Fani membongkar paksaan Indah terhadapnya, dan aku membongkar kelakuan Indah dengan Andy gundul dan Sheila.
Mama terdiam, hingga akhirnya ia mengambil handphonenya.

“Indah, kamu dan Evi pulang ya ke Jakarta. Papa suruh tunggu aja di puncak, nanti mama yang jemput” ujar mama di handphone dan kemudian menutupnya


“Mah, papa ikut anak anak balik ya. Bali baru saja nelpon papa dan minta rapat mendadak” ujar Papa lewat handphone.

“Iya Pah, bye” sahut mama sambil mematikan speaker phone 9300 nya, lalu mematikan handphone.

Akhirnya Mama meminta kami mengenakan pakaian. Kamipun segera berhamburan ke perpustakaan di sebelah rumah.

“Aduh mbak, gimana nih. Kontolku masih tegang dan retsleting celana nggak bisa ditutup” sahutku memelas pada mbak Fani.

Mbak Fani berusaha membetulkan posisi kontolku yang tidak bisa ditutup oleh celana tersebut, namun tetap saja tak bisa ditutupi oleh celana ataupun kaosku. Mbak Fani pun keluar perpustakaan, dan tak lama kemudian kembali menghampiriku.

“kata mama, pas papa pulang kamu ngumpet aja di kamar Inem. Kamu disuruh nunggu, sampai papa berangkat ke bali. Mama mau ngomong sama kita semua. Tenang aja, papa nggak pernah keruang belakang tempat kamarnya Inem kok.” ujar mbak Fani sambil sesekali mengocokkan kontolku dengan tangan kanannya.

Tepat pukul 20.00 WIB papa dan semua sampai dirumah, namun sejak jam 19.00 WIB aku telah diminta menunggu di kamar Inem. Aku sendirian di kamar Inem yang berukuran 3x3 m itu. Kunyalakan radionya Inem, dan tanpa sadar aku tertidur. Tepat pukul 23.00 WIB aku dibangunkan oleh Inem.

“Den, dipanggil ibu di ruang tengah tuh” sapa Inem ketakutan.

Kulihat kontolku, masih saja mengacung dan keras. Aku kebingungan dengan hal yang satu ini. Sambil berusaha membetulkan kontolku, tiba tiba Inem mesem mesem dan berkata: “Aduh Den, jangan harap jadi kecil sebelum 2 hari. Dulu aja mas Ivan supir bapak sampai cuti 2 hari karena kontolnya dibuat keras seperti ini sama mbak Fani ”.

“Ya sudahlah Nem, ditutup sama kaos saja” sahutku kebingungan.

Kamipun menuju ruang tamu. Semua tertunduk malu, sedangkan mama hanya termenung melihat semua anak gadisnya. Aku dan Inem dipersilahkan duduk oleh mama, namun semua anak gadisnya masih saja tertunduk. Kamipun diinterogasi oleh mama. Satu persatu menangis, termasuk mama. Karena tak bisa lagi menahan amarah, akhirnya mama berteriak dengan keras: “SUNDALLLLL……………”
Suasana ruangan menjadi semakin hening dan mencekam. Mama memandangi kontolku yang masih menonjol namun setengah tertutup kaos.

“itu kamu kenapa”? Tanya mama sinis sambil menunjuk kontolku

Aku hanya terdiam tak bisa menjawab, hingga akhirnya mbak Fani angkat bicara, diikuti lirikan Indah dan Evi. Mendengar penjelasan mbak Fani, Indah berusaha menutup mulutnya karena tertawa.

“kamu jangan cengengesan Ndah” ujar mama marah kepada Indah.

Mama pun meminta satu persatu anak gadisnya menjelaskan semua yang terjadi. Mulai dari Evi, Indah, Mbak fani, bahkan Inem. Mama nampak kaget mendengar penjelasan mereka yang lebih spesifik itu.

“Jadi, kalian ini benar benar maniak seks ya. Mama sedih sekali mendengar dan melihat ini semua” ujar mama sambil meneteskan air mata sekali lagi.

“Baiklah kalau demikian. Mama mau keluar sebentar, dan jangan ada diantara kalian yang melakukan itu lagi. Semuanya tidur dikamar masing masing". Ujar mama sambil menarik tanganku ke ruangan belakang, lalu memintaku masuk dikamar Inem, kemudian mama keluar sambil mengunci pintu kamar dari luar.

Tepat jam 01.00 pagi mama membangunkan aku yang tertidur pulas di kamar Inem. Lagi lagi aku melirik kontolku yang masih mengacung dan keras.
Mama mengajakku ke ruang makan, dan mempersilahkanku menikmati makanan yang telah disajikan di meja. Mama pun memanggil semua anak gadisnya. Selesai makan, kami kembali diminta ke ruang tamu. Mama meminta kami semua duduk di karpet, sedangkan mama duduk diatas sofa. Kami semua kaget, karena saat itu mama melepaskan jilbabnya. Ah, cantik sekali mama jika tanpa jilbab. Terpampang tulang pipinya yang sexy, kulit putihnya, dan payudaranya yang seperti pepaya. Biasanya tetek itu tertutup jilbab, namun akhirnya dapat terlihat dengan jelas dibalik bajunya yang ketat. Mama pun melepaskan kacamatanya, jam tangannya, lalu menyilangkan kakinya dan kemudian menepukkan tangannya dengan keras beberapa kali. Tiba tiba dari teras depan masuk seorang laki laki dan perempuan yang telah telanjang bulat dihadapan kami.

“Saya meminta kalian menari dan bermesraan dihadapan kami, namun jangan sekali kali menjamah satu orangpun dari kami. Silahkan dimulai” ujar mama ketus kepada kedua orang tersebut.

Kami semua tertunduk malu. Tiba tiba dengan suara lantang mama meminta kami memperhatikan sepasang kekasih yang meliuk liukan tubuhnya sambil sesekali berciuman mesra. Setelah 30 menit berlalu, aku melihat posisi duduk masing masing kami yang mulai berubah ubah karena memperhatikan kedua orang yang bermesraan di depan kami. Tanpa sadar, Indah terlebih dulu memberanikan diri memegang payudara kanannya. Memutarnya, meremasnya, dan sesekali berganti ke payudara kirinya yang masih terbungkus kaos, namun tak memakai BH. Evi hanya bengong, sambil sesekali menatap kami satu persatu. Lain halnya dengan mbak Fani, ia hanya menatapi mama dengan muka penuh kebingungan.

“Kenapa kamu Fani. Nggak usah pura pura alim lah. Perhatikan saja mereka, dan lakukan seperti yang kamu biasa lakukan” tantang mama dengan nada sinis kepada Fani.

Tidak tau karena kesal dengan amarah mama, atau karena sudah horny, namun tiba tiba saja mbak Fani meraih kontolku,mengocoknya perlahan lahan sambil melirik takut ke mama. Evi memperhatikan aku dan mbak Fani, sedangkan Inem dan Indah masih terus memperhatikan kedua orang yang menari dan bermesraan dihadapan kami. Aku mulai melihat Indah mulai memasukkan tangannya lewat bawah kaos untuk memegang teteknya.

“Ayo, kok kalian hanya segini aja? Katanya maniak seks”? ujar mama ketus

“Sekarang buka baju kalian semua” tambah mama dengan suara lantang

Kami bingung mendengar ucapan mama. Kami pun saling pandang menandakan kebingungan dengan perintah mama tersebut.

“Ayo buka bajunya semua” kata mama dengan tegas sekali lagi.

Kamipun mulai melepaskan pakaian kami satu persatu, hingga akhirnya semua berbugil ria. Yang membuatku bingung adalah 2 buah bekas kecupan di payudara Evi. Seingatku, aku tidak pernah membuat “duatanda mata” itu di payudaranya. Ah, sudahlah pikirku. Tiba tiba penari lelaki bertanya pada mama: “kok tante nggak ikutan bugil”

“Kurang ajar kamu. Kamu saya bayar untuk menari, bukan nasehati saya” ujar mama marah sambil kembali memerintahkan kami untuk saling pegang pegangan.

Karena Evi dan Inem masih saja bengong, akhirnya mama minta Inem meraba raba Evi. Evi pun kaget, namun nampak menikmatinya. Mama memanggilku sambil membuka plastik yang ada di meja. Mama mengeluarkan salep, obat obatan dan air mineral. Mama mengolesi ujung pahaku dengan salep, dan mengurutnya lembut. Sesekali kuperhatikan pandangan liar mama ke kontolku, namun ketika aku memperhatikan, mama segera membuang muka. Aku disuruh duduk di sofa oleh mama, dan Inem dan semua anak gadisnya meminum pil yang diberikannya. 20 menitan kami disuruh duduk terdiam di sofa, dan mama memberikan segepok uang kepada pasangan penari tersebut dan mempersilahkan mereka berpakain dan pulang. Setelah menerima uang, dengan nakalnya penari pria meremas tetek mama dan kemudian berlalu bersama pasangannya.

“bangsat” kata mama berteriak diikuti gelak tawa kami semuanya.

Aku terheran, karena kontolku tiba tiba berubah warnanya menjadi kemerahan, dan aku seperti merasakan kekuatan baru di tubuhku. Disisi lain, aku melihat duduk Inem dan para anak mama yang seperti orang gatel.

“Sebentar lagi ya” kata mama misterius sambil mesem mesem.

“Mah, aku pengen ke toilet nih” ujar mbak Fani, diikuti Inem, Indah dan Evi. Semua anak perempuan mama berhamburan ke toilet.

“Kalau lihat saya, kamu terangsang nggak” Tanya mama padaku ketika ditinggalkan oleh semua putrinya dan pembantunya.

Aku hanya bisa terdiam dan tertunduk. Saat tertunduk, aku seperti kaget melihat urat kontolku yang membesar di sekitar batangnya.

“Kenapa, bingung ya lihat itu kamu jadi seperti itu”? Tanya mama dengan nada sinis, sambil menunjuk kontolku.

“Sini ditambahin, biar semakin besar lagi” sahut mama.

“kesini kata saya” teriak mama sekali lagi.

Mama mengambil salep itu lagi, kemudian mengoleskannya di kepala kontolku. Kepala kontolku terasa dingin setelah diolesi salep itu. Kemudian mama memintaku meminum kapsul. kapsul itu berwarna coklat dan putih. Setelah itu mama mempersilahkanku duduk. 5 menit kemudian, aku terasa ingin pipis juga, hingga akhirnya aku pamit ke toilet. Mama hanya mengangguk mempersilahkan.
Sesampainya di toilet, aku kaget juga melihat Inem yang sedang dijilati, dikobel kobel memeknya, dihisap putingnya, diraba raba perutnya secara berebutan oleh Indah, mbak Fani dan Evi. Karena mereka tidak melihatku, akhirnya aku memutuskan pipis di kamar mandi belakang. Di kamar mandi aku memperhatikan kontolku yang sangat keras dan berurat urat, berwarna merah padam, dan bagian kepalanya menjadi lebih besar dari biasanya. Apa ini, pikirku bingung? Akupun seperti merasakan dorongan seksual yang hebat sekali, dan tanpa sadar mengocokkan kontolku sendiri secara perlahan.

“Kenapa pipis disini” kata mama lembut, namun membuatku kaget.

Mama memegang kontolku erat erat, dan menariknya seperti menarik belalai gajah. Karena tak bisa mengendalikan diri, aku memberanikan diri meremas pantat mama yang mulai turun itu.

“Kamu jangan kurang ajar ya” ujar mama sambil melepas kontolku dan menamparku.

Kali ini mama menarik tanganku, namun lagi lagi aku tak bisa mengendalikan dorongan seksual yang begitu luar biasa, hingga kali ini aku memberanikan diri meremas payudara kiri mama dari samping.

“Kamu ini memang bandel ya” sahut mama sambil menamparku sekali lagi.

Mama pun memintaku mengikutinya. Rupanya mama telah meminta semua putrinya dan Inem ke kolam renang di samping rumah. Alangkah kagetnya aku kali ini, karena kali ini aku melihat mbak Fani telah menjilati memek Evi dengan buasnya. Indah menghisap tetek Inem sambil meraba raba memek Inem.

“Lihat buasnya mereka semua. Saya tidak menyalahkan kamu karena telah menggauli mereka semuanya. Ini memang salah saya” kata mama sambil meneteskan air mata

“Ini kali terakhir kamu main dengan tiga putriku, karena saya akan bawa mereka ke Sydney dengan saya untuk menetap disana. Saya juga telah memberitahukan ini dengan mereka. Jadi, kali ini nikmati saja sepuasnya” ujar mama tegas.

“Kalau gitu, aku boleh dong gituan juga dengan mama” sahutku memberanikan diri.

Aku memang tergiur untuk menikmatinya, sejak ia membuka jilbabnya dan memperlihatkan tetek pepayanya yang sampai saat ini masih tertutup baju ketatnya. 10 menitan aku tidak mendapatkan jawaban. Akupun tak berani lagi meremas atau memegang mama, karena takut ditampar lagi.

“Saya tetap tidak mau. Kenapa sih nafsu lihat saya? Sana, main saja dengan mereka semua” ujar mama.

Tiba tiba semua putrinya dan Inem menghampiri aku dan mama. Tanpa malu malu, mbak Fani langsung memegang kontolku. Indah meraba raba pantat mbak Fani, dan Evi berciuman sangat mesra sambil mengadu lidahnya dengan Inem. Aku melupakan mama, dan menikmati sensansi yang sangat baru dan luar biasa ini.

“Den, Inem mau dong dimasukin” sahut Inem memelas.

“Enak aja kamu Nem, aku dulu ya sayang” sahut Indah sambil memasukkan memeknya di kontolku

“Auuuwwww….kok jadi besar begini sih say” kata Indah sambil terus berusaha memasukkan kontolku kememeknya.

Mbak Fani berdiri dibelakangku, kemudia meminta Evi mendorong tubuh Indah supaya terdorong kuat. Sedangkan Inem jongkok di antara kontolku dan memek Indah sambil berusaha menjilatinya.

“Ahhhhhh…. Dorongnya pelan pelan dong Vi” ujar Indah kepada Evi yang mendorongnya dari belakang.

Karena merasa terlalu lama, mbak Fani membalikkan badanku kehadapannya dengan kasar. Mbak Fani menggenggam kontolku dengan keras, mendorongku ke tembok dekat pintu, lalu mendorong tubuhnya dengan kuat untuk memaksa kontolku yang besar masuk ke memeknya.

“akkkkhhhhhh…….besar amat sayang” teriak mbak Fani sambil terus memutarkan pantatnya, mendorong, memutarnya, mengangkat kaki kanannya sedikit, hingga akhirnya kontolku terbenam sepenuhnya di memeknya. Mbak Fani menarik tubuhnya perlahan lahan, mendorongnya, menariknya, hingga membuat kami merasakan kenikmatan.

“Terusss mbbb….akkkk…..” sahutku lembut

“mmmm…..ayo sayang…..” seru Evi menjilati kontolku dari bawah.

“creeettttttt….” Kontolku membasahi memek mbak Fani dan mulut Evi. Aku langsung berjalan menuju Indah, kuhujamkan kontolku dengan kasar di memek Indah.

“Ahhhh sayang….ennna kkkkk ….ennnakkk ….”ujar Indah terbata bata

“Ayo sayang ….mmmm” sahutku pada Indah sambil memutar mutar kontolku dengan cepat.

“Akhhhhhh……….enakkkk” kata Indah sambil terkulai lemas dipundakku.

Akupun mencabut kontolku dari memek Indah, dan meminta Evi menungging. Kuludahi pantat Evi, kucolok pantatnya dengan perlahan, lalu kusodokkan kontolku dipantatnya.

“Ahhhhhhh kakakkakakkk..kkkk…kakkk….sakitttttt” teriak Evi.

Aku tak memperdulikannya lagi. 3 menit aku bermain di pantat Evi dengan buas, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di pantatnya. Maniku menetes keluar bercampur darah dari pantatnya. Lalu kucabut kontolku dan duduk di kursi. Evi nampak kesakitan dengan pantatnya, hingga mbak Evi melap pantat Evi, kemudian menjilatinya dengan rakus. Inem menghampiriku, dan tanpa permisi memasukkan kekontolku ke memeknya. Inem menggoyangkan memeknya dikontolku. Inem memutarnya, menaikkan, menurunkan hingga gerakannya semakin cepat. 5 menit Inem menggoyangku, lalu berkata: “kalau mau keluar, bilang ya den”

Aku tidak mempertanyakan alasan Inem yang memintaku memberitahukannya jika ingin keluar, hingga akhirnya aku mulai merasa ingin memuntahkan maniku.

“sekarang mau keluar Nem” sahutku cepat, dan Inem memperlambat gerakannya.

“Mbak Indah sini” panggil Inem kepada Indah yang sedang asyik menjilati memek Evi dan mbak Fani secara bergantian.

Tangan kiri Inem menuntun Indah jongkok bersamanya didepan kontolku sambil tangan kanannya mengocok kontolku dengan cepat.

“cretttt…..” berceceranlah maniku dimuka Indah dan Inem.

Indah dan Inem menarikku dan menghampiri mbak Fani dan Evi yang sedang asyik memainkan lidah mereka sambil saling meremas tetek. Setelah menghampiri mereka, Indah berbisik pada mbak Fani, Evi dan Inem, hingga akhirnya mereka berempat duduk berderet dan mengangkang membuka memek mereka. Indah memberikan komando, agar aku mengentoti kami satu persatu secara bergantian mulai dari yang paling kiri.
Aku mulai memasukkan kontolku di memek Evi. Tangan kanan Evi merangkul pantatku, seakan memaksaku menghujamkan ****** dalam dalam

“ayo kakak, lebih cepat lagi” ujar Evi bernafsu

Kuayun kontolku dengan cepat dimemek Evi, namun tiba tiba Indah menarik tanganku, meraih kontolku, memasukkannya ke memeknya, namun kali ini indahlah yang menaik turunkan memeknya.

“Ahhhhh…..sayang, kamu sodok juga dong” ujar Indah memelas.

Aku mengeluarkan mani dimemek Indah di menit kelima, lalu mbak Fani menarikku dan ia membalikkan badannya, menungging, lalu memintaku memasukkan kontolku ke pantatnya. Kepala mbak Fani tertempel ke tanah, sedangkan kedua tangannya mengempit pantatnya yang telah menjepit kontolku. Kusodok pantat mbak Fani dengan kasar hingga membuatnya meraung raung.

“aduh…. Aduhhhh…. aduh …..” jerit mbak Fani lantang

Aku tak memperdulikannya, namun kontolku semakin dijepit lebih hingga akhirnya kumuntahkan maniku di pantatnya. Mbak Fani langsung membalikkan tubuhnya, dan mengangkang kembali, lalu memintaku menghujamkan kontolku di memeknya. Namun di luar dugaan, Inem menarik lenganku dan memaksa kontolku masuk di memeknya. Inem menggoyangku dengan lembut selama 5 menit, hingga akhirnya aku mencabut kontolku, dan memuntahkan maniku ke arah mbak Fani.
Sekarang Evi berdiri dan menarik tanganku, kemudian memintaku kembali mengentotinya. Kali ini Evi mengikuti gaya Indah. Evi memajukan tubuhnya, bahkan memutarnya hingga membuatku kegelian.

“Ahhhh Eviiiii eeenn….aaaaakkkkkkkkkk sayang” ujarku terbata bata

Indah, Inem dan mbak Fani mengelilingi aku dan Evi. Sekarang aku memacu kontolku dengan cepat di memek Evi. Mbak Fani menjilati tetek kiri Evi. Indah meremas remas tetek kanan Evi, dan Inem menjilati pantatku dari belakang.

“Ahhhhhhhhh……aku mau keluar sayang” ujar Evi berteriak

Evi terkulai lemas menandakan ia telah keluar, namun aku terus memacu kontolku dengan cepat sambil sesekali menggoyangnya. Evi terkulai tak berdaya sambil mendesis seperti ular.

“Kalau mau keluar, bilang ya sayang” bisik mbak Fani lembut ditelingaku.

“Aku udah mau keluar mbak” sahutku

Mbak Fani pun meminta Indah dan Inem jongkok bersama sambil mengatakan: “******* muka kami sayang”.

Kutarik kontolku dari memek Evi, dan kusemprotkan di muka Inem dan Indah. Ketika ingin menyemprotkan mbak Fani, kontolku sudah tak bisa mengeluarkan mani lagi. Akhirnya mbak Fani menjepitkan bibirnya dari samping kekontolku. Ia mengocok kontolku dengan gaya khasnya.

“Akkkhhhhh….gelllllllllliiiiiii mbak” sahutku sambil merinding

Mbak Fani melepaskan bibirnya dari kontolku, lalu mengocoknya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya meremas remas pantatku.

“Ayo sayang, ******* mbak dong” ujar mbak Fani terbata bata.

Aku melepaskan tangan mbak Fani yang sedang mengocok kontolku, dan meminta Indah yang mengocokkannya, dan meminta mbak Fani memejamkan matanya. Sambil mengocok kontolku, Indah menghisapi putting tetekku. Semakin lama, Indah semakin kencang dan kasar mengocok kontolku, hingga akhirnya kumuntahkan maniku di mata mbak Fani. Kali ini kuminta Inem menjilati maniku di mata mbak Fani. Inem pun menurutinya, dan menjilati mata mbak Fani yang berlumuran maniku. Aku nampak kelelahan, demikian halnya dengan Indah dan Evi yang telah terkulai lemas. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk kedalam kolam berenang bersamaan.
5 menit didalam kolam renang membuat badan kami segar kembali. Indah mulai naik dari kolam berenang, diikuti Inem, lalu Evi. Ketika mbak Fani ingin turut naik, aku menarik tangannya, lalu menyenderkan tubuhnya di tangga kolam. Aku mengangkat kaki kanan mbak Fani, lalu meletakkannya di tangga, dan memasukkan kontolku ke memeknya. Aku berciuman sangat mesra hingga mempermainkan lidah kami, bahkan sesekali mbak Fani menggigit lidahku.

“Ayo sayang, goyang mbak Fani” ujar mbak Fani dengan manja.

Kumasukkan kontolku perlahan, hingga akhirnya kupacu dengan cepat. Mbak Fani mendesah desah seperti orang kesurupan, hingga akhirnya kuciumi bibirnya. Mbak Fani mendorong tubuhku, hingga kontolku terlepas dari memeknya, namun ia menarik tanganku kembali, dan sekarang mbak Fanilah yang mendorongku ke tangga kolam. Mbak Fani mengangkat kaki kirinya, memasukkan memeknya ke kontolku, lalu memutar tubuhnya hingga memacu tubuhnya dengan cepat. 10 menit kami bergumul di tangga kolam, hingga akhirnya aku menjambak rambut mbak Fani, merangkulnya erat erat hingga memelukku rapat dan kumuntahkan maniku di memeknya. Aku dan mbak Fani berpelukan, lalu kukecup bibirnya dengan lembut.
Indah memberikan handuk padaku dan mbak Fani. Kami berjalan ke arah Evi dan Inem yang terkulai di kursi panjang. Mbak Fani dan Indah duduk berpangkuan. Tiba tiba kulihat mama yang masih duduk sambil melipatkan tangannya dan menyilakan kakinya.
Melihat mama, aku memberanikan diri untuk bertanya pada mbak Fani.

“Mbak, boleh nggak aku ngentot sama mama?” ujarku pelan dan penuh rasa cemas.

Mbak Fani tidak menjawab, namun Indah berkata: “kalau berani, coba aja”

Akupun berlalu menuju mama sambil mengocokkan kontolku dengan cepat, sambil diiringi lirikan mata mbak Fani dan tatapan tajam Indah. Aku tiba dihadapan Mama, dan mama melepaskan tangannya yang berlipat sambil nampak kebingungan menghadapi aku yang datang menghampirinya sambil mengocok kontolku . Kali ini aku tidak memegang, namun aku terus mengocokkan kontolku dan mengarahkannya ke baju ketat mama.

“Eh…eh…eh… kamu mau ngapain” ujar mama kebingungan melihat ulahku

Mama berusaha berdiri, namun aku mendorongnya lembut hingga ia duduk kembali di kursi. Mama meronta ronta sambil teriak memanggil nama nama anaknya serta Inem. Indah, mbak Fani, Evi disusul Inem berlarian menghampiriku dan mama.

“Fani, tolong mama mau diperkosa nih” teriak mama lantang.

“Indah, tolong mama dong. Evi, Nemmmmmm” teriak mama lagi dengan nada yang lebih keras.

Rumah besar mereka memang membuat tetangga tidak bisa mendengar kami. Mama terus berteriak, namun aku terus mengocokkan kontolku dengan lembut, hingga akhirnya kumuncratkan maniku di baju ketat mama.

“aduhhh, gimana sih ini…. Kamu tuh…..” ujar mama sambil melap maniku dari bajunya.

Indah, Evi dan Inem hanya terdiam, dan tiba tiba mbak Fani mengeluarkan suaranya dengan lembut: “kalau mama mau, nggak apa apa kok mah. Kami nggak ngadu deh ke papa. Lagian, tadi aku lihat mama meremas remas payudara mama kok”

“ngaco kamu Fani” ujar mama sedikit geram

Aku membelai belai kontolku, dan kali ini kuberanikan untuk mengarahkannya ke memek mama yang masih terbungkus rok. Mama mendorongku, lalu kembali melipatkan tangannya. Kali ini Indah yang mengocokkan kontolku dengan lembut sambil mengarahkannya ke baju ketat mama, dan mbak Fani membisikan sesuatu di telinga mama. Aku tidak mendengar bisikan mbak fani, namun akhirnya mbak Fani menarik tanganku, kemudian membimbingnya ke arah mama, namun mereka semua mundur 2 meter dari kursi mama. Aku terdiam 5 menit dihadapan mama sambil mengocokkan kontolku dengan lembut.

“Kok ngocoknya pelan, yang cepat dong. Muntahkan lagi di baju mama” ujarnya sinis sambil melepaskan lipatan tangannya.

Ahhh, luar biasa sekali pikirku. Aku tak tau apa yang dibisikkan mbak Fani pada mama. Aku hanya mengocokkan kontolku lebih cepat, hingga sekali lagi kumuntahkan maniku di baju mama. Aku mengurut kontolku dengan keras, hingga mengeluarkan tetes mani terakhir, setelah itu aku terdiam 5 menit memperhatikan kontolku yang masih saja mengacung dan keras. Aku memandang mama, demikian sebaliknya.

“Kok, cuma dibaju” kata mama nakal

Akupun segera meremas tetek pepayanya yang masih terbungkus BH dan baju ketatnya itu, lalu mama membisiki telingaku: “saya nggak suka yang kasar kasar. Yang lembut ya”

Akupun menarik lembut kepala mama kearah kontolku, kemudian memintanya menjilatinya. Mama mengocokkan kontolku terlebih dahulu, lalu menjilatinya, menghisapnya, hingga mengocokkannya kembali. Aku mencabut kontolku dari mulutnya, kemudian memuncratkan maniku sekali lagi di bajunya.

“Aduh, kamu kok suka muncratin disini sih” kata mama menggoda

Akupun membuka bajunya dengan lembut sambil meletakkan tangan kanannya dikontolku, lalu ia mengocokknya. Aku sungguh kaget melihat tetek mama yang indah. Bentuknya memang seperti papaya, jatuh kebawah bergelayutan, namun puttingnya masih berwarna kemerahan. Aku meremas teteknya dengan lembut, hingga akhirnya aku melepaskan kontolku dari tangannya, dan mengarahkannya ke tetek kanan mama. Kumainkan kontolku di putingnya, lalu kuminta mama meludahi belahan teteknya. Aku meminta mama maju sedikit kedepan, lalu kuletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian kujepit dengan tetekanya yang kurapatkan dengan tangan kiri dan kananku. Aku mengentoti teteknya saat ini. 5 menit kuentoti tetek mama, hingga akhirnya aku memuncratkan mani didagunya. Mama memintaku membersihkan mani didagunya dengan lidahku. Aku menunjukkan keberatan, namun mama memaksaku. Akhirnya aku kembali meletakkan kontolku di belahan teteknya, menjepitnya, lalu kukocokkan lagi seperti tadi. Mama melepaskan kontolku dari jepitan teteknya, dan memintaku menuruti kemauannya. Dengan berat hati, kujilati maniku didagu mama, hingga kemudian ia menjambakku dan meghisap mulutku hingga menyedot semua maniku yang tercecer di lidahku. Mama memintaku menjulurkan lidah, dan ia menghisapnya seperti ******.

“Sekarang, hisap putting mama, lalu buka rok dan celana mama ya” kata mama lembut.

Kuhisap putingnya kirinya, kuangkat tetek kanannya hingga menggelantung lalu kuremas remas. Mama mendesis seperti ular sambil berusaha meraih kontolku.

“Ayo say, sekarang ke sini mama” ujar mama sambil mengelus elus memeknya yang masih terbungkus rok dan celana dalam.

Akupun jongkok dihadapan perutnya, kujilati pusarnya sambil memintanya mengangkat tubuhnya agar aku bisa menaikkan roknya. Kuangkat roknya hingga menutupi perutnya, kemudian kubuka kakinya dan kugigit memeknya yang masih terbungkus celana dalam putih bersihnya.

“kamu heeee….bat sayangggggg” sahut mama terbata bata

“Ayo dong, lepas celananya” sahutnya lagi sambil membelai rambutku seperti anak kecil.

Kubuka celana dalam mama hanya sampai di betis, lalu kuraba pahanya hingga pangkalnya. Mama nampak merinding dan mendesis keenakan. Sekarang kuraba memeknya yang telah basah. Kurentangkan kakinya dengan kasar hingga celana dalamnya yang di betis robek. Kubuka seluruh celana dalamnya yang telah robek itu lalu kuciumi.

“Sayang, sudah nggak tahan nih. Ayo dong jilatin” ujar mama sambil menggoyang goyangkan tetek kanan dan kirinya.

Kujilati memek mama yang sudah sedikit lebar itu. Mama memintaku memasukkan lidahku kememeknya, hingga akhirnya tangan kanannya menempelkan kepalaku ke memeknya hingga membuatku tak bisa bernafas.

“Kita ke kolam ya” ujar mama lembut sambil menggandeng tangan kananku

Sesampainya di kolam, mama memegang besi tangga kolam, lalu menungging. Mama mengarahkan kontolku di pantatnya. Kuhujamkan kontolku hingga terbenam, dan mama meringis. Mama memintaku untuk membenamkan kontolku dipantatnya lalu menyuruhku diam saja. Tiba tiba ia memberikan kedua tangannya padaku untuk dipegang. Dalam posisi menungging, kontolku terbenam di pantatnya dan tangan kami berpegangan, tiba tiba mama memutar pantatnya perlahan lahan, hingga akhirnya berputar dengan cepat sekali. 2 menit pertama aku menyemprotkan maniku di pantatnya. Menit ke 5 aku memuntahkan mani yang kedua. Menit ke 10 kumuntahkan yang ketiga hingga maniku menetes di lantai.

“Mahhhh…..ampuuuuuunnnnn……..nikkkmaattt….beett…..t tuuullll” kataku sambil meringis

“ahhh….ahhhhh….ouuuuhhhhhhhhhggggghhhhh….” sahut mama sambil melepaskan tanganku dan mencabut kontolku dari pantatnya.

Mama langsung menghisap kontolku, mengocoknya dan sekarang ia menyenderkan pantatnya dibesi kolam, lalu memasukkan kontolku di memeknya sambil berkata: “tadi kan mama yang kerja dan puaskan kamu, sekarang puaskan mama ya”.

Karena tak mau dianggap egois, akupun meminta mama berbaring dilantai, kemudian aku mulai memainkan jariku dimemek mama. Satu jari kumasukkan, namun mama belum bereaksi apapun. Dua jaripun demikian. Akhirnya kumasukkan tiga jariku, namun mama baru bereaksi sedikit. Memek mama memang sudah lebar. Kontolku yang sebesar nampaknya masih longgar jika menembus memeknya. Aku sedikit kebingungan, hingga akhirnya aku melepaskan jam tangan dan cincinku. Aku meludahi tangan kananku, lalu mulai menggesek gesekkannya di memek mama. Mama mulai mendesis desis, saat bulu tanganku menggesek memeknya. Selanjutnya kumasukkan tiga jariku kememeknya, lalu empat jari, hingga akhirnya kumasukkan kepalan tanganku secara perlahan

“Ahhhhhhh…..sakiiiiitttttttt…..” teriak mama

Aku tak memperdulikannya, hingga akhirnya kepalan tanganku menembus memek lebarnya. Kuludahi tanganku 5 kali sambil kumasukan dan kukeluarkan di memek mama.

“Ahhhh nikkkkkmatttt…terusss….terussss….akkkkhhhh … ohhhhh ……lebihhh ceeeeeppp……aattttttttt sayanggg” teriak mama

Tangan kiriku kupuaskan untuk meremas remas tetek pepayanya, dan tangan kananku kukeluarkan dan kumasukkan dengan cepat dimemeknya. Aku merasakan mama telah keluar, namun aku terus memacu tanganku lebih cepat hingga akhirnya mama keluar kali yang kedua. Setelah melihat tetesan darah, aku mencabut tanganku perlahan, diikuti teriakan mama: “auwwwww”

“jilatin dong say” ujar mama lirih

Kujilati cairan bercampur darah dimemek mama sambil sesekali meremas lipatan perutnya yang putih dan menggoda. Mama menjambak rambutku, dan menariknya kemukanya sambil berkata: “terima kasih sayang, mama puas sekali”

“aku juga ma” sahutku sambil mengangkatnya berdiri.

Mama memanggil semua putrinya dan Inem. Setelah mereka datang, mama meminta mereka semua jongkok dihadapan kontolku, diiringi dengan mama. Mama meminta semua menjilati kontolku secara bersamaan. 10 menit mereka menjilati, menghisap sampai menggigit biji pelerku hingga aku memuntahkan mani selama 5 kali di muka mereka masing masing.

Aku mengambil jamku dilantai, dan waktu menunjukkan pukul 06.00 WIB. Akhirnya kami masuk satu persatu kedalam rumah. Evi memelukku dari depan, mengangkat kaki kanannya, memasukkan kontolku ke mememknya, lalu dengan perlahan mengambil posisi di gendong olehku.

“Ayo kak, kita mandi air hangat didalam, tapi kakak gendong aku ya” bisik Evi sambil terus memaju mundurkan dan memutarkan memeknya yang tertancap kontolku. Akupun berjalan menuju kamar mandi dengan jalan perlahan, karena kedua kaki Evi menjepit erat pantatku.

Di kamar mandi, aku dimandikan oleh mereka semua. Setelah mbak Fani menghandukiku, mama mengoleskan salep yang lain dengan yang tadi, lalu ia memintaku berpakaian.
Mereka pun berpencar ke kamar masing masing, dan aku memakai kaos dan celanaku. Aku melirik kontolku, dan kali ini kulihat telah kembali seperti semula. Setelah berpakaian, aku menuju ruang tengah. Mama memangil semua putrinya serta Inem. Semuanya telah mengenakan pakaian. Mama berbicara serius sehubungan dengan keputusannya memisahkan kami. Akupun menyetujui keputusan tersebut, dan akhirnya mama memintaku membuka retsleting celana ku dan mengeluarkan kontolku sekali lagi. Mama meminta semua yang disitu menghisap kontolku untuk terakhir kalinya. Mulai dari Evi, mbak Fani dan Inem kusemprot dengan mani di mulut mereka. Sampai di Indah pacarku, aku berhenti sejenak, memintanya berdiri, memeluknya sambil meneteskan airmata.

“Maaf kalau aku punya salah ya Ndah” bisikku di telinga Indah

Tanpa berkata apapun, Indah mengocokkan kontolku dengan tangannya, lalu mengisapnya hingga kusemprotkan maniku yang tidak banyak lagi dimukanya. Akhirnya aku bergeser ke arah mama, dan membiarkan kontolku dihadapnnya. Mama membuka kancing dasternya hingga tetek pepayanya menyembul. Mama meletakkan kontolku dibelahan dadanya, kemudian menjepit kontolku dengan teteknya, meludahi belahan dadanya, hingga akhirnya ia mengocokkan kontolku dengan tetek pepayanya. Mama mengeluarkan maniku sebanyak 2 kali, hingga yang ketiga kontolku tak mengelurkan setetes mani pun. Mama mencabut kontolku dari teteknya, menghisapnya dengan buas, lalu mengurut kontolku seperti memeras jeruk. Kontolku benar benar mengecil sekarang, lalu mama memasukannya kedalam celana dalamku, menciumnya, lalu menutup retsletingku. Aku pun berpamitan pada mereka semua, hingga akhirnya tak bertemu mereka hingga saat ini.


TAMAT

Antara Indah, Adiknya, Inem pembantunya Dan Kakaknya