Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
Mbak Yuni adalah anak tetangga nenekku di desa daerah Cilacap yang ikut dengan keluargaku di Kota Semarang sejak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku. Kami sangat akrab bahkan di juga sering ngeloni aku. Mbak Yuni ikut dengan keluargaku sampai dia lulus SMA atau aku kelas 2 SD dan dia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apa-apa terhadapnya.

Setelah itu kami jarang bertemu, paling-paling hanya setahun satu atau dua kali. Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas dua SMP aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.


Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Yuni sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi rumah Mbak Yuni. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) aku pergi kira-kira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah cerita ini berawal.

Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yang ciri-cirinya sama dengan yang dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu aku coba mengetok pintu rumahnya.

"Ya sebentar.." terdengar sahutan wanita dari dalam.

Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal wajah itu walau lama tidak bertemu. Mbak Yuni terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu. Dia sepertinya tidak mengenaliku.

"Cari siapa ya? tanya Mbak Yuni".
"Anda Mbak Yuni kan?" aku balik bertanya.
"Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?" Mbak Yuni kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingat-ingat.
"Masih inget sama aku nggak Mbak? Aku Aris Mbak, masak lupa sama aku", kataku.
"Kamu Aris anaknya Pak Tono?" kata Mbak Yuni setengah nggak percaya.
"Ya ampun Ris, aku nggak ngenalin kamu lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu." Kata Mbak Yuni sambil memeluk tubuhku dan menciumi wajahku.

Aku kaget setengah mati, baru kali ini aku diciumi seorang wanita. Aku rasakan buah dadanya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.

"Kamu kapan datangnya, dengan siapa" kata Mbak Yuni sambil melepas pelukannya.
"Saya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri." kataku.
"Eh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk." Katanya sambil menggeret tanganku.

Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sana-sini, maklum lama nggak tetemu. Mbak Yuni duduk berhimpitan denganku. Tentu saja buah dadanya menempel di lenganku. Aku sedikit terangsang karena hal ini, tapi aku coba menghilangkan pikiran ini karena Mbak Yuni sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.

"Eh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus, sebentar ya.." kata Mbak Yuni ditengah pembicaraan.

Tak lama kemudian ia datang, "Ayo ini diminum", kata Mbak Yuni.

"Kok sepi, pada kemana Mbak?" Tanyaku.
"Oh kebetulan Mas Heri (suaminya Mbak Yuni) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangya dan si Dani (anaknya Mbak Yuni) ikut" jawab Mbak Yuni.
"Belum punya Adik Mbak dan Mbak Yuni kok nggak ikut?" tanyaku lagi.
"Belum Ris padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu. Mbak Yuni ngurusi rumah jadi nggak bisa ikut" katanya.
"Eh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamu" katanya lagi.
"Iya Mbak, tadi sudah pamit kok" kataku.
"Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin" kata Mbak Yuni.

Lalu aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai aku lihat-lihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Yuni gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Yuni selesai mandi dan aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Aku pastikan ia tidak memakai BH dan mungkin CD juga karena tidak aku lihat tali BH menggantung di pundaknya.

"Sayang Ris ikannya masih kecil, belum bisa buat lauk" kata Mbak Yuni sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar tentang kolam ikannya.

Kulihat buah dadanya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum tubuhnya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataku tak lepas memperhatikan tubuh Mbak Yuni dari belakang. Kulitnya benar-benar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat jelas bikin burungku berdiri. Ingin rasanya aku lepas handuknya lalu meremas, menjilat buah dadanya, dan menusuk-nusuk selangkangannya dengan burungku seperti dalam bokep yang sering aku lihat. Sejenak aku berkhayal lalu kucoba menghilangkan khayalan itu.

Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kami nonton teve sambil ngobrol banyak hal, sampai tak terasa sudah pukul sembilan.

"Ris nanti kamu tidur sama aku ya, Mbak kangen lho ngeloni kamu" kata Mbak Yuni.
"Apa Mbak?" Kataku terkejut.
"Iya.. Kamu nanti tidur sama aku saja. Inget nggak dulu waktu kecil aku sering ngeloni kamu" katanya.
"Iya Mbak aku inget" jawabku.
"Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih" kata Mbak Yuni sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku berangan-angan ngeres. Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk naik ke ranjang.
"Ayo jadi tidur nggak?" tanya Mbak Yuni.

Lalu aku naik dan tiduran disampingnya. Aku deg-degan. Kami masih ngobrol sampai jam 10 malam.

"Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget" kata Mbak Yuni.
"Iya Mbak" kataku walaupun sebenarnya aku belum ngantuk karena pikiranku semakin ngeres saja terbayang-bayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Yuni terbaring di sampingku, kurasakan burungku mengeras.

Aku melirik ke arah Mbak Yuni dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ingin aku onani karena sudah tidak tahan, ingin juga aku memeluk Mbak Yuni dan menikmati tubuhnya, tapi itu tidak mungkin pikirku. Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak bisa sampai jam 11 malam. Lalu aku putus kan untuk melihat paha Mbak Yuni sambil aku onani karena bingung dan udah tidak tahan lagi.

Dengan dada berdebar-debar aku buka selimut yang menutupi kakinya, kemudian dengan pelan-pelan aku singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku beitu dekat dan jelas. Semula aku hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melakukan onani, tetapi aku penasaran ingin merasakan bagaimana meraba paha seorang perempuan tapi aku takut kalau dia terbangun. Kurasakan burungku melonjak-lonjak seakan ingin melihat apa yang membuatnya terbangun. Karena sudah dikuasai nafsu akhirnya aku nekad, kapan lagi kalau tidak sekarang pikirku.

Dengan hati-hati aku mulai meraba paha Mbak Yuni dari atas lutut lalu keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran aku coba meraba celana dalamnya, tetapi tiba-tiba Mbak Yuni terbangun.

"Aris! Apa yang kamu lakukan!" kata Mbak Yuni dengan terkejut.

Ia lalu menutupi pahanya dengan rok dan selimutnya lalu duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.

"Kamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Yuni. Siapa yang ngajari kamu?" kata Mbak Yuni dengan marah.

Aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Burungku yang tadinya begitu perkasa aku rasakan langsung mengecil seakan hilang.

"Tak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmu" kata Mbak Yuni.
"Ja.. jangan Mbak" kataku ketakutan.
"Mbak Yuni kan juga salah" kataku lagi membela diri.
"Apa maksudmu?" tanya Mbak Yuni.

"Mbak Yuni masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, sudah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Yuni masih memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai ngeloni aku segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Yuni hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbak" jelasku.

Kulihat Mbak Yuni hanya diam saja, lalu aku berniat keluar dari kamar.

"Mbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar sebelah" kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.

Mbak Yuni hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat bodoh dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku diketuk.

"Ris.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?" Terdengar suara Mbak Yuni dari luar.
"Ya Mbak, silakan" kataku sambil berpikir mau apa dia.

Mbak Yuni masuk kamarku lalu kami duduk di tepi ranjang. Aku lihat wajahnya sudah tidak marah lagi.

"Ris.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu" katanya.
"Seharusnya saya yang minta maaf telah kurang ajar sama Mbak Yuni" kataku.
"Nggak Ris, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yang kamu katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu. Mbak tidak menyadari bahwa kamu sekarang sudah besar" kata Mbak Yuni.

Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Yuni tidak marah lagi.

"Ris, kamu bener mau sama Mbak?" tanya Mbak Yuni.
"Maksud Mbak?" kataku terkejut sambil memandangi wajahnya yang terlihat bagitu manis.
"Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa' sih kamu masih tertarik sama aku?" katanya lagi.

Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.

"Maksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aku rela kok melakukannya dengan kamu" katanya lagi.

Mendengar hal itu aku tambah terkejut, seakan nggak percaya.

"Apa Mbak" kataku terkejut.
"Bukan apa-apa Ris, kamu jangan berpikiran enggak-enggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tidak menganggap kamu anak kecil lagi" kata Mbak Yuni

Lagi-lagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku mengatakan iya, tapi takut dan malu. Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.

"Gimana Ris? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua" kata Mbak Yuni.
Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.
"Kamu pasti belum pernah kan?" kata Mbak Yuni.
"Belum Mbak, tapi pernah lihat di film" kataku.
"Kalau begitu aku nggak perlu ngajari kamu lagi" kata Mbak Yuni.

Cerita Sex Hadiah Kedewasaan Bersama Mbak Tita Mbak Yuni lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Mbak Yuni mencopot roknya dan paha mulus yang aku gerayangi tadi terlihat. Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang buah dada berukuran sedang terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan. Mbak Yuni lalu mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang karena baru pertama kali ini aku melihat wanita telanjang langsung dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. Aku begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah
jual bokeb murah
berbaring di ranjang tepat dihadapanku. Aku tertegun dan ragu untuk melakukannya.

"Ayo Ris.. apa yang kamu tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantu" kata Mbak Yuni.

Segera aku melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Yuni memperhatikan burungku yang berdenyut-denyut, aku lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.

"Ooh.. Ris.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh.." Mbak Yuni mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.
"Emmh oh aarghh" Mbak Yuni mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.

Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yang tumbuh di sekeliling memeknya. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jari-jariku keluar masuk di dalam lubang yang semakin licin tersebut.

"Aargghh.. eemhh.. Ris kam.. mu ngapainn oohh.." kata Mbak Yuni meracau tak karuan, kakinya menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat. Tak kupedulikan kata-katanya. Tubuh Mbak Yuni semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Kuarasakan tubuh Mbak Yuni menegang dan kulihat wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam memeknya.
"Ohh.. arghh.. oohh.." kata Mbak Yuni dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba..
"Oohh aahh.." Mbak Yuni mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi memeknya.
"Ohh.. ohh.. emhh.." Mbak Yuni masih mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
"Ris apa yang kamu lakukan kok Mbak bisa kayak gini" tanya Mbak Yuni.
"Kenapa emangnya Mbak? Kataku.
"Baru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, luar biasa" kata Mbak Yuni.

Ia lalu bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tidak pernah mendapatkan kepuasan, karena mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.

"Mbak sekarang giliranku" kubisikkan ditelinganya, Mbak Yuni mengangguk kecil.

Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati, tak lupa jari-jariku kupermainkan di dalam memeknya.

"Aarghh.. emhh.. ooh.." terdengar Mbak Yuni mulai mendesah-desah lagi tanda ia telah terangsang.

Setelah aku rasa cukup, aku ingin segera merasakan bagaimana rasanya menusukkan burungku ke dalam memeknya. Aku mensejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan Mbak Yuni tahu, ia lalu mengangkangkan pahanya dan kuarahkan burungku ke memeknya. Setelah sampai didepannya aku ragu untuk melakukannya.

"Ayo Ris jangan takut, masukin aja" kata Mbak Yuni.

Perlahan-lahan aku masukkan burungku sambil kunikmati, bless terasa nikmat saat itu. Burungku mudah saja memasuki memeknya karena sudah sangat basah dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Ohh nikmatnya.

"Lebih cepat Ris arghh.. emhh" kata Mbak Yuni terputus-putus dengan mata merem-melek.

Aku percepat gerakanku dan terdengar suara berkecipak dari memeknya.

"Iya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh.." Mbak Yuni berkata tak karuan.

Keringat kami bercucuran deras sekali. Kulihat wajahnya semakin memerah.

"Ris, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh.." kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan memeknya dipenuhi cairan hangat menyiram penisku.

Remasan dinding memeknya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam memeknya. Kurasakan nikmat yang luar biasa, berkali-kali lebih nikmat dibandingkan ketika aku onani. Aku peluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya yang baru aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya aku cabut burungku dan merebahkan badanku disampinya.

"Mbak Yuni, terima kasih ya.." kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
"Mbak juga Ris.. baru kali ini Mbak merasakan kepuasan seperti ini, kamu hebat" kata Mbak Yuni lalu mengecup bibirku.

Kami berdua lalu tidur karena kecapaian.

Kira-kira jam 3 pagi aku terbangun dan merasa haus sekali, aku ingin mencari minum. Ketika aku baru mau turun dari ranjang, Mbak Yuni juga terbangun.

"Kamu mau kemana Ris.." katanya.
"Aku mau cari minum, aku haus. Mbak Yuni mau?" Kataku.

Ia hanya mengangguk kecil. Aku ambil selimut untuk menutupi anuku lalu aku ke dapur dan kuambil sebotol air putih.

"Ini Mbak minumnya" kataku sambil kusodorkan segelas air putih.

Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Yuni yang tubuhnya ditutupi selimut meminum air yang kuberikan.

"Ada apa Ris, kok kamu memandangi Mbak" katanya.
"Ah nggak Papa. Mbak cantik" kataku sedikit merayu.
"Ah kamu Ris, bisa aja, Mbak kan udah tua Ris" kata Mbak Yuni.
"Bener kok, Mbak malah makin cantik sekarang" kataku sambil kukecup bibirnya.
"Ris.. boleh nggak Mbak minta sesuatu" kata Mbak Yuni.
"Minta apa Mbak?" tanyaku penasaran.
"Mau nggak kamu kalau.." kata Mbak Yuni terhenti.
"Kalau apa Mbak?" kataku penuh tanda tanya.
"Kalau.. kalau kamu emm.. melakukannya lagi" kata Mbak Yuni dengan malu-malu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.
"Lho.. katanya tadi, sekali aja ya Ris.., tapi sekarang kok?" kataku menggodanya.
"Ah kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak gini" katanya manja sambil mencubit lenganku.
"Dengan senang hati aku akan melayani Mbak Yuni" kataku.

Sebenarnya aku baru mau mengajaknya lagi, e.. malah dia duluan. Ternyata Mbak Yuni juga ketagihan. Memang benar jika seorang wanita pernah merasa puas, dia sendiri yang akan meminta. Kami mulai bercumbu lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan dengan sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci tubuhnya, karena kini aku tahu Mbak Yuni juga sangat ingin. Seperti tadi, pertama-tama bibirnya yang kunikmati. Dengan penuh kelembutan aku melumat-lumat bibir Mbak Yuni.

Aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Yuni pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku juga seperti tadi, beroperasi di dadanya, kuremas-remas dadanya yang kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.

Aku sudah puas dengan bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat buah dadanya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang kanan. Kulihat mata Mbak Yuni sangat redup, dan ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.

"Oohh.. arghh.. en.. ennak Ris.. emhh.." kata Mbak Yuni mendesah-desah.

Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, rupanya ia ingin aku segera mempermainkan memeknya. Jari-jarikupun segera bergerilya di memeknya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.

"Ya.. terruss.. aarggghh.. emmhh.. enak.. oohh.." mulut Mbak Yuni meracau.

Setiap kali Mbak Yuni terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk memeknya, setelah dia agak tenang, aku permainkan lagi memeknya, kulakukan beberapa kali.

"Emhh Ris.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh.." kata Mbak Yuni memohon.

Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku tetapi dengan mulutku, aku benar-benar ingin mencoba semua yang pernah aku lihat di bokep.

Segera aku arahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rumput-rumpuat hitam yang disekeliling memeknya dan terlihatlah memeknya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah karena baru kali ini melihatnya. Aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku seperti apa sih rasanya menjilati memek lebih besar. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.

"Ris.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh.." kata Mbak Yuni.

Ia terkejut aku menggunakan mulutku untuk menjilati memeknya, tapi aku tidak pedulikan kata-katanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.

"Ohmm.. emhh.. ennak Ris.. aahh.." kata Mbak Yuni ketika ia klimaks.

Setelah Mbak Yuni selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku kembali mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kepuasan.

"Gantian Mbak diatas ya sekarang" kataku.
"Gimana Ris aku nggak ngerti" kata Mbak Yuni.

Daripada aku menjelaskan, langsung aku praktekkan. Aku tidur telentang dan Mbak Yuni aku suruh melangkah diatas burungku, tampaknya ia mulai mengerti. Tangannya memegang burungku yang tegang hebat lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan memeknya diarahkan ke burungku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan memeknya. Mbak Yuni lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.

Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan. Wajah Mbak Yuni terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.

"Oh emhh yaah.. ohh.." itulah kata-kata yang keluar dari mulut Mbak Yuni.
"Aku nggak kuat lagi Ris.." kata Mbak Yuni sambil berhenti menggerakkan badannya, aku tahu ia segera mencapai klimaks.

Kurebahkan badannya dan aku segera memompa memeknya dan tak lama kemudian Mbak Yuni mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Yuni menikmati kenikmatan yang diperolehnya. Setelah itu aku cabut penisku dan kusuruh Mbak Yuni menungging lalu kumasukkan burungku dari belakang. Mbak Yuni terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang aku lakukan kepadanya. Ia hanya bisa mendesah kenikmatan.

Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh Mbak Yuni rebahan lagi dan aku masukkan lagi burungku dan memompa memeknya lagi karena aku sudah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa saat kemudian Mbak Yuni ingin klimaks lagi, wajahnya memerah, tubuhnya menggelinjang kesana kemari.

"Ahh.. oh.. Mbak mau enak lagi Ris.. arrghh ahh.." kata Mbak Yuni.
"Tunggu Mbak, ki kita bareng aku juga hampir" kataku.
"Mbak udah nggak tahan Ris.. ahh.." kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat menyiram burungku dan kurasakan dinding memeknya seakan-akan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya akupun tidak kuat dan croott.. akupun mencapai klimaks, oh my god nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yang baru saja kami raih.

Hadiah Dari Mbak Tita

Namaku Rudi. Kisah ini bermula ketika aku berumur 18 tahun.

Pagi itu Tante Nur meneleponku dan memintaku untuk datang ke rumahnya. Dia mengeluh pipa air di dapurnya rusak. Karena aku sudah beberapa kali berhasil memperbaiki pipa2 air dirumahnya, maka dia memanggilku untuk memperbaiki pipa air yang rusak tersebut dirumahnya dan karena hari ini jadwalku sangat padat, maka aku bilang kalau aku akan kerumahnya setelah semua kegiatanku selesai.


Sore hari setelah semua kegiatan aku selesaikan, maka sesuai janjiku pada Tante Nur aku datang ke rumahnya. Begitu sampai di rumahnya, akupun langsung masuk kedalam rumah dan ternyata Tante Nur sudah berada di ruang tamu menunggu kedatanganku dengan mengenakan baju santai. Baju tersebut sangat pendek dan hanya menutupi 1/3 bagian paha mulus Tante Nur.

“Ayo Rud, aku tunjukin pipa yang rusak” kata Tante Nur sambil membalikkan badan dan segera melangkah ke dapur.

Aku mengikuti Tante Nur dari belakang. Mataku tak berkedip melihat penampilan Tante Nur itu. Dengan memakai baju yang sangat pendek dan ketat tersebut, membuat mataku dengan jelas bisa melihat mulusnya paha serta bentuk dan lekuk pantat Tante Nur yang bulat padat bergoyang ketika dia berjalan.

Begitu tiba di dapur, sebelum mulai memperbaiki pipa yang rusak, karena takut kotor dan basah, aku melepas celana panjang dan kemejaku sehingga aku tinggal mengenakan celana boxer dan kaos oblong.

Setelah aku selesai berganti pakaian, aku membungkuk untuk melihat pipa di bawah tempat cuci piring. Aku malihat ada air menetes dari sambungan pipa. Dengan posisi selonjor di lantai, aku masukkan badanku di bawah kolong tempat cuci piring tersebut dan mulai membetulkan sambungan yang rusak tersebut. Namun betapa terkejutnya aku saat aku melihat ke arah Tante Nur. Karena baju Tante Nur yang sangat pendek tersebut, maka dari posisiku tersebut aku dapat melihat langsung kearah selangkangan Tante Nur. Ternyata Tante Nur tidak memakai celana dalam sehingga aku bisa melihat langsung memek Tante Nur yang dipenuhi dengan bulu2 jembut yang cukup lebat. Sejenak aku terdiam sambil memandangi memek Tante Nur hinga aku dikejutkan oleh suara Tante Nur.

“Gimana Rud, apa perlu diganti sambungan pipanya?” tanya Tante Nur.
“Gak usah Tan, hanya perlu ditambah seal tape dan dikencangin saja juga beres” jawabku dengan muka memerah menahan malu karena ketahuan Tante Nur kalau aku sedang memandangi bagian selangkangannya.

Akupun kembali memperbaiki sambungan pipa yang rusak tersebut sambil sesekali kembali mataku melihat selangkangan Tante Nur yang jelas menampakkan bukit memeknya yang menggembung itu. Tiba2 aku merasakan sesuatu menggesek-gesek bagian tengah selangkanganku. Gesekan tersebut tepat mengenai biji pelirku. Saat aku melihat kebawah, aku melihat kaki Tente Nur yang menggesek gesek biji pelirku tersebut. Akupun merasakan nikmatnya gesekan kaki Tante Nur tersebut pada biji pelirku dan akupun seketika menghentikan aktifitasku yang sedang memperbaiki sambungan pipa yang rusak tersebut. Tante Nur terus melakukan hal tersebut hingga kurang lebih 1 menit lamanya. Karena rangsangan pada biji pelirku tersebut, kontolkupun mulai ngaceng dan keras. Namun disaat aku sedang merasakan nikmatnya gesekan tersebut, tiba2 Tante Nur menghentikan gerakan kakinya dan melangkah beranjak dari tempatnya semula. Saat gesekan itu berhenti, pikiranku menjadi tidak karuan. Aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin dengan harapan setelah selesai maka aku bisa menuntaskan nafsuku yang sempat terhenti tersebut dengan beronani di kamar mandi. Sebentar kemudian pekerjaanku selesai.

Alangkah terkejutnya aku saat aku keluar dari bawah bak cuci piring, aku melihat Tante Nur sudah dalam keadaan telanjang bulat. Bajunya sudah teronggok di lantai. Sambil duduk di atas meja dapur, Tante Nur menggosok-gosok memeknya dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya meremas-remas payudaranya yang besar. Tanpa berkedip aku melihat kearah memek Tante Nur yang menggembung bentuknya dan dikelilingi oleh bulu2 jembut yang cukup lebat tersebut.

“Apakah kamu menyukainya, Rud?” Dengan suara manja menggoda Tante Nur bertanya kepadaku. Aku tidak menjawab dan terus menatap kearah memeknya.
"Apa kamu gak ingin menyentuhnya, Rud? Kamu pasti akan menyukainya kalau sudah menyentuhnya" Ujar Tante Nur mengagetkanku.

Bagaikan orang yang kena hipnotis, perlahan aku mendekati Tante Nur. Ini adalah pertama kalinya aku melihat memek perempuan secara nyata dan dari jarak yang begitu dekat. Sebelumnya aku hanya melihat memek perempuan dari film2 bokep, tapi kini aku dapat melihatnya secara langsung. Semua itu semakin membuat nafsuku bergelora dan kontolkupun semakin tegak dan keras.

Belum hilang rasa keterkejutanku, tiba2 tangan Tente Nur meraih tanganku dan menuntunnya ke memeknya. Tante Nur membiarkan aku menyentuh memeknya dan tangankupun mulai meraba bukit memeknya. Bukit memek Tante Nur terasa empuk di tanganku. Lalu Tente Nur memegang tanganku yang lain dan mengarahkannya pada payudaranya. Luar biasa besar payudara Tante Nur dan kini aku meremas payudara tersebut dengan tanganku. Sungguh saat itu persaaanku semakin tidak karuan. Kedua tangan aku benar2 menyentuh dua bagian yang paling sensitif dari seorang perempuan yaitu memek dan payudara dan itu adalah milik Tante Nur.

Tente Nur memejamkan matanya menikmati rabaan tanganku pada memek dan payudaranya sambil menjilati kedua bibirnya dengan lidahnya sendiri. Tampaknya Tante Nur telah benar2 terangsang oleh nafsu birahinya. Tiba2 Tante Nur membuka matanya.

"Rud, Apakah kamu pernah ngentot dengan perempuan?" tanya Tante Nur dengan vulgarnya. Mendengar pertanyaan tersebut, jantungku semakin berdegup kencang.
"Belum pernah, Tan" jawabku dengan suara bergetar menahan gejolak nafsu birahiku yang semakin meninggi.
"Mau gak kamu ngentot dengan Tante?" tanya Tante Nur lagi.

Aku tertegun mendengar kalimat Tante Nur barusan. Baru sekali ini aku melihat lalu kemudian memegang dan meraba memek dan payudara perempuan, tiba2 kini Tante Nur ingin aku ngentot dengan dirinya.

"Jangan khawatir, Rudi. Tante akan mengajari kamu bagaimana memuaskan perempuan dengan kontolmu itu dan kamu akan merasakan bagaimana nikmatnya ngentot dengan perempuan” kata Tante Nur melihat kebingunganku tersebut, sambill memasukkan tangannya kedalam celana boxerku dan mengusap-usap batang kontolku yang sudah ngaceng dari tadi.

Tante Nur bangkit dari duduknya dan menyuruhku untuk ganti duduk di atas meja dapur. Dengan cepat Tante Nur menurunkan celana boxerku berserta dengan cdnya sehingga mencuatlah batang kontolku yang besar dan panjang tersebut.

“Wow... gila...!!!! Besar banget kontolmu, Rud. Jauh lebih besar dibanding ****** Pamanmu. Udah gitu panjang lagi.” teriak Tente Nur begitu melihat batang kontolku sambil tangannya membelai lembut batang kontolku yang panjang dan besar tersebut sehingga kontolku semakin keras dan berdenyut-denyut. Lalu dengan penuh nafsu Tante Nur menjilati batang kontolku.

“Sekarang Tante ingin merasakan kontolmu di mulut Tante” kata Tante Nur sambil membuka mulutnya dan memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. Mulut Tante Nur hanya dapat menampung setengah dari keseluruhan panjang batang kontolku. Slurp... slurp... slurp... dengan penuh nafsu Tante Nur mengulum batang kontolku dan menjilati kepala kontolku di dalam mulutnya.

“Aaaahhhh... Taaaaaannnn... ssssshhhh.... ooooohhhh...” aku mengerangan merasakan kenikmatan yang luar biasa akibat kuluman Tante Nur pada batang kontolku.

Aku memejamkan mata menikmati untuk pertama kalinya batang kontolku diisap oleh perempuan. Selama ini saat melihat adegan perempuan yang sedang ngisep ****** lelaki dalam film bokep, aku selalu membayangkan betapa nikmat rasanya. Kini akupun dapat merasakan kenikmatan itu secara langsung dari Tante Nur.

Tante Nur terus menghisap-hisap kontolku dengan rakusnya. Mulutnya penuh dengan kontolku dan menghisapnya seperti sedang menghisap permen lolypop. Begitu nikmatnya, aku hampir tidak bisa membuka mataku. Tente Nur mengeluarkan kontolku dari mulutnya. Dikocoknya dengan lembut kontolku yang basah oleh ludahnya beberapa kali kemudian dia isap lagi kontolku.

Aku terangsang hebat, aku merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari ujung kepala kontolku.

“Aduh Taaaaannn... aku nggak tahaaaan... enak banget rasanya“ erangku.
“Kalau mau keluar, keluarin aja Rud. Jangan ditahan-tahan“ kata Tante Nur sambil kembali mengulum dan mengisap kepala kontolku sementara tangannya mengocok lembut batang kontolku sehingga dalam waktu singat aku langsung ejakulasi.

“Aaaaaaaahhhhh... akuuuuuu... keluuuuuaaaarrrr...!!!” teriakku.
Croooottt... croooottt... croootttt... spermaku nyemprot banyak sekali di dalam mulut Tante Nur.

Mmmmhhh... slurp... mmmmhhh... slurp... slurp... mulut Tane Nur penuh dengan cairan spermaku kemudian dia telan semua sperma yang aku semprotkan. Sedangkan sisa2 sperma yang meleleh di batang kontolku dia jilati sampai bersih.

“Rud spermamu banyak sekali. Udah lama nih kelihatannya nggak dikeluarin ya? Baunya wangi. Sekarang Tante baru percaya kalau kontolmu memang belum pernah dimasukin kedalam memek perempuan” kata Tante Nur, “Baru dimasukin kedalam mulut saja sudah meler...” ledeknya.

Kemudian Tante Nur berdiri lalu duduk di meja dapur tepat disebelahku. Tente Nur melebarkan kedua kakinya sehingga bibir memeknya tampak merekah. Dia mendorong tubuhku turun dari meja dan menarik kepalaku serta menuntunnya ke arah memeknya. Rupanya Tante Nur ingin agar aku gantian menjilati memeknya. Tante Nur telah benar2 terbakar oleh gairah birahinya . Gairah seksual meledak untuk dipuaskan. Dan Tante menginginkannya dariku.

“Oooohhh... Rud... jilati memek Tante... Rud...!!!” perintah Tante Nur agar aku segera menjilati memeknya sambil memegang belakang kepalaku sehingga kini mulutku menempel di bibir memeknya.

Aku menjulurkan lidahku ke memek Tante Nur dan mulai menjilati memeknya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku mencium bau memek perempuan dan merasakan asinnya lendir yang keluar dari memek perempuan. Tente Nur semakin melebarkan kangkangan kedua kakinya sehingga mulut dan lidahku semakin mudah mengakses daerah memeknya.

"Ooohhh... Rudi... Terus isap memek Tante, Ruuuuuddd... Tante ingin kamu puasin Tante hari ini...!!! Sssshhh... aaahhh... ya... iya... yang itu sayang... Ooooohhh... isap itil Tante yang kuat... Ooooohhh... terus isap sayang... Ssssshhhh... Aaaaahhhh..." Tente Nur mengerang saat lidah aku menjelajahi memeknya dan menjilati itilnya.

Tante Nur menekan kepalaku sehingga mulutku menempel lebih erat di memek nya. Erangan Tante Nur semakin keras dan sekarang Tante mulai menggerak-gerakan pantatnya mengikuti jilatan lidahku pada celah memeknya. Aku semakin bernafsu menjilati celah memek Tante Nur yang semakin basah dan sesekali mengisap itil Tante Nur yang semakin bengkak.

Tante Nur melihat kontolku yang besar dan panjang itu semakin tegang dan keras. Tante Nur tahu bahwa aku sudah benar2 terangsang dan siap untuk menyetubuhinya. Tante menarik kepalaku menjauh dari memeknya lalu dia berdiri. Sambil mengandeng tanganku, Tante Nur mengajakku ke kamarnya. Setibanya di kamar, Tante Nur menarikku keatas ranjang. Tante telentang dengan kedua kakinya direntangkan lebar2 dan aku berada di atasnya.

Tangan Tante Nur segera meraih kontolku dan dikocoknya pelan-pelan. Kemudian Tante Nur memegang kontolku dan membimbing ke arah memeknya. Dia mulai menggosok-gosokan kepala kontolku di bibir memeknya. Bibir memek Tante Nur terasa basah oleh cairan lengket yang keluar dari dalam memeknya. Tante Nur semakin bernafsu dan ingin aku segera menyarangkan kontolku ke dalam memeknya. Diarahkannya kontolku ke gerbang liang memeknya

"Ayo sayang... masukkan kontolmu di memek Tante. Buat Tante puas dengan ****** supermu itu" kata Tante sambil menatapku.

Berbekal pengalaman dari melihat film bokep, pelan-pelan aku tekan kontolku membelah bibir memek Tante Nur hingga akhirnya batang kontolku tenggelam seluruhnya di dalam liang memek Tante Nur. Akupun merasakan sensasi yang luar biasa saat batang kontolku berada di dalam liang memek Tante Nur yang hangat. Rasanya nikmat sekali. Tante Nur memelukku erat sekali.

"Oooohhh... Rud... kontolmu enak banget Rud... ngganjel banget... rasanya... ssshhhhh... oooohhhh... terus sayang enak banget... terus entoti memekku... Buat aku puas dengan ****** supermu... Aaaaaahhhh... rasanya memekku penuh banget terisi sama kontolmu... gesekan kontolmu terasa banget di dalam liang memekku... Oooohhhh... Ssssshhhh... aahhhhhhh...!!!" Tente Nur mulai merintih, membuatku semakin bersemangat memompa kontolku semakin cepat. Tante Nur mengangkat kedua kakinya dan dilingkarkan ke pinggangku. Pada posisi ini kontolku semakin dalam masuk kedalam liang memeknya karena tekanan kaki Tante Nur yang ikut menekan saat aku mengenjotkan batang kontolku kedalam liang memeknya.

Aku mulai menggerakkan pantatku naik turun sehingga kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur membuat Tante Nur terus mengerang merasakan nikmatnya enjotan kontolku tersebut.

"Apakah kamu merasa nikmat sayang? Gimana rasanya memekku? Apakah kamu menyukainya? " tanya Tante Nur sambil menatapku.
"Ooooohhhh... Tante... memek Tante nikmat bangeeeettt... Rudi ingin terus ngentoti memek Tante yang nikmat ini... Aaaahhhh... Sssshhhh... Oooohhh..." rintihku merasakan nikmatnya liang memek Tante Nur yang berkedut-kedut membuat kontolku serasa diremas-remas sambil terus mengenjotkan kontolku keluar masuk liang memeknya.

Tente Nur memberi tanda agar aku menghentikan enjotanku. Dia memintaku untuk mencabut kontolku dari memeknya. Dengan masih diliputi kebingungan akupun mencabut kontolku. Tante Nur bangkit lalu nungging.

"Ayo sayang... entoti memek Tante dari belakang..." pinta Tante Nur

Pantat Tante Nur yang montok dan padat terlihat sangat menggemaskan. Diantara pantatnya yang montok itu, memeknya tampak merekah merangsang. Lalu Tante Nur menggenggam batang kontolku dan membimbingnya hingga kepala kontolku tepat menempel di permukaan liang memeknya.

“Sekarang... dorong kontolmu sayang...” kata Tante Nur.

Perlahan aku tekan pantatku. Bless... Blesss... Kontolku masuk ke liang memek Tante Nur. Kemudian aku mulai memompa kontolku di liang memek Tante Nur. Ternyata dalam posisi ini, liang memek Tante Nur terasa semakin sempit sehingga jepitannya terasa semakin erat. Dan gesekan kontolku dengan dinding didalam liang memek Tante Nur pun semakin terasa. Rasanya sungguh sangat nikmat.

“Ooooohhhh... Taaaaaannn... memek Tante makin nikmaaaatttt... ssssshhhh... ooooohhhh... enak banget memek Tante...” erangku. Aku terus mengenjotkan kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur sambil meremas pantatnya. Pemandangan pantat Tante Nur yang bergetar setiap kali beradu dengan pangkal kontolku membuatku makin bernafsu. Aku semakin mempercepat pompaan batang kontolku di dalam memek Tante Nur yang becek sehingga menimbulkan bunyi crop... crop... crop.

“Sssssshhhh... sayang... Kapanpun kamu mau, akan saya berikan memekku untukmu... sayang... ssssssshhhh... Terus sodok yang kuat... Aaaaahhhhh... nikmat banget kontolmu sayang...” kata Tante Nur sambil menoleh ke arahku, sementara pantatnya digoyang dan diputar-putar mengimbangi pompaan kontolku.

“Remass... Remass payudara Tante, Rud...” desah Tante Nur sambil meremas susunya sendiri. Aku pun segera menuruti kemauannya. Sambil memompa kontolku, tanganku segera memegang, meremas payudara dan memainkan putingnya bergantian.

“Ooooohhh... sssshhhhh... aaaahhhh... nikmaaatt... Tante gak kuat... Tante mau keluaaaarrr... Ssssshhhh... Ooooohhhh...” jerit lirih Tante Nur sambil memegang tanganku yang sedang meremas-remas payudaranya, pantatnya terus bergoyang-goyang dan kedutan otot2 liang memeknya semakin kuat.

“Oooohh... Enak sekali, Taaaannn... Akuuuu... mau keluuuuaaarrr...” kataku sambil mempercepat gerakan kontolku karena sudah mulai terasa adanya tanda2 aku akan mendapatkan ejakulasiku seiring rasa nikmat yang aku rasakan.

“Keluarkan saja di dalam memekku, sayang...” kata Tante Nur sambil mempercepat goyangan pantatnya. Empotan liang memeknya semakin kuat meremas batang kontolku yang berada di dalam liang memeknya sehingga semakin nikmat terasa oleh kontolku.

Kupercepat enjotan kontolku keluar masuk memek Tante Nur sambil terus meremas payudaranya, lalu tak lama kemudian kudesakkan kontolku dalam2 ke memeknya.

“Taaaaannnnn... Rudi keluaaaar... Aaaaaahhhh...!!!” teriakku.

Crooooot... croooot... crooot... spermaku menyembur sangat banyak di dalam memek Tante Nur seiring rasa nikmat yang kurasakan. Kontolku berkedut-kedut di dalam liang memek Tante Nur sampai semburan spermaku berhenti.

“Oooohhhh... Ssssshhhh... sayaaaaannng... akuuuu... jugaaaa... keluuuuaaaarrr... ssssshhhhh... aaaaaahhhhh...!!!” teriak Tante Nur. Tubuhnya kejang2 akibat orgasmenya yang luar biasa nikmatnya. Ternyata disaat aku menyemprotkan spermaku, Tante Nur juga mencapai orgasmenya. Seeeeer... seeeer... seeeeeer... cairan orgasmenya menyiram hangat dan membasahi batang kontolku. Bagitu banyaknya cairan yang terkumpul didalam liang memek Tante Nur hingga sebagian meleleh keluar dari memeknya.

Setelah memberikan waktu beberapa menit bagi Tante Nur untuk menikmati orgasmenya, kemudian aku mencabut kontolku dan akhirnya aku merebahkan diri di samping tubuh molek Tante Nur. Begitu kontolku lepas dari memeknya, Tante Nur langsung menggulingkan tubuhnya disampingku dan memelukku.

“Terima kasih sayang... kontolmu benar2 luar biasa... Tante puas banget... Belum pernah Tante merasakan kenikmatan orgasme seperti barusan yang Tante alami... Muuaah...” bisik Tante Nur sambil mencium lembut keningku. Sementara tangannya terus meraba batang kontolku yang mulai lemas.

“Sama2... Tante juga hebat, memeknya sangat nikmat...” kataku balas memuji

Tante Nur turun dari tempat tidur, lalu terdengar bunyi kecipak-kecipak air di kamar mandi, rupanya Tante Nur sedang membersihkan memeknya yang berlepotan dengan spermaku yang bercampur dengan cairan orgasmenya. Selesai dari kamar mandi, Tante Nur menghampiriku lagi dengan tubuh dibelit handuk.

“Gimana? Enak kan rasanya ngentot dengan perempuan?” tanya Tante Nur sambil duduk di sampingku.
“Enak sekali, Tan. Terima kasih. Tante telah mengajari aku nikmatnya ngentot memek perempuan. Selama ini aku hanya merasakan kenikmatan ejakulasi lewat onani, tapi kini aku dapat merasakan nikmatnya ejakulasi di memek Tante...” sahutku sambil tersenyum, “Tapi kalau Paman pulang, aku susah dapetin memek Tante...” kataku.
“Tenang Rud. Kapanpun Rudi pingin memek Tante, akan Tante berikan... tapi harus hati-hati, Rud. Di depan pamanmu jangan memperlihatkan sikap lain padaku. Seperti biasa saja. Pokoknya harus serapi mungkin” kata Tante Nur.

Aku cuma mengangguk, sambil memperhatikan wajah Tante Nur. Sorot pandangannya memang jadi lain dari biasanya. Seperti mengandung arti yang mendalam. Senyumnya pun jadi lain. Mungkin itulah senyum seorang wanita yang telah mencapai kepuasan seksual.

“Kenapa udah mau pakai celana lagi? Emang gak mau lagi?” kata Tante Nur dengan nada agak centil sambil memegang tanganku saat aku hendak mengenakan cdku.
“Mau, tapi aku lapar, Tan. Kita makan dulu gimana?” ajakku
“Kalau perut penuh, nanti bisa sembelit,” Tante Nur memelukku dengan hangatnya, “Mending kita bikin ronde kedua dulu yuk. Nanti kalau udahan, baru kita makan malam. Tante yakin kamu pasti masih kuat” katanya.

Aku mengangguk sambil senyum. Cd tak jadi kupakai, lalu kulemparkan begitu saja ke lantai. Sementara itu Tante Nur pun membuka lilitan handuknya, sehingga tubuhnya bugil lagi di depan mataku. Sejenak kuamati tubuh Tante Nur yang mulus sekali. Payudaranya montok payudara. Kulit Tante Nur mulus dan bersih. Tidak ada noda setitik pun di tubuhnya. Hebat juga pamanku bisa mendapatkan wanita secantik dan semulus ini. Padahal saat itu usia pamanku sudah 50 tahun, sementara Tante Nur 20 tahun lebih muda darinya.

Tante Nur langsung menelentang, seperti mengharapkan terkamanku. Dan aku memang menerkamnya. Meremas payudaranya yang masih kencang dan bahkan mengemut putingnya seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Tante Nur tersenyum-senyum sambil mengelus rambutku dengan lembut.

Batang kontolku pun mulai menegang lagi. Tante Nur tahu itu, karena tangannya terus-terusan memegang batang kontolku dan terkadang meremasnya dengan lembut.

“Ayo... masukkan lagi kontolmu Rud...” pinta Tante Nur sambil meraih batang kontolku dan diarahkan tepat di celah memeknya yang sudah basah itu. Tante Nur lalu memberi isyarat agar aku mendorong batang kontolku. Kuikuti isyaratnya itu. Kudorong batang kontolku sekuat mungkin.

“Ouw... Oooh... sedikit-sedikit, Rud. Jangan disekaliin... sakit... ****** kamu gede sekali sih...” teriak Tante Nur sambil meringis.

Aku cabut kontolku dari liang memek Tante Nur lalu aku gesek2an kepala kontolku ke itil Tante Nur beberapa kali hingga memeknya semakin basah dan terasa licin.

“Ooooohhh... nah... gitu... sayang... iya... gesek2 sayang... iya... ooooohhhh....” desah Tante Nur merasakan nikmatnya gesekan kepala kontolku di itilnya yang semakin membengkak itu.

Kemudian aku selipkan kepala kontolku di belahan memek Tante Nur dan aku tekan perlahan-lahan batang kontolku hingga amblas masuk kedalam liang memek Tante Nur.

“Aaaaaahhhh... sayaaaangg... enak sayaaaaang...” erang Tante Nur merasakan nikmatnya gesekan batang kontolku pada dinding liang memeknya.
“Ngentot denganku sama ngentot dengan paman enakan mana Tan?” bisikku sambil terus mengenjotkan batang kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur.
“Jauh sayang. Ngentot dengan kamu jauh lebih enak... soalnya kontolmu keras sekali... panjang dan gede banget... aaaaaahhh... bisa2 aku jadi ketagihan ****** kamu Rud...” jawab Tante Nur.

Kemudian bibir kami saling lumat.

“Ruuuuuddd.... ooooooh... enak sekali sayang... sssssshhhh... ooooohhh... kayaknya aku sudah mau keluaaaaar...” terdengar lagi desahan-desahan histeris Tante Nur, ketika bibirnya lepas dari lumatanku.

Sulit melukiskannya dengan kata-kata, betapa nikmatnya saat batang kontolku sudah mulai mengenjot-enjot dalam jepitan liang memek Tante Nur yang cantik dan mulus itu. Kedutan2 memek Tante Nur semakin sering terasa. Liang memek Tante Nur serasa memijit-mijit batang kontolku sehingga membuat akupun mulai merasakan kalau sebentar lagi spermaku juga akan keluar.

“Ssssshhhh... aaaaaahhhhh... Tanteeeeee... akkkuuu... jugaaaa.... mau keluuuuaaaarrrr...” aku mengerang.
“Enjotan yang cepat sayang... ayo sayang... kita bareng2 keluar... aaaaaahhh... sssssshhhh... enak sekali sayang...” erang Tante Nur. Kuikuti keinginan Tante Nur. Kupercepat gerakan pantatku maju mundur dan enjotan batang kontolku keluar masuk liang memek Tante Nur.

“Aaaaaahhhh... Taaaaaannnn... akuuuuuu... keluuuuuaaaarrr...!!!” teriakku. Kutancap batang kontolku sekuat mungkin, sampai terbenam sepenuhnya di dalam liang memek Tante Nur. Aku pun mendekap tubuh Tante Nur sekencang mungkin. Crooooottt... croooottt... croooottt... kontolku menyemprot-nyemprotkan spermaku di dalam liang memek Tante Nur.

“Oooooohhhh... Ruuuudiiii... akuuuuu... juuugaaa... keluuuuaaaarrr... aaaaahhhhh...!!!” jerit Tante Nur. Dia mencapai orgasmenya. Tubuhnya mengejang sambil mendekapku erat sekali. Seeeeerrrr... seeeeerrr... seeeerrr... semburan cairan orgasmenya menyiram hangat batang kontolku.

Kami saling berdekapan dengan erat, kemudian kami terkapar di atas tempat tidur dengan kepuasan yang tiada taranya.

Tante Nur kemudian bercerita mengenai kehidupan seksualnya dengan Paman. Sudah hampir satu tahun ini dia tidak merasakan nikmatnya orgasme dari persetubuhannya dengan Paman. Akibat penyakit gula yang dideritanya, Paman tidak dapat lagi memberikan kepuasan seksual kepadanya.

“Ngentot dengan Pamanmu sebulan 2 kali sudah cukup bagus, karena seringnya cuma sekali sebulan. ****** Pamanmu kalau berdiri nggak bisa keras dan baru sebentar main kontolnya sudah ejakulasi” kata Tante Nur.

“Makanya saat melihat tonjolan kontolmu yang besar dari balik celana boxermu tadi, nafsuku langsung bangkit. Dan ternyata kontolmu memang sangat gede dan panjang, Rud. Memekku seperti mau jebol rasanya. Dan luar biasa... belum pernah aku merasakan bersetubuh yang senikmat ini...” bisiknya lirih sambil menikmati sisa2 orgasmenya.

Aku tersenyum dengan perasaan bangga. Kemudian mengikuti langkah Tante Nur ke dalam kamar mandi. Kami sama2 mencuci kemaluan kami. Keluar dari kamar mandi, Tante Nur menutup tubuhnya dengan kimono tanpa mengenahan BH dan CD. Begitu pula denganku yang mengenakan celana boxer dan tanpa memakai CD. Kemudian kami sama-sama melangkah ke ruang makan.

“Mau dibikinin nasi goreng?” tanya Tante Nur sambil melingkarkan lengannya di leherku, dengan sikap yang mesra sekali.
“Boleh, kalau Tante Nur gak capek” sahutku sambil tersenyum.
Tante Nur mencium bibirku dengan mesra, membuat hatiku berdenyut. Karena malam ini sangat lain dari biasanya.

“Kuat berapa kali lagi malam ini?” tanya Tante Nur dengan lengan tetap melingkari leherku. Dengan tatapan yang menggoda.
“Nggak tau Tan. Kan aku juga baru pertama kali ngentot dengan dengan perempuan. Emang biasanya kalau cowok sebaya aku kuat berapa kali?” tanyaku
“Empat atau lima kali juga bisa. Tapi Tante Nur pasti kepayahan. Tante Nur kan bukan remaja lagi” jawab Tante Nur sambil melepaskan rangkulannya dan melangkah ke dapur.

Sebentar kemudian Tante Nur sudah menghidangkan nasi goreng untukku. Ada 2 sendok dan 2 garpu dalam satu piring dan nasi gorengnya pun banyak.

“Mau sepiring berdua, sayang?” Tante Nur mengecup pipiku. Aneh, ada getaran khusus di hatiku. Senang rasanya diperlakukan mesra seperti itu oleh Tanteku.
Layaknya sepasang kekasih, kami lalu makan di piring yang sama. Terkadang saling pandang dan tersenyum.

“Malam ini aku tidur disini ya Tan?” pintaku setelah nasi goreng habis dilahap oleh kami berdua.
“Dengan senang hati,” jawab Tante Nur, “Nanti biar aku kasih tahu mamamu kalau kamu malam ini nginap disini” lanjutnya.

Selesai makan nasi goreng, untuk pertama kalinya aku tidur bersama Tante Nur. Tentu bukan cuma tidur. Kami lakukan lagi persetubuhan yang ketiga kalinya. Yang ketiga ini lebih edan-edanan. Kami bergulingan, saling remas, saling lumat dan kembali mengatur supaya mencapai titik kepuasan dalam waktu berbarengan. Ketika batang kontolku sedang menyemprot-nyemprotkan spermaku di dalam liang memek Tante Nur, terasa benar liang memek itu pun berkedut-kedut, sebagai pertanda bahwa Tante Nur pun sedang merasakan nikmatnya orgasme.

Kami sama-sama terkapar dalam kepuasan. Lalu kami tertidur sambil saling berpelukan dalam keadaan sama-sama telanjang bulat. Begitu nyenyaknya aku tidur, sehingga tak peduli lagi pada tubuhku yang tidak ditutupi sehelai benang pun. Bahkan selimut pun masih terlipat dengan rapi, tidak kami pakai untuk menyelimuti tubuh bugil kami.

Tapi pagi-pagi sekali, ketika hari masih gelap, aku merasakan sesuatu yang lain pada batang kontolku. Ada elusan yang luar biasa enaknya, sehingga aku membuka mataku perlahan. Ternyata Tante Nur sedang menyelomoti batang kontolku.

Aku terdiam dan berpura-pura tetap tidur. Tapi batang kontolku mulai menegang lagi. Ah, gila... permainan bibir dan lidah Tante Nur terasa begitu enaknya, sehingga nafsu birahiku bergejolak lagi dengan hebatnya.

Kemudian Tante Nur berjongkok dengan kakinya berada di kanan kiri pinggulku. Rupanya Tante Nur sedang berusaha memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya.
Blesss.... batang kontolku terbenam lagi di dalam liang memek Tante Nur, disusul dengan penjatuhan dada Tante Nur ke atas dadaku, sehingga aku pun membuka mataku.

Tante Nur menggerak-gerakkan pantatnya naik turun, sehingga batang kontolku jadi keluar masuk di dalam mliang memek Tante Nur yang terasa hangat ini. Dinginnya udara pagi tak terasa lagi. Kehangatan dan kenikmatan membuatku mulai berkeringat. Dan diam-diam aku teringat sebuah artikel yang mengatakan bahwa bersetubuh menjelang pagi sangat enak rasanya. Kini aku mengalaminya dan merasakan nikmatnya.

Pada saat tubuh sedang segar-segarnya, setelah semalaman istirahat, aku mendapat “santapan pagi” yang sungguh lezat rasanya.
Tante Nur tambah merangsangku dengan kata-katanya, “Enak ya ngentot subuh-subuh gini?” desisnya sambil mempergila ayunan pinggulnya. Sehingga batang kontolku seperti dibesot-besot ke atas ke bawah ke kanan ke kiri.

“Iya Tan,” sahutku mengimbangi, “ternyata memek Tante Nur enak sekali...”
“Kontol kamu juga enak, sayang. Pamanmu kalah jauh... dudududuuuuuuhhhhh... enak sekali sayang... aaaahhhh... aku bisa jadi tambah sayang sama kamu Rud...” kata Tante Nur.
“I... iii... iya Tan... mmmmmmh... enak Tan... ooooh... ssshhhhh... aaahhhh...” erangku.

Tiba-tiba Tante Nur menghentikan ayunan pinggulnya dan memeluk tubuhku erat2.

“Ruuuuuudddd... akuuuuuu... keluuuuuaaaarrr...!!! ssssshhhhh... aaaaaahhhh... nikmaaaaaatttt... banget Ruuuuuddddd...!!!” jerit Tante Nur mendapatkan orgasmenya yang pertama di pagi itu.
Seeeeerrr... seeeerrrr... seeeerrrr... cairan orgasmenya menyembur banyak sekali menyiram hangat batang kontolku yang masih terbenam di liang memeknya dan liang memeknyapun berkedut-kedut kuat sekali.

Setelah beristirahat sejenak, menyadari batang kontolku yang masih keras di liang memeknya, Tante Nur mengeluarkan kontolku dari dalam memeknya.

“Ganti posisi, Rud. Kamu yang di atas” pinta Tante Nur sambil merebahkan tubuhnya di sampingku. Namun kali ini Tante Nur terlentang sambil mengganjal pinggulnya dengan bantal. Lalu kedua kakinya direntangkan lebar-lebar. Sehingga kemaluan Tante Nur tampak merekah, tampak kemerahan bagian dalamnya.

“Supaya apa diganjal bantal gitu Tan?” tanyaku polos.
“Biar ****** kamu bisa masuk semuanya” jelas Tante Nur lalu tersenyum sambil mengelus memeknya sendiri.
“Oya? tanyaku dengan keheranan.
“Iya sayang... cobalah... pasti beda rasanya” jawab Tante Nur.

Aku tersenyum, lalu mengikuti petunjuk Tante Nur, memasukkan batang kontolku ke dalam memeknya yang sudah sangat basah itu. Kemudian aku menahan tubuhku dengan kedua tangan tertekan di kanan kiri Tante Nur, seperti tukang becak yang sedang memegang stang becaknya.

Gila, Tante Nur benar. Dengan cara seperti itu sensasinya sungguh luar biasa. Rasanya batang kontolku amblas sepenuhnya ke dalam liang memek Tante Nur yang mencuat ke atas itu.

“Duuuuuuuh... sudah masuk, Rud...??!!! Iya... ooooohhhh... kontolmu emang gede sekali, Rud. Sampai seret begini rasanya... ooooohhh... enak bangeeeetttt... ssssshhhh... ooooohhhh...” bisik Tante Nur terengah-engah sambil mendekapku erat2.

“Aaaahhh... nikmat sekali Taaaaaan... lebih mantap rasanya...” cetusku sambil mengayun batang kontolku.

Tante Nur pun mengangkat kakinya sampai melewati bahuku dan menggantung kakinya di bahuku. Dengan begitu aku semakin leluasa menggerakan batang kontolku dan membenamkannya dalam2 di liang memek Tante Nur.
Sampai fajar menyingsing, aku masih mengayun batang kontolku. Keringat pun mulai bercucuran, berjatuhan ke perut dan dada Tante Nur. Ooooohhh... sungguh pagi yang indah sekali.

Aku terus mengenjotkan batang kontolku, sambil mempermainkan payudara Tante Nur yang montok dan masih sangat kencang itu. Tante Nur menikmati semuanya dengan ganasnya. Pinggulnya bergoyang-goyang erotis sekali, meliuk-liuk dengan gerakan seperti angka 8, membuat batang kontolku seperti dibesot-besot dengan nikmatnya di dalam liang memeknya. Aku pun terpejam-pejam saking enaknya.

Pada satu saat Tante Nur merengkuh leherku, kemudian menciumi bibirku, bahkan lalu melumatnya dengan penuh gairah. Aku pun tak tinggal diam. Kulumat juga bibir dan lidah Tante Nur yang terasa hangat ini. Sementara gerakan batang kontolku semakin cepat bergerak maju mundur dan keluar masuk di dalam jepitan liang memek Tante Nur. Sehingga gak lama kemudian, tubuh Tante Nur kembali mengejang sambil memeluk erat tubuhku.

“Aaaaaaahhhhhh... akkkuuuuu... keluuuuaaaarrrr... laaaaagiii... Ruuuuudddd... sssssshhhhhhh.... ooooohhhh... enaaaaaakkkkk... Ruuuuuuddddd.... sssssshhhhh... aaaaaaahhhhh.....!!!” teriak Tante Nur mendapatkan orgasmenya yang kedua.
Seeeeerrr... seeeerrrr... seeeerrrr... cairan orgasmenya kembali menyiram batang kontolku. Liang memeknyapun berkedut-kedut kuat sekali lebih kuat dari yang pertama tadi.

Aku merasa bangga, karena dalam senggama di pagi ini aku berhasil membuat Tante Nur dua kali orgasme. Aku memang jadi tangguh sekali. Karena dalam semalaman sampai pagi ini aku telah bersetubuh empat kali dengan Tante Nur. Tapi aku kasihan melihat Tante Nur yang seperti sudah kepayahan disetubuhi olehku. Maka sambil menikmati empotan memek Tante Nur yang luar biasa nikmatnya itu, aku berkonsentrasi agar cepat ejakulasi. Akhirnya dengan sekali hentakan, aku membenamkan batang kontolku sedalam mungkin, sampai menyentuh dasar liang memek Tante Nur.

Croooottt... crooottt... croooottt... bersemburanlah spermaku dari kontolku, memancar-mancar di dalam liang memek Tante Nur.

“Ssssssshhhhh... aaaaaaahhhh... Tanteeeeeeee... akuuuuu... keluuuuaaaarrr...!!! Nikmaaaaattt... sekaaalliii... Taaaaannn...!!!” aku mengerang merasakan nikmatnya ejakulasiku. Aku pun lalu ambruk ke dalam dekapan Tante Nur.
“Aduuh... gila kamu kuat banget, sayang...” kata Tante Nur sambil mencium pipiku.
“Tadi sebenarnya masih bisa bertahan, tapi kasihan Tante Nur sudah ngos-ngosan gitu” kataku sambil mempermainkan payudara Tante Nur yang masih dibasahi keringat. Aku diam dan seluruh badanku terasa lemas.

“Ayo Rud kita mandi dulu biar segar” Tante Nur mengajakku mandi. ajak
Aku memang berkeinginan mandi, segera kusambut tawarannya sambil menggoda.
“Tante, aku dimandiin dong?” kata manja.
“Ala kamu genit juga, beres deh ntar Tante mandiin” jawab Tante Nur sambil bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, akupun mengikutinya dari belakang.

Di kamar mandi, Tante Nur mengguyur seluruh badanku dengan air hangat yang mengucur lewat dari shower. Tangannya trampil sekali menyabuni seluruh bagian tubuh belakangku. Aku yang dalam keadaan telanjang seperti bayi yang sedang dimandikan oleh Tante Nur.

“Sekarang bagian depannya, Rud” perintah Tante Nur.

Ketika aku berbalik menghadap Tante Nur. Sepasang payudara yang besar dan montok itu menggantung indah di dada Tante Nur, kini tepat didepan mukaku. Kedua putingnya yang besar terlihat merah kecoklatan.
Aku tidak bisa menahan nafsu segera kuraih kedua payudara Tante Nur dan kuremas-remas. Tante Nur diam saja dan masih terus menyabuni tubuh bagian depanku. Saat putingnya aku pelintir-pelintir Tante Nur mulai mendesis. Kupeluk tubuh Tante Nur yang montok dan lehernya kuciumi lalu kedua putingnya aku hisap2.

Sementera itu kontolku yang sudah ngaceng kembali menerjang-nerjang bagian memek Tante Nur. Tangan Tante Nur kemudian meraih batang kontolku dan dikocoknya dengan lembut sehingga bantang kontolku jadi semakin besar dan keras.

Aku semakin bernafsu dan ingin segera menyarangkan kontolku ke dalam memek Tante Nur. Aku merendahkan badanku dan Tante Nur kusenderkan ke dinding kamar mandi. Kuarahkan kepala kontolku ke gerbang liang memek Tante Nur lalu pelan2 aku tekan sampai tenggelam seluruhnya ke dalam liang memeknya. Rasanya nikmat sekali dan Tante Nur memelukku erat sekali.

Tante Nur mulai mendesah dan menikmati goyanganku.

“Oooouuhhh... sayaaaangggg... ooooouuhhh... besarnya kontolmu... aaauuuuff... tariiiikhh... aaaaahh... enaaaakkk... teeekaaaan lagiii... aaaahhhh... niiiiikmaaaattttt... uuuuhhhh... pelan sayaaaaanggg... oooouuuffff... enaaaknyaaaa... ooooooohhhhhh... saayaaaang...” tak henti-henti Tante Nur memuji kenikmatan dari ****** besarku yang kini menggesek dinding2 liang memeknya.

Rintihan Tante Nur membuatku semakin bersemangat untuk memompa kontolku semakin cepat. Tante Nur mengangkat kaki kirinya dan dilingkarkan ke pinggangku sehingga aku makin leluasa memompa memek Tante Nur.

“Ooooohhhh... Ruuuudd... kontolmu enak banget Rud, memekku rasanya sesak banget diganjel sama batang kontolmu yang sanagt gede... aduuuuuh... terus Rud enak banget” kata Tante Nur sambil terus merintih.

Aku terus memompa kontolku didalam liang memek Tante Nur sambil mulutku menciumi leher dan telinga Tante Nur. Tante Nur memelukku erat sekali.

“Sayaaaanngggg... ooouuhhhh... terussshhhh... Ruuuuud... aaahhhhh... ennaaakkk... akkuuuu nggaaaaaakk taaaaahaaannn... akkuuuu... keluuuuuaaaarr... keeeeeeeeelllllluuuuuaaarrr... aaahhhhhhh...!!!” jeritan panjang Tante Nur diiringi hempasan keras pangkal pahanya kearah kontolku. Kira-kira semenit kemudian badan Tante Nur ambruk dalam pelukanku. Nafasnya tersenggal-senggal, tubuhnya lemas lunglai. Kontolku yang masih mengeras mengganjal dalam liang memeknya yang banjir.

“Aduh Rud, nikmatnya sayang... aku puas sekali... kamu makin pinter aja mainnya sampai aku lemes banget “ kata Tante Nur. Dia mencapai orgasmenya dan memeknya terasa berkedut-kedut kuat sekali. Gerakanku ditahannya dan dia memelukku erat sekali.

Sementara itu aku sedang tanggung, lalu Tante Nur kuminta membungkuk membelakangiku. Pantatnya yang bahenol sunguh sangat mempesona , batang ****** ku arahkan masuk ke memeknya dari arah belakang. Dan kemudian seluruh batang kontolku sudah tenggelam di dalam liang memek Tante Nur. Aku kembali menggenjot dengan menabrak-nabrakkan pangkal pahaku dengan bongkahan pantat Tante Nur yang tebal.

Pemandangan pantat Tante Nur yang bergetar setiap kali kutabrak membuatku semakin bernafsu. Aku terus mempercepat pompaanku hingga kemaluan kami berbunyi. Tante Nur kelihatannya naik lagi nafsunya, dia memutar-mutar pantatnya sehingga batang kontolku seperti diremas. Aku memperpelan gerakanku menyesuaikan dengan putaran pantat Tante Nur yang sangat mengagumkan.

Aku mulai merasa akan mencapai ejakulasi maka hunjamanku kubenamkan dalam2 dengan gerakan keras.

“Aaagghhhhh... Taaaaannn... aaakuuuu... kelluaaar... enaaakk sekaliii... aaaagghhh...!!!” aku mengerang keenakan. Dalam waktu tidak berapa lama aku menyemprotkan spermaku di dalam liang memek Tante Nur. Kontraksi kontolku nampaknya menambah rangsangan di memek Tante Nur sehingga dia menggerakkan pantatnya tidak beraturan sampai kemudian tangannya menarik badanku rapat ke tubuhnya.

“Uughhh... hhmmm... aku keluar jugaa... aaagghh... enaaakk... uughh” Tante Nur menjerit keras sekali. Memeknya kembali berdenyut dan kali ini lebih lama dari yang pertama tadi.

Tante Nur kembali memujiku, katanya permainan semakin luar biasa, karena dia bisa sampai merasakan kenikmatan dua kali. Yang terakhir kata dia nikmat sekali sampai tubuhnya hampir-hampir tidak kuat berdiri.

Kami mandi bersama dan setelah mengeringkan badan, kami berpakaian. Aku ke ruang tengah, sementara Tante Nur ke dapur menyiapkan makan buat kita berdua. Setelah sekitar setengah jam, Tante Nur mengajakku makan bersama.

Sehabis makan, karena capeknya tubuhku, aku tertidur di sofa. Menjelang tengah hari aku terbangun. Melihat hari sudah siang, aku berpamitan ke Tante Nur untuk pulang ke rumah.

SEJAK peristiwa indah itu, aku dan Tante Nur selalu melampiaskan nafsu birahi kami. Kapan saja aku mau, Tante Nur selalu siap meladeniku. Bagitupun denganku. Kapanpun Tante Nur menginginkanku, akupun selalu siap melayaninya.

Perjakaku Hilang Di Miss 'V' Tanteku

Usiaku sudah hampir mencapai tiga puluh lima, ya… sekitar 3 tahunan lagi lah. Aku tinggal bersama mertuaku yang sudah lama ditinggal mati suaminya akibat penyakit yang dideritanya. Dari itu istriku berharap aku tinggal di rumah supaya kami tetap berkumpul sebagai keluarga tidak terpisah. Di rumah itu kami tinggal 7 orang, ironisnya hanya aku dan anak laki-lakiku yang berumur 1 tahun berjenis kelamin cowok di rumah tersebut, lainnya cewek.

Jadi… begini nih ceritanya. Awal September lalu aku tidak berkerja lagi karena mengundurkan diri. Hari-hari kuhabiskan di rumah bersama anakku, maklumlah ketika aku bekerja jarang sekali aku dekat dengan anakku tersebut. Hari demi hari kulalui tanpa ada ketakutan untuk stok kebutuhan bakal akan habis, aku cuek saja bahkan aku semakin terbuai dengan kemalasanku.


Pagi sekitar pukul 9 wib, baru aku terbangun dari tidur. Kulihat anak dan istriku tidak ada disamping, ah… mungkin lagi di beranda cetusku dalam hati. Saat aku mau turun dari tempat tidur terdengar suara jeritan tangis anakku menuju arah pintu. seketika itu pula pintu kamar terbuka dengan tergesanya. Oh… ternyata dia bersama tantenya Rosa yang tak lain adalah adik iparku, rupanya anakku tersebut lagi pipis dicelana. Rosa mengganti celana anakku, “Kemana mamanya, Sa…?” tanyaku. “Lagi ke pasar Bang” jawabnya “Emang gak diberi tau, ya?” timpalnya lagi. Aku melihat Rosa pagi itu agak salah tingkah, sebentar dia meihat kearah bawah selimut dan kemudian salah memakaikan celana anakku. “Kenapa kamu?” tanyaku heran “hmm Anu bang…” sambil melihat kembali ke bawah.

“Oh… maaf ya, Sa?” terkejut aku, rupanya selimut yang kupakai tidur sudah melorot setengah pahaku tanpa kusadari, aku lagi bugil. Hmmm… tadi malam abis tempur sama sang istri hingga aku kelelahan dan lupa memakai celana hehehe….

Anehnya, Rosa hanya tersenyum, bukan tersenyum malu, malah beliau menyindir “Abis tempur ya, Bang. Mau dong…” Katanya tanpa ragu “Haaa…” Kontan aja aku terkejut mendengar pernyataan itu. Malah kini aku jadi salah tingkah dan berkeringat dingin dan bergegas ke toilet kamarku.

Dua hari setelah mengingat pernyataan Rosa kemarin pagi, aku tidak habis pikir kenapa dia bisa berkata seperti itu. Setahu aku tuh anak paling sopan tidak banyak bicara dan jarang bergaul. Ah… masa bodoh lah, kalau ada kesempatan seperti itu lagi aku tidak akan menyia-nyiakannya. Gimana gak aku sia-siakan, Tuh anak mempunyai badan yang sangat seksi, Kulit sawo matang, rambut lurus panjang. Bukannya sok bangga, dia persis kayak bintang film dan artis sinetron Titi kamal. Kembali momen yang kutunggu-tunggu datang, ketika itu rumah kami lagi sepi-sepinya. Istri, anak dan mertuaku pergi arisan ke tempat keluarga almahrum mertua laki sedangkan iparku satu lagi pas kuliah. Hanya aku dan Rosa di rumah. Sewaktu itu aku ke kamar mandi belakang untuk urusan “saluran air”, aku berpapasan dengan Rosa yang baru selesai mandi. Wow, dia hanya menggunakan handuk menutupi buah dada dan separuh pahanya. Dia tersenyum akupun tersenyum, seperti mengisyaratkan sesuatu.

Selagi aku menyalurkan hajat tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang menggedor.
“Siapa?” tanyaku
“Duhhhh… kan cuma kita berdua di rumah ini, bang” jawabnya.
“Oh iya, ada apa, Sa…?” tanyaku lagi
“Bang, lampu di kamar aku mati tuh”
“Cepatan dong!!”
“Oo… iya, bentar ya” balasku sambil mengkancingkan celana dan bergegas ke kamar Rosa.

Aku membawa kursi plastik untuk pijakan supaya aku dapat meraih lampu yang dimaksud.
“Sa, kamu pegangin nih kursi ya?” perintahku “OK, bang” balasnya.
“Kok kamu belum pake baju?” tanyaku heran.
“Abisnya agak gelap, bang?”
“ooo…!?”
Aku berusaha meraih lampu di atasku. Tiba-tiba saja entah bagaimana kursi plastik yang ku injak oleng ke arah Rosa. Dan… braaak aku jatuh ke ranjang, aku menghimpit Rosa..
“Ou…ou…” apa yang terjadi. Handuk yang menutupi bagian atas tubuhnya terbuka.
“Maaf, Sa”
“Gak apa-apa bang”
Anehnya Rosa tidak segera menutup handuk tersebut aku masih berada diatas tubuhnya, malahan dia tersenyum kepadaku. Melihat hal seperti itu, aku yakin dia merespon. Kontan aja barangku tegang.

Kami saling bertatap muka, entah energi apa mengalir ditubuh kami,
dengan berani kucium bibirnya, Rosa hanya terdiam dan tidak membalas.
“Kok kamu diam?”
“Ehmm… malu, Bang”
Aku tahu dia belum pernah melakukan hal ini. Terus aku melumat bibirnya yang tipis berbelah itu. Lama-kelamaan ia membalas juga, hingga bibir kami saling berpagutan. Kulancarkan serangan demi serangan, dengan bimbinganku Rosa mulai terlihat bisa meladeni gempuranku. payudara miliknya kini menjadi jajalanku, kujilati, kuhisap malah kupelintir dikit.
“Ouhh… sakit, Bang. Tapi enak kok”
“Sa… tubuh kamu bagus sekali, sayang… ouhmmm” Sembari aku melanjutkan kebagian perut, pusar dan kini hampir dekat daerah kemaluannya. Rosa tidak melarang aku bertindak seperti itu, malah ia semakin gemas menjambak rambutku, sakit emang, tapi aku diam saja.

Sungguh indah dan harum memeknya Rosa, maklum ia baru saja selesai mandi. Bulu terawat dengan potongan tipis. Kini aku menjulurkan lidahku memasuki liang vaginanya, ku hisap sekuatnya sangkin geramnya aku.
“Adauuu…. sakiiit” tentu saja ia melonjak kesakitan.
“Oh, maaf Sa”
“Jangan seperti itu dong” merintih ia
“Ayo lanjutin lagi” pintanya
“Tapi, giliran aku sekarang yang nyerang” aturnya kemudian

Tubuhku kini terlentang pasrah. Rosa langsung saja menyerang daerah sensitifku, menjilatinya, menghisap dan mengocok dengan mulutnya.
“Ohhh… Sa, enak kali sayang, ah…?” kalau yang ini entah ia pelajari
dari mana, masa bodo ahh…!!
“Duh, gede amat barang mu, Bang”
“Ohhh….”
“Bang, Rosa sudah tidak tahan, nih… masukin punya mu, ya Bang”
“Terserah kamu sayang, abang juga tidak tahan” Rosa kini mengambil posisi duduk di atas tepat agak ke bawah perut ku. Ia mulai memegang kemaluanku dan mengarahkannya ke lubang vaginanya. semula agak sulit, tapi setelah ia melumat dan membasahinya kembali baru agak sedikit gampang masuknya.
“Ouuu…ahhhhh….” … seluruh kemaluanku amblas di dalam goa kenikmatan milik Rosa.
“Awwwh, Baaaang….. akhhhhh” Rosa mulai memompa dengan menopang dadaku. Tidak hanya memompa kini ia mulai dengan gerakan maju mundur sambil meremas-remas payu daranya.

Hal tersebut menjadi perhatianku, aku tidak mau dia menikmatinya sendiri. Sambil bergoyang aku mengambil posisi duduk, mukaku sudah menghadap payudaranya.Rosa semakin histeris setelah kujilati kembali gunung indahnya.
“Akhhhh… aku sudah tidak tahan, bang. Mau keluar nih.
Awwwhhh??”
“Jangan dulu Sa, tahan ya bentar” hanya sekali balik kini aku sudah berada diatas tubuh Rosa genjotan demi genjotan kulesakkan ke memeknya. Rosa terjerit-jerit kesakitan sambil menekan pantatku dengan kedua tumit kakinya, seolah kurang dalam lagi kulesakkan.

“Ampuuuun…… ahhhh… trus, Bang”
“Baaang… goyangnya cepatin lagi, ahhhh… dah mau keluar nih”
Rosa tidak hanya merintih tapi kini sudah menarik rambut dan meremas tubuhku.
“Oughhhhh… abang juga mau keluar, Zzhaa” kugoyang semangkin cepat, cepat dan sangat cepat hingga jeritku dan jerit Rosa membahana di ruang kamar.
Erangan panjang kami sudah mulai menampakan akhir pertandingan ini.
” ouughhhhh…. ouhhhhhh”
“Enak, Baaaangg….”
“Iya sayang…. ehmmmmmm” kutumpahkan spermaku seluruhnya ke dalam vagina Rosa dan setelah itu ku sodorkan ****** ke mulutnya, kuminta ia agar membersihkannya.
“mmmmmmuaaachhhhh…” dikecupnya punyaku setelah dibersihkannya dan itu pertanda permainan ini berakhir, kamipun tertidur lemas.

Kesempatan demi kesempatan kami lakukan, baik dirumah, kamar mandi, di hotel bahkan ketika sambil menggendongku anakku, ketika itu di ruang tamu. Dimanapu Rosa siap dan dimanapun aku siap.

Gara-Gara Lampu Mati

saat itu hari minggu pagi pukul 9 aku sedang menyiram tanaman di halaman rumahku, tiba-tiba bell gerbangku berbunyi ku lihat ada seorang wanita, ku buka gerbangku dan ku tanya ada perlu apa karena aku tidak mengenalinya.

aku : mbak sapa? ada perlu apa bu?
mbak : saya dewi dik, saya istrinya pak handoko.


pak handoko adalah tukang kebunku sebulan yang lalu karena dia dulu mencuri dirumahku jadi aku pecat dan ekarang dia dipenjarakan.
aku : oh iya iya, (sebetulnya aku mulai marah saat mendengar dia istri pak handoko, tapi saatku lihat dia malah menangis dan berlutut kepadaku)
mbak : dik tolong lah saya dik, tolong keluarkan suami saya dik maafkan dia dik.
aku : aduh mbak berdiri-berdiri mbak saya ga enak kalo mbak berlutut depan umum lagi, kita bicarakan didalam.
lalu aku suruh dia masuk dan duduk di ruang tamu, dia yang terus menangis dan memohon padaku untuk mencabut tuntutanku.

mbak : dik tolong dik saya mohon dik saya sengaja dari kampung kesini untuk memohon dik boy memaafkan suami saya, saya tidak mampu bila harus menafkahi anak saya dikampung dik.
aku ; maaf iya mbak saya tidak bisa, kalo saya ngeluarin suami mbak keenakan dong.
mbak : tolong lah dik munggkin dia dulu hilaf dik, (sambil dia berlutut lagi kepadaku) saya rela kok dik harus berbuat apa saja buat dik boy, asalkan suami saya keluar.

tiba-tiba aku berpikir jorok saat si mbak dewi ini bilang rela asal suaminya keluar, aku pandangi wajahnya mbak dewi dia cantik juga kulihat kulitnya putih kecoklatan dan bodynya yang membuatku semakin berpikir jorok, bodynya yang mantap langsing namun berisi, berpayudara bulat lumayan besar.

aku : bener ni mbak mau berbuat apa saja buat saya?
mbak : iya dik apa saja..
aku : ya sudah mbak duduk dulu jangan berlutut terus dong biar enak ngobrolnya.
mbak : iiya dik...
aku : tadi kan mbak bilang mau berbuat apa saja, nah kalo saya minta tubuh mbak gimna bersedia ga?
si mbak dewi langsung bengong lalu menundukan kepalanya.
mbak : hmm dik apa tidak ada permintaan yang lain?
aku : mbak mau ga? kalo ga mau ya silahkan keluar saya ga maksa kok, kalo mbak mau sekarang juga mbak buka pakaian.

lalu dia berdiri, aku pikir dia akan pergi namun ternyata dia membuka seluruh pakaiannya sampai bugil. aku berdiri dan mendakati dia,.
aku : mmm mbak (aku meraba-raba tubuhnya, membela lembut payudaranya yang bulat, ku angkat tangan kananya kuliat keteknya yang tak berbulu lalu ku jilat keteknya walaupun tak begitu wangi tapi aku suka dan sudah sangat bernafsu, dia mendesah kegelian.

mbak : ahhh duhhh dikkk geliiii ahhhhh sudah dikk.
akupin menyudahinya dan mulai menjilati payudaranya sambil ku remas-remak kedua susunya, aku kenyot-kenyot pentilnya..
mbak : ahhhh ahhh enakkk dikkk ahhhh dikk......
lalu aku buka kaosku dan celanaku, aku memandang wajahnya yang cantik, dan dia memandangi penisku yang sudah membesar dan mengeras. aku tersenyum..
mbak : dikk anunya besar sekali saya ngeri liatnya..
aku ; ah si mbak tenang aja mbak walau besar tapi ga gigit kok. ni pegang aja mbak.

dia memegang penisku dan meremas-remas dengan pelan oleh tangan kananya sedangkan tangan kirinya menggesek-gesek vaginanya sendiri. aku duduk disofa lalu aku suruh dia naikdi atasku dan ku arahkan penisku ke vaginanya ku masukan dengan pelan karena vaginanya walau sudah basah tapi tetap keset..
mbak : aduuuhhh diikkk ehhhhh gaa muatttt dikkk...aaaaaaaaaaaa
aku : sabar mbak eh eh muat kok...
lalu aku ludahi dulu penisku dan sedit demi sedikit penisku dimakan vaginanya..dan akhirnya masuk semua..
mbak : aaahhh dikkk pelan pelann ahhhh masukkk terusss aaaaaaaaa
aku : ehh ehhh ahhh masukkk mbakkk...
lalu si mbak menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan dan menaik turunkan pinggulnya..
mbak : ahh ahhh dikkk k0ntol besarr dikkk ahhh uhhhh ehh ehhh enakkk iya enakkk dikkkk...
aku : terus mbak hajarrr k0nt0l sayaaa m3m3k mbakk uhhhhh rapetttt enakkk mbakkk uhhhh.....
mbak : diikk kenyott susu sayaaa dikkk ahhhh ahhh uhhhh uggggggg apunnnn enakk bangetttttt dikkkk....
aku : mmmm mmmm hmmmm
mbak : dikkk ahh ahhh ahhh sayaa suka k0nt0l dikkkk boyyy hmmmmm sayaaaa.... dikkk sayyaaaaa ahhh ga tahaaaaaa aaaaaaaa saaya eluarrrrrr...
dia berheti bergoyang dan ku rasakan penisku diguyur air hangat dari dalam vagina si mbak dewii...lalu aku angkat dia dan aku dudukan di sofa sambil ngangkan...aku mulai memaju mundurkan penisku.
mbak : ahhhhh ahhhhh dikkkkkkk aduhhhhhh k0nt0ll dikkk boyyy ahhhhhhh enakkkkk dikkkkk ahhh ahhh ahhhhhyaaa yahhh yahhhhh....
aku : nikmati mbak
mba : ssssstttt ohhhh iyaaa dikkkk terusss dikkk etot sayaaaaa ahhhh ssssttt sayya sukkkaaa ahhhh ahhh nikmttttttt auuhhhhh
ku pandangi wajahnya yang cantikk dan benar memang cantikk saat dia mendesah merem melek membuat nafsuku semakin ganas ku maju mundurkan dengan sangat cepatt.
mbak ; ah ah ah ah diikkkkkkkkkk ah ah ah uh uh ahhhhhhhh terusssssss ahhh ahhhhh....
aku : ahhh ehhh mbakkkk mbakkkk ahhh ahhhh ......ohh ohhh sttttt
mbak : terusss dikkk yang cepettt abisinnn m3m3k sayaaaa ahh ahhh ehhhh ehhhh ohhhhh enakkkk nyaaaa dikkkkk saya terbangggg ahhhhhhhh ahhhhh enak ya enakkkkk
aku : ahhh errrgghhhhh mbakkk yhhh
mbak ; dikkk sayaaa ga tahaaan lgiiiii dikkkkk aaaaaaaahhh aaaaaaaaahhhhh ahhhhhh
aku : sayaaaa jugaaa mbakkkk ga tahannnnn ahhh kita sama-sama
mbak : iya dik ayooo haaaaa ahhhh keluarrrrrr
aku : ahhh mbak crotttt crottttt...crooottt ehhh...crootttt crottttt
pejuku keluar sangat banyak didalam vaginanya bercampur dengan pejunya. saat ku cabut penisku peju kami berdua ikut keluar dan menetes kesofaku..aku sambar bibirnya kami berciuman sembentar lalu ku berikan penisku mulutnya agar dia membersihkanya.. setelah bersih penisku, aku pergi kedapur untuk minum dan tak lupa membawakannya juga sedelas air.saat aku kembali ke ruang tamu aku liat dia malah nangis lagi ku tanyai dia.
aku : mbak kok nangis lagi kenapa mbak? mbak nyesel ya karena ngentot tadi.
mbak : saya sedih karena sebetulnya saya suka dan seneng di entot dik boy.
aku : kalo gitu ya sudah jangan nangis mbak. (sambil ku elus-elus kepalanya)
mbak : iya soalnya saya sudah ga bisa ngerasain yang kaya tadi dik, kan suami saya bakal adik boy keluarin dan dicabut tuntutanya.
aku : kalo gitu saya ga jadi aja mencabut tuntutannya mbak karena saya juga suka ngentot sama mbak.
mbak : tapi yang nafkahi saya sama anak saya dikampung sapa dik.
aku : biar saya mbak, asa mba mau dientot sama saya aja...
mbak : bener dik?
aku : iya mbak.
mbak : makasih dikk saya sangat senang. (sambil memeluku dengan erat)
ku lihat jam baru set 1 siang ku ajak dia mandi dkamar mandi dia memandikanku. singkat cerita..

sebulan sudah aku denganya sekarang dia telah jadi janda karena dia mengugat cerai pak handoko, aku dengannya kumpul kebo aku rutin mengentotnya dia semakin cantik karena aku sering membiayainya untuk perawatan, aku menjadi cinta sayang padanya. pada suatu hari aku sedang kerja dia meTLPku katanya dia mual-mual dan muntah muntah. ternyata dia hamil dan aku menikahinya..

Bercinta dengan mbak dewi

Tiga hari pertama aku tinggal di rumah Tante Hani, aku dan Mbak Vidya tiap malam berhubungan seks. Kami bangun selalu sebelum jam 4 pagi untuk melakukannya sekali lagi sebelum aku pindah ke kamar tamu.

Namun, setelah petualangan seksku dengan ibu di rumah kami, nafsu seksku terbiasa diumbar bebas, melakukan seks hanya malam dan pagi membuat aku merasa kekurangan. Akhirnya, pada hari ke empat, aku mencoba melakukannya di pagi hari setelah sarapan.

Saat itu kami sedang duduk di ruang keluarga. Tante Hani sedang berkebun di halaman belakang. Pembantu mereka sedang keluar untuk belanja bahan makanan. Aku dan Mbak Vidya baru selesai sarapan dan memutuskan untuk menonton TV.


Mbak Vidya duduk memanjang di sofa besar dengan kaki di atas sofa menghadap TV. Aku duduk di sofa kecil di sebelahnya. Mbak Vidya belum mandi dan masih mengenakan piyama model celana panjang dan baju you can see dengan kancing di depan. Saat itu udara tidak begitu panas, namun Mbak Vidya baru saja sarapan indomie rebus dan sedang bermandikan peluh.

Bau tubuh Mbak Vidya yang belum mandi sedikit tercium dari tempatku duduk. Rambutnya agak lepek dan ia sedikit terengah-engah mungkin karena beberapa cabe rawit yang dimasak di indomienya. Aku menjadi horny.

Aku segera menghampiri Mbak Vidya lalu melumat bibirnya yang merekah itu tiba-tiba. Untuk beberapa waktu Mbak Vidya membalas lidahku dengan lidahnya. Dari mulutnya aku dapat merasakan sedikit kuah indomie rasa kari ayam yang membuat aku bertambah buas melumat bibir dan mulutnya. Bunyi kecupan bibir kami mulai bertambah banyak dan cepat. Namun akhirnya Mbak Vidya mendorongku dan dengan suara tertahan berkata,

“Adek! Nanti kelihatan orang lain. Lagian Mbak kan belum mandi!”
“Ga ada orang, Mbak. Terus, biar Mbak belum mandi, tubuh Mbak harum baunya.”
“tapi kalo kelihatan Ibu gimana?”
“Ari kangen, Mbak….. ga tahan nih…….”
“Ah…. Ariii…… jangan dong…….. bahaya….”
“Mbak…. Sebentar aja ya……. quickie express aja gimana? Ga tahan nih….. abis Mbak cantik banget…… bikin Ari ga nahan…..”
Mbak Vidya mengerutkan keningnya, aku mengecup bibirnya lagi. Kami berciuman sebentar sebelum akhirnya Mbak Vidya melepaskan ciuman lagi.

“Jangan ahhhhh…..”
Dengan cepat aku merogoh celana piyamanya dan terkejut ketika mendapati tangan kiriku itu tidak terhalangi celana dalam melainkan telapakku meraba selangkangannya yang gundul itu.

“Adek!”

Mbak Vidya menghardikku pelan dan tangannya menahan tanganku namun tidak berusaha menepis tanganku. Hanya menahan pelan saja. Aku menggerakan jemariku hingga mengelusi bibir memeknya. Mbak Vidya mendesis sambil membisikan agar aku menghentikan aktivitasku itu.

Namun aku tetap mengelusi kemaluan botak Mbak Vidya sambil cengengesan. Mbak Vidya mengerutkan dahinya sambil memonyongkan mulut untuk memperlihatkan bahwa ia sebal. Namun di mataku, Mbak Vidya tambah cantik saja.

“Mbak Vidya tambah cantik loh…..”

Lalu aku mencium bibirnya dan kali ini kami berciuman agak lama. Lambat laun vagina Mbak Vidya menjadi basah juga dan keringatnya bertambah deras. Bau tubuh Mbak Vidya menjadi bertambah keras tercium di udara.

“ya udah…. Di kamar Mbak aja ya…. biar bisa dikunci,” kata Mbak Vidya setelah melepaskan ciuman kali ketiga dan sambil berdiri untuk berjalan cepat ke kamar. Aku tidak siap sehingga butuh sepersekian detik untuk mengejarnya.

Aku berhasil mengejarnya di kaki tangga dan memegang tangannya, tapi Mbak Vidya lebih cepat reaksinya dan berhasil melepaskan diri. Kami berkejaran sehingga pertengahan tangga di mana tangganya membelok 90 derajat dan kali ini aku berhasil memegang kedua pinggulnya. Mbak Vidya berusaha meloloskan diri namun tak berhasil. Ia memegang pagar tangga dan berusaha menarik tubuhnya agar lepas dari cengkramanku.

Berhubung tanganku mencengkram celana piyamanya maka kini tiba-tiba saja celana panjangnya itu tertarik sampai lutut.

“Aaaahhh…..” jerit Mbak Vidya.

Mbak Vidya berhenti walau berhasil naik satu tangga karena celananya melorot sehingga posisinya kini sedang berpegangan ke tangga dengan kaki kanan di anak tangga yang lebih tinggi satu tingkat dari anak tangga tempat kaki kirinya berada. Posisinya ngangkang. Berhubung ia tidak pakai celana dalam, maka kini Mbak Vidya sedikit nungging berpegangan tangga dengan pantat dan memek yang telanjang dengan kaki kanan menekuk berlutut karena tertahan oleh cengkramanku di kakinya.

Dengan sigap aku segera menghampiri Mbak Vidya sambil melorotkan celana pendekku lalu memposisikan kontolku yang sudah tegang didepan memeknya yang basah itu dan menusuk lubang kenikmatan Mbak Vidya.

Gerakanku begitu cepat sehingga hanya membutuhkan beberapa detik saja. Memek Mbak Vidya sudah basah namun belum kuyup, sehingga agak sedikit seret. Sensasinya bagaikan sedang memperkosa, dan aku menjadi buas.

“Adeeeekkk……” erang Mbak Vidya.

Dengan cepat aku merojok-rojok memek Mbak Vidya yang sempit dan hangat itu dengan kontolku, kemudian aku peluk Mbak Vidya dari belakang dengan kedua tanganku untuk kupegang baju piyamanya di bagian lubang leher piyama itu, lalu dengan sekuat tenaga aku bedol baju piyamanya sehingga berhamburanlah beberapa kancing-kancing piyamanya sehingga kini piyamanya terbuka paksa, namun masih ada dua kancing tersisa dan kembali aku buka paksa sehingga kedua kancing itu copot juga.

Aku remas teteknya yang ternyata masih terbalut bra. Dengan gemas aku melepaskan pelukanku dan hendak merobek bajunya, tetapi saat tangan kananku menarik kerah bajunya, Mbak Vidya melepaskan tangan kanannya dari pagar tangga dan menggerakan tangan itu ke belakang sehingga gerakanku membuat baju piyama Mbak Vidya terlepas dari tangan kanannya sehingga kini bajunya tergantung di tubuh bagian kiri karena tangan kiri Mbak Vidya masih memegang tangga.

Tak sabar aku geser baju itu ke samping sehingga berjumbel di tangan kiri Mbak Vidya. BH hitam Mbak Vidya kini yang menutupi tubuh bagian atasnya. Sungguh indah melihat punggung putih penuh keringat Mbak Vidya yang berbalut bra hitam sementara tubuh bagian bawahnya sudah telanjang bulat. Tubuh seksi itu terguncang-guncang karena gempuran tubuhku yang sedang mengawininya di tangga. Mbak Vidya kembali memegang tangga dengan kedua tangannya, tak peduli lagi baju piyamanya yang sudah rusak dan tergantung di tangan kiri.

Selama itu, memek Mbak Vidya kini sudah basah kuyup membuat dinding kemaluan Mbak Vidya yang sempit itu semakin licin. Selangkanganku menampari pantatnya semakin cepat. Aku menyusupkan kedua tanganku ke dalam BHnya dari arah bawah sehingga kedua tanganku dapat meremas kedua payudara Mbak Vidya tanpa halangan apapun lagi, namun aku tak mau melepas BHnya, karena dari belakang terlihat seksi sekali pemandangan seorang perempuan yang hanya memakai BH hitam sementara bagian tubuh yang lain sudah bugil.

Aku mulai menjilati punggung Mbak Vidya yang basah kuyup oleh keringat kakak sepupuku itu. Tak lupa aku memberikan cupangan di sana sini. Sementara kini Mbak Vidya hanya mampu mengerang saja kugagahi di tengah tangga seperti ini sambil tetap berpegangan pada jeruji tangga. Makin lama punggung putih indah Mbak Vidya sudah belang-belang dihiasi bercak cupanganku telah bermandikan keringatnya yang bercampur air ludahku. Sementara, Mbak Vidya sudah mengerang-ngerang dan badannya maju mundur dengan cepat.

Aku pun menambah cepat goyanganku. Suara selangkanganku dan pantat Mbak Vidya beradu terdengar membahana terpantul dinding rumah yang besar itu. Sementara tanganku terus menerus meremas-remas tetek Mbak Vidya dengan penuh nafsu, entah apakah Mbak Vidya merasakan sakit, aku sudah tidak lagi peduli.

Jepitan memek Mbak Vidya yang belum lama ini masih perawan memang sensasional. Kontolku bagaikan terhimpit dinding berbentuk silinder yang hangat dan licin. Setiap gerakan kontolku entah maju entah mundur menyebabkan sedikit rasa ngilu yang menjalar sepanjang batang kontolku menuju seluruh tubuhku.

Entah berapa lama kami ngentot di tangga, akhirnya Mbak Vidya duluan orgasme. Dinding memeknya seperti biasa bagaikan hidup, membuka menutup di sekeliling batangku seakan hendak menghisapi alat vitalku agar masuk lebih dalam lagi. Beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan persenggamaan ini, dengan menggenggam payudara Mbak Vidya keras-keras, aku mengenyot kuat-kuat punggungnya sambil aku tekan kontolku sejauh yang kudapat di dalam lubang persenggamaan kakak sepupuku itu dan memuntahkan spermaku dalam rahim mudanya.

Beberapa saat berlalu kami berdua melepaskan nafsu birahi, dunia bagaikan berhenti berputar, waktu bagaikan terdiam sejenak. Seluruh indera kami memusatkan perhatian pada kedua kelamin kami yang sedang bersatu dan berbagi klimaks.

Tak lama Mbak Vidya selesai orgasme dan tubuhnya melemah dan bagian depan tubuhnya merosot kebawah, sementara aku menegakkan badan tanpa melepaskan alat vitalku yang masih bersarang di dalam lembah kenikmatannya. Sungguh pemandangan indah.

Suara kaki Tante Hani membuat kami otomatis bergegas merapikan baju kami dan berlari ke kamar agar tidak ketahuan..

Setelah hari keempat, ada perubahan pada Tante Hani yang kurasakan, tiap kali aku sedang berdua dengan Mbak Vidya, Tante Hani menatap kami berdua dengan pandangan aneh, yang menurutku mirip-mirip dengan pandangan orang yang sedang bercuriga. Apakah Tante Hani mengendus sesuatu yang aneh dari hubunganku dan anaknya?

Kalau dipikir-pikir, antara Mbak Vidya dan aku sekarang mesra sekali. Kami selalu berdua kemana-mana. Mbak Vidya seringkali merangkul lenganku bila berbicara, dan kami tidak risih saling berbisik-bisik. Jadi, aku semakin yakin bahwa Tante Hani menjadi curiga karena hubungan aku dan anaknya sudah seperti dua remaja yang sedang jatuh cinta satu sama lain.

Hal ini aku sampaikan kepada Mbak Vidya ketika kami berduaan di kamar setelah hari yang kelima aku menginap di sana, namun Mbak Vidya hanya tertawa saja dan berkata padaku,

“Makanya, kamu otaknya ngeres melulu sih. Sedikit-sedikit kalau tidak ada orang kamu nyiumin Mbak. Terus kalau yakin ga bakal ada orang yang ganggu, kamu setubuhi Mbak di tempat, ga peduli lagi ada di tangga, kamar mandi, ruang makan dan di mana aja. Itulah sebabnya kamu jadi parno sendiri. Supaya ga parno, kamu coba deh jangan terlalu nafsu sama Mbak. Masa sama Mbaknya sendiri nafsu?”

“Salah Mbak Vidya sendiri…” kataku cepat.
“Loh, kok salah Mbak? Kan adek yang selalu duluan ngajakin Mbak untuk gituan gak pandang tempat dan waktu.”
“Habis Mbak Vidya itu cantik banget. Kalau dekat begini Ari selalu nafsu. Biar Mbak Vidya pakai baju yang longgar pun, tapi kalau Ari udah mencium aroma tubuh Mbak Vidya, selalu deh burung Ari bangun…”
Mbak Vidya tertawa kecil lalu mendorong kepalaku sambil berkata,

“Dasar lelaki! Biar masih kecil tapi otaknya ngeres melulu!”

Aku merengutkan mukaku pura-pura marah, namun kemudian kupeluk tubuhnya dari samping. Saat itu kami sedang tiduran menghadap langit-langit sambil berbicara. Pelukanku membuat tubuhku setengah menindih tubuh Mbak Vidya sementara bibirku menyerang bibirnya.

“Tuh, kan……” kata Mbak Vidya merajuk sesaat sebelum kedua bibir kami bertemu.
Tak lama aku sudah menindih Mbak Vidya sementara kami berdua asyik menukar ludah dengan kedua lidah kami yang bergelut dalam rongga-rongga mulut kami. Tiba-tiba saja terdengar panggilan Tante Hani yang mengajak kami makan siang dan suara itu sudah dekat kamar Mbak Vidya.
Serta-merta aku menggulingkan tubuh ke samping dan saat aku duduk di pinggir tempat tidur pintu kamar telah terbuka. Mbak Vidya tidak secepat aku beraksi. Dia masih berbaring telentang dan wajah yang terkejut. Untung saja kami belum membuka baju kaos kami. Benar-benar nyaris ketahuan!
“Lagi ngapain pada?” tanya Tante Hani. Aku mendengar nada menuduh di kalimat itu, namun Mbak Vidya tampaknya tidak merasakan yang sama. Mbak Vidya lalu menjawab,
“Biasa, Ma.. lagi ngobrol aja…”

Aku melihat Tante Hani melirik selangkanganku. Aku saat itu memakai kaos singlet dan celana boxer. Dan baru kusadari bahwa burungku sedang tegang. Celana boxer itu memperlihatkan batangku yang panjang dan keras menyembul seakan mau mengeluarkan diri dari kungkungan celana ketat itu. Parahnya lagi, aku ketahuan hanya memakai baju dalam saja yaitu Singlet dan celana boxer (bagi yang tidak tahu, celana boxer adalah celana dalam model celana pendek).

Mbak Vidya memakai kaos you can see dan celana pendek ketat pula. Bila diperhatikan, maka putingnya terlihat menembus baju kaosnya itu karena Mbak Vidya tidak pakai BH. Untung saja celana pendek Mbak Vidya tidak tipis, karena pada saat itu kakak sepupuku itu juga tidak memakai celana dalam. Bila celananya tipis, tentu akan terlihat bahwa ia tidak memakai celana dalam.

Tante Hani meninggalkan kamar dengan alis yang ditekuk. Aku pikir tanteku itu sudah mulai mengendus ketidak laziman hubungan anaknya dan aku. Sebelum aku dapat membahas ini, Mbak Vidya sudah mendorongku ke luar kamar dan menyuruhku makan siang duluan. Aku bergegas ke kamarku untuk memakai celana panjang dan kaos, dan ketika aku sampai di ruang makan, Mbak Vidya juga sudah memakai celana jins dan kaos longgar.

Setelah makan siang Tante Hani pergi, katanya ia akan kembali sebelum makan malam. Kesempatan ini segera aku manfaatkan sebaik-baiknya. Mbak Vidya dan aku main sampai tiga kali sore itu. Alhasil, ketika makan malam selesai, Mbak Vidya yang kelelahan sudah tidur duluan. Aku sempat ingin merasakan menyetubuhi perempuan yang sedang tidur, namun akhirnya aku putuskan untuk ke ruang keluarga untuk menonton TV.

Aku agak terkejut ketika mendapati Tante Hani sedang menonton TV dengan berbaring di sofa. Kekagetanku disebabkan pakaian Tante Hani yang seksi sekali. Beliau memakai gaun tidur tanpa lengan yang panjang roknya berhenti di atas lututnya. Gaun tidur itu berwarna hitam, namun di beberapa bagian transparan, yaitu pada bagian atas dadanya dan di bagian perutnya. Bagian atas gaun itu berbentuk setengah lingkaran, yaitu pada bagian tali lengannya dan bagian atas dadanya. Bagian atas dada yang terlihat hanya sampai permulaan kedua payudara tanteku itu mulai meninggi. Berhubung kedua teteknya besar, maka terlihatlah bagian lipatan dadanya membentuk garis sangat tipis karena himpitan kedua payudara yang besar itu.

Saat aku memasuki ruang keluarga, Tante Hani sedang tiduran dengan tangan kirinya diletakan di atas bantal menyangga kepalanya, sehingga terlihatlah ketiaknya yang putih dan berbeda dari ibuku, Tante Hani mencukur habis ketiaknya. Bahkan, tidak terlihat ada satu pun akar rambut di situ. Mungkin Tante Hani mencabuti bulu ketiaknya dengan teratur, karena tidak ada tanda bekas cukur yang menggelap di sana. Ketiak Tante Hani benar-benar mulus dan botak. Dengan melihat ini saja, sontak kejantananku mengeras sampai pol.

“Ari?” tanya tante Hani padaku sedikit terkejut. “Tumben kamu turun ke sini. Biasanya main sama Mbakmu terus…”

Aku merasakan sedikit ketakutan ketika Tante Hani mengatakan ‘main’, aku parno apakah ia mengetahui bahwa aku selama beberapa hari ini terus menggauli anak gadisnya itu?

“Eh…..” kataku sedikit tercekat,” Mbak Vidya udah tidur. Mungkin capek.”

“Ah… capek gimana?” jawab Tante Hani,”wong kerjanya makan tidur kalo libur begini. Memang doyan tidur aja dia..”

Aku duduk di sofa kecil di samping sofa besar yang ditiduri Tante Hani. Aku lupa pakai celana panjang tadi, sehingga kini aku hanya memakai celana boxer dan kaos singlet. Berhubung aku pikir Tante Hani sudah masuk kamarnya sendiri. Tiap kamar ada TV-nya, sehingga aku tidak menyangka ternyata Tante Hani nonton di ruang keluarga.

Sepanjang jalan dari saat aku memasuki ruangan hingga aku duduk, aku memperhatikan lekuk tubuh Tante Hani yang semok. Perutnya buncit, tapi bukan buncit gendut, hanya daerah sekitar pusar saja yang buncit tanda pernah melahirkan, juga aku memperhatikan ketiaknya yang putih bagai salju. Lebih putih dari kulit bagian lain. Tidak terlihat bekas cukur di situ. Bagaikan ia memang tidak memiliki bulu ketiak dari dulu.

Ketika aku sadar aku kurang ajar dengan menatapi tubuhnya seperti itu, aku segera menatap matanya, yang ternyata sedang menatap selangkanganku. Memang saat itu burungku sudah tegak, apalagi karena melihat tubuhnya yang walau memakai gaun tidur, tapi tampak seksi sekali.

Ketika aku sudah akan duduk, aku masih menatap matanya yang sedang asyik memperhatikan daerah terlarangku, barulah ketika aku duduk, mata Tante Hani menatap mataku. Sesaat kami bertatapan mata, aku melihat tatapannya yang berhiaskan harap, sehingga aku bukannya takut namun malah memberanikan terus menatap matanya. Aku pernah melihat tatapan yang sama pada ibuku dan Mbak Vidya, terutama ketika mulai birahi. Apakah Tante Hani sedang horny?

Setelah sejenak kami bertatapan, Tante Hani memalingkan mukanya dariku dan menatap TV lagi. Semburat merah terlihat di wajahnya yang putih. Menurutku, wajah wanita dewasa yang sedang tersipu seperti tanteku itu menjadikan kecantikannya bertambah seksi.

Kami terdiam selama beberapa waktu. Entah dua, tiga atau lima menit. Kami asyik dengan pikiran kami sendiri. Namun kemudian, setelah berdehem, tanteku berkata,

“Ari… tante mau ngomong sama kamu…. Kamu jangan marah ya….”

Seketika aku lemas. Aku saat itu berpikiran bahwa mungkin ini adalah saatnya Tante Hani akan memarahi aku karena hubunganku dengan anaknya. Tante Hani kemungkinan besar sudah tahu jalinan terlarang antara Mbak Vidya dan aku.

“Begini, Ri. Kamu tau kan Mbakmu Vidya. Dia itu baru lulus SMA. Rencananya tahun ini dia akan meneruskan kuliah. Mbakmu itu, remaja anak Jakarta. Pergaulan di Jakarta itu sekarang sudah modern. Nilai-nilai lama sudah ditinggalkan. Batas kesopanan sudah berbeda dibanding pada masa Tantemu dan ibumu dulu masih muda.

“Tadi siang Tante lihat kalian berdua di kamar tidur, memang sih hanya berbicara, namun pakaian kalian itu tuh. Masak hanya pakai baju dalam saja? Bukannya Tante marah, tapi rasanya ga pantas dua anak remaja berduaan pakai baju yang minim. Jangan bilang bahwa kamu sih biasa saja menghadapinya. Wong tante merhatikan burung kamu itu tegang, kok, waktu di dalam kamar Mbakmu. Sama kayak sekarang, burung kamu tegang lagi.

“Maksud tante, kamu ini sudah besar. Hal-hal seperti ini kamu sudah mengerti. Buktinya kamu kalau melihat perempuan pakai baju minim, kamu sudah mempunyai hasrat seksual. Jadi sebenarnya kamu sudah tahu mengenai hal-hal yang saru. Itu bukan hal yang salah, dan tante tidak menyalahkan kamu, kok. Jadi kamu jangan sedih dulu (wajahku sedang memelas saat itu).

“Nah, Mbakmu Vidya itu, mungkin karena pergaulannya yang modern dengan teman-temannya, maka dia tidak merasa bahwa apa yang dilakukannya salah. Kamu juga ga salah, karena kamu pun kayaknya ga tahu bahwa sebenarnya kalian itu ga pantes berduaan dengan hanya baju yang minim.

“Maksud tante. Mbakmu itu bukan anak yang polos lagi. Walaupun dia sudah sumpah di depan tante bahwa dia masih perawan, tapi mengenai hal-hal yang dewasa dia itu juga sudah tahu. Mungkin Karena pergaulannya, atau mungkin pendidikan, atau dari media informasi. Seharusnya dia juga tahu bahwa dengan berbaju minim itu, dia mengundang kelelakian kamu.

“Nah. Kemarin siang Tante lihat kalian sedang ciuman di ruang makan. Ciumannya hot banget. Pakai lidah segala. Apakah kamu menyangkal?”

Jantungku berhenti berdetak untuk beberapa saat. Ternyata kecurigaanku terbukti. Tante telah menyaksikan kami ciuman! Apakah Tanteku tahu sejauh mana hubunganku dengan Mbak Vidya?

Karena aku belum menjawab, dengan perlahan Tante Hani bertanya lagi,

“Benar ga kata-kata Tante, Ari? Kamu dan Mbak Vidyamu itu ciuman, kan?”

Aku hanya mengangguk dan menunggu semprotan susulan dari tanteku itu.

“Tante minta maaf. Tentu saja bukan salah kamu. Kamu kan masih kecil. Baru kelas 2 SMP Juli nanti. Tante minta maaf karena tidak bisa mengontrol anak tante. Dia itu lebih tua, harusnya lebih tahu. Nah, setelah tante melihat kemesraan kalian itu, Tante menjadi bertanya-tanya dan berpikir. Kenapa sih Mbak Vidya itu yang katanya masih perawan malah menggoda adik sepupunya sendiri?

“Tante terus mengingat-ingat masa lalu. Kalian berdua semenjak kecil memang dekat sekali. Dan memang itu sah-sah saja. Karena seharusnya kalian menjadi kakak dan adik sebagaimana mestinya. Tetapi, tante ingat ketika tahun lalu, kamu ini baru mau lulus SD, terakhir kali kamu dan mamamu menginap di rumah Tante.

“Entah kenapa kalian menjadi jarang ke sini lagi. Dan ini merubah Mbak Vidyamu. Dia jadi menutup diri di kamar. Waktu itu tante kira karena dia baru saja putus dari pacarnya. Jadi tante ga banyak pusing. Tetapi sekarang, ternyata Tante tahu permasalahannya.”

Aku semakin keringat dingin. Bentar lagi pasti akan pecah nih kemarahan Tanteku.

“Setelah tante pikir-pikir dengan seksama. Maka, tante menduga bahwa Mbakmu itu sebenarnya jatuh cinta sama kamu. Itulah kenapa tahun lalu dia tampaknya sedih. Dan itulah kenapa sekarang ketika kamu nginep di sini lagi, Mbakmu itu merayu kamu. Sampai kalian ciuman. Nah, yang tante mau tekankan adalah, jangan sampai hubunganmu terlalu jauh dengan Mbakmu. Kalian berdua ini masih muda. Masih sekolah. Jangan sampai ada sesuatu yang menghambat perkembangan kalian…”

Pertama-tama aku mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang Tante Hani katakan. Mau ga mau. Karena aku ketakutan dimarahi, aku menjadi siaga dan mendengarkan penuh apa yang ia katakan padaku. Tetapi setelah akhirnya aku mendapati bahwa Tanteku itu tidak marah padaku, pikiranku mulai ngelantur lagi. Mataku bagaikan ditarik oleh magnet yang tak terlihat dari tubuhnya sehingga mataku bolak-balik memperhatikan pangkal lengannya yang mulus dan dua buah payudaranya yang besar. Ketiak yang bersih dan botak bagaikan ketiak anak kecil dan gundukan buah dadanya mengirimkan sinyal yang tabu kepada naluri kelelakianku.

Tidak kusadari Tante Hani sudah tidak berbicara lagi. Suasana rumah menjadi hening. Dengan gugup aku memandang matanya yang saat itu sedang menatap mataku dalam-dalam. Wajah Tante Hani terlihat aneh. Tidak seperti biasanya. Seperti ada raut kegusaran yang diselingi oleh suatu ekpresi wajah yang aku tak pernah melihat sebelumnya.

“Tante perhatikan mata kamu menjelajahi dada dan ketiak Tante,” kata Tanteku dengan suara yang perlahan namun seakan menusuk jantungku,”memang ada apa dengan dada dan ketiak Tante?”

Dadaku berdebar tidak karuan. Mataku yang jelalatan sudah tertangkap basah. Aku bingung harus bilang apa kepada Tanteku itu. Aku menelan ludah dan berkata,

“eeee…… Tan…. Tan…. Tante cantiiiik….”

Tante Hani terdiam sebentar lalu berkata agak lirih,

“Tante cantik? Tante yang sudah tua dan gendut ini? Mbak Vidya kamu itu yang cantik. Muda. Badannya masih seksi, kan?”

Membahas ini bagaikan sesuatu yang normal menambahkan keberanianku untuk berbicara. Mungkin aku bisa merubah semua ini menjadi keuntungan bagi diriku sendiri.

“Mbak Vidya memang cantik. Tapi Tante ju… juga cantik. Tante memiliki kematangan. Apalagi da… dada Tante itu jauh lebih eee….. berisi daripada Mbak Vidya…” kataku sedikit terbata.

“tapi kenapa kamu juga memperhatikan ketiak Tante?”

“Ga tahu tante. Ari su… suka aja melihat ketiak Tante yang bersih tanpa bu.. bulu.”

“Masa sih? Mana ada lelaki yang suka sama ketiak? Oom kamu aja ga pernah melihat ketiak Tante seperti ini. Kamu sebenarnya jijik ya ngelihat tante buka ketiak seperti ini? Biar tante tutup tangan Tante.”

Tante Hani beringsut mengangkat kepalanya yang tadi menindih tangannya. Aku melihat kesempatan untuk menyentuh wanita setengah baya yang bohai ini, maka aku buru-buru memegang lengan bawahnya tepat di bawah siku sambil belagak panik sambil berkata,

“Jangan Tante! Biarin aja.”

Tante Hani tampak kaget dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia terdiam saja melihatku yang tadi duduk di sofa kecil di samping sofa besarnya itu kini sudah bergerak cepat menahan tangannya sehingga posisiku kini berlutut dihadapannya sambil memegang lengan kirinya itu.

Mataku terpaku kepada ketiaknya yang putih bersih itu. Pengalamanku dengan dua perempuan sebelumnya yang memiliki rambut ketiak menjadikan aku penasaran juga dengan perempuan yang mencukur bulu ketiaknya sehingga bersih. Apalagi aroma tubuh Tante Hani menambahkan daya erotisnya.

“Kalo… kalo boleh Ari mau lihat ketiak Tante lebih lama…” kataku perlahan.

Tante Hani tampak seperti berpikir ketika aku melirik wajahnya sebentar sebelum aku menatap lagi ketiaknya. Kusadari nafasnya kini mulai agak berat. Lalu Tante Hani berkata,

“Apa betul, Ri? Ga bohong? Memang sih kamu melihati terus ketek Tante kayaknya kamu suka. Tapi kamu masih melihat dari jauh. Tante masih ga percaya kamu suka sama ketiak Tante yang bau ini. Pasti kamu muak mencium bau ketiak Tante. Apalagi sore tadi Tante lupa mandi. Habis, mikirin kalian berdua sih.”

Ini kesempatan kedua, pikirku. Aku sekilas ingat bahwa Tanteku sedang ada permasalahan dengan Oomku. Ada kemungkinan sudah lama dia tidak disentuh laki-laki. Dalam sepersekian detik aku telah memutuskan tindakanku selanjutnya.

Dengan gerakan kilat, aku membenamkan hidungku di ketiak kirinya itu. Aroma Tanteku mirip dengan aroma tubuh Ibuku. Tetapi masih ada perbedaannya. Aroma tubuh tanteku tidak setajam Ibu melainkan sedikit halus dihidungku. Lebih mirip dengan aroma Mbak Vidya.

Tante Hani mengeluarkan pekik kecil dan mendorong kepalaku dengan tangan kanannya. Katanya tegas,

“Ari! Apa yang kamu lakukan?”
“Tante kan tidak percaya sama Ari,” kataku sambil menggunakan tangan kiriku menolak tangan kanan Tante Hani,” makanya mau Ari buktikan. Bau tubuh Tante Hani sangat wangi bagi Ari. Wangi banget, Tan.”

Lalu kembali aku membenamkan hidungku di ketiaknya. Kurasakan perlawanan di tangan kanan Tante Hani, namun aku terus menahan tangan itu dengan tangan kiriku. Beberapa saat aku menghirup aroma ketiak kiri Tante Hani sebelum akhirnya aku menjilati ketiak yang bersih itu.”

“Ahhhhhhh” desah Tanteku. Kini tangan kanannya berhasil mengalahkan tangan kananku. Berhubung aku masih anak bau kencur dan ia sudah dewasa. Tangan kanan itu tiba-tiba saja menjambak rambutku. Aku bersiap menahan sakit saat ia menjambak rambutku menjauh dari ketiaknya, tetapi ia hanya meremas saja tanpa menarik kepalaku. Sepertinya ini lampu hijau.

Sambil menjilati ketiaknya, aku menatap wajah Tante Hani. Ia sedang menatapku. Wajahnya penuh kekagetan dengan mulut menganga. Kami bertatapan lama juga. Ia memperhatikanku menjilati ketiaknya yang asin dan hangat. Tidak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya. Aku mulai mengenyot keteknya, dari ujung bawah sampai ujung atas. Terkadang bahkan bagian bawah lengannya ikut tersapu juga oleh mulutku.

Mungkin ada sekitar lima menit aku menyelomoti ketiaknya. Aku tak yakin. Aku tidak memperhatikan jam dinding. Kemudian aku mulai meneruskan menjilat dan mengenyoti ke atas yaitu bagian bahu kirinya. Ketika pipiku menyentuh dagunya, aku segera mematuk mulutnya yang terbuka dengan mulutku.

Ketika bibirku menyentuh bibirnya, secara otomatis Tante Hani mengatupkan bibirnya, saat itu bibir bawahku tepat diantara kedua bibirnya, sehingga saat bibirnya menutup, bibir atas Tante Hani langsung aku kenyot dengan kedua bibirku.

Tante Hani memalingkan wajahnya ke arah punggung sofa sehingga bibir kami berpisah. Ia berkata lirih,

“Ari…. Kamu mau ngapain sih? Jangan…..”

Tangan kiriku yang memegang tangan kanannya dan juga tangan kananku yang menahan lengan kirinya tidak mendapatkan perlawan sama sekali. Aku menatap wajahnya. Wajah Tante Hani kini berpaling kembali ke arah wajahku dan menatapku dengan mata membelalak.

Aku sempat bingung. Tante Hani bilang tidak mau, tapi badannya tidak melawanku. Ia tidak mendorong tubuhku. Kalau dia mau, dia mampu melawanku seperti yang tadi ia perlihatkan. Tapi kini tidak ada perlawanan darinya.

Aku mencium bibirnya lagi. Kembali Tante Hani memalingkan wajahnya dan berkata,

“Ari! Aku ini tantemu!”

Kucium lagi. Dan kembali ia menolak sambil berkata,

“Ari! Jangan kurang ajar ya! ini Tantemu!”

Aku terus mencoba mencium bibir Tante Hani tapi berulang kali ia memalingkan wajah dan memohon agar aku menghentikan aksiku ini. Setelah sekitar dua menit, ketika ia memalingkan wajah ke sekian kalinya, aku meneruskan ciumanku ke pipinya.

“Ari….. jangan dong…. Ini kan incest….. hentikan Ari!”

Lucunya Tante Hani berkata tanpa berteriak dan tanpa melawan. Aku pikir Tanteku ini orangnya sangat menjaga image. Ia tidak mau terlihat seperti wanita murahan, namun sebenarnya ia menyukainya. Namun melakukannya di sofa membuatku tidak leluasa. Maka aku berkata,

“Tante…. Tidur yuk, Ari sudah ngantuk nih…..” lalu aku berdiri. Tante Hani terdiam beberapa saat sambil beberapa kali menghela nafas. Lalu ia beranjak dari sofa lalu berjalan ke kamarnya. Aku mengikutinya.

Ketika Tante Hani masuk, ia menutup pintu sebelum aku masuk, namun ia menutupnya dengan lambat sekali sehingga aku berhasil menyelusup masuk.

Tante Hani menunjukkan wajah kaget, katanya,

“Ari! Kamu ngapain di kamar Tante? Tante mau tidur.”

Aku menutup pintu sambil berkata,

“Tidur aja Tante. Ari juga ngantuk mau tidur.”

“Ya udah kamu tidur di kamar kamu. Kamu ga boleh di sini.”

Ketika aku membalikkan badan kulihat Tante Hani sudah berjalan ke tempat tidur lalu merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang besar setelah mendorong bed cover dengan kakinya sehingga kini ia tidur tanpa berselimut.

Aku cepat-cepat membuka bajuku hingga telanjang. Tante Hani kulihat memalingkan wajah ke arah berlawanan. Tak lama aku duduk di samping tempat tidur tepat di sebelah Tante Hani. Tante Hani menoleh kepadaku,

“Ari! Keluar! Tante mau tidur.” Suara tanteku itu bernada teguran, namun tidak berteriak. Aku perlahan menindihnya. Tante berkata lagi,” Ari! Jangan kurang ajar sama Tante!”

Kedua tangannya menolak pelan bahuku, kupegang tangannya lalu aku menahan tangannya di samping kedua kepalanya. Barulah kemudian dadaku menindih dadanya yang besar dan kenyal.

“Tante mau diapain Ari? Hentikan, Ari! Jangan kurang ajar!” kini suaranya lebih pelan, walau ada penekanan di kata-katanya bagaikan orang yang benar-benar marah. Baru kali ini aku dengar ada orang yang marah dengan suara pelan.

Aku cium bibirnya. Tante Hani tidak memalingkan wajahnya melainkan menutup mulutnya rapat-rapat sambil menggeleng-geleng kecil sambil menggumam seakan menolak. Kedua tanganku melepaskan pegangan pada tangannya lalu menahan kepalanya agar aku leluasa mencium bibirnya. Kedua tangannya gantian memegang pergelangan tanganku, mendorong tanganku pelan sambil sesekali menampar tanganku, ingin menunjukkan perlawanan. Tapi sebenarnya perlawanan pura-pura saja.

Kini kepalanya tak dapat bergerak. Barulah Tante Hani mulai berbicara lagi, namun kini membuat mulutnya terbuka sehingga lidahku dapat masuk ke mulutnya.

“Ari..mmmphhhh…. hentikan….mmmphhhh…… Ari…..mmpmmp sudahhhh…..mmmmphhhh”

Tiap kali ia berbicara, lidah kami bergesekkan dan tiap kali dia menggumam mmmppphhh sebenarnya Tante Hani mengenyot balik. Apalagi kini tangannya ikut aktif mendorong tanganku dan menampar tanganku. Walaupun hanya perlahan, tetapi anehnya membuat libidoku bangkit secara cepat sekali.

Aku yang selama kami bergulat merasakan kekenyalan tubuhnya, segera duduk di samping tubuhnya, lalu menarik dasternya ke atas badannya. Posisi Tante Hani tiduran telentang, sehingga susah membukanya. Namun, Tante Hani bergeliat-geliat di saat yang tepat sehingga sebenarnya membantuku dalam usaha membuka dasternya itu. Ketika dasternya berada di bawah pantatnya ia bergeliat dengan mengangkat pantat itu sambil terus mengoceh.

“Kamu mau apa Ari? Mau perkosa Tante? Jangan Ri! Tolong Ri! Hentikan!”

Selang semenitan lebih daster itu sudah kubuang ke lantai. Kedua teteknya bagaikan buah kelapa besarnya. Kalau ibu bagai kelapa yang diparut, kalo Tanteku ini bagaikan kelapa yang belum diparut. Namun bentuknya bulat dan kokoh. Hanya saja karena usia dan pernah melahirkan, payudaranya sedikit turun dan puting yang sedikit tertunduk ke bawah. Namun melihat ukurannya yang besar, sungguh bisa disebut tobrut!

Tante Hani tidak menutup kedua dadanya yang besar sama sekali melainkan ia malah menutup celana dalamnya sambil berkata,

“Jangan dibuka celana dalam ini, Ri! Tante ga mau!”

Melihat perilaku seperti ini, malah aku mengerti maksud Tanteku agar melorotkan CDnya. Maka aku segera menarik CDnya yang putih itu. Tante menggeliat lagi saat CD itu melewati pantatnya. Dan tak lama CD itu menemani daster Tante Hani di lantai. Aku tidak mau daster itu kesepian. Hehehehe.

Tante Hani mengangkang, namun dengan kedua tangan menutupi selangkangannya. Aku duduk di bawah selangkangan itu. Lalu aku tarik kedua tangan Tante Hani yang hanya memberikan perlawanan setengah hati sehingga membebaskan mataku melihat Vagina Tante Hani yang juga tidak memiliki rambut sama sekali! Licin bagaikan pualam. Sementara, kulihat memek Tante sudah basah oleh cairan kewanitaanya sendiri. Bau tubuh Tante Hani kini menguasai udara kamar.

Tak lama aku mulai menjilati memeknya yang indah itu. Memek itu berbeda dengan memek ibuku. Memek Tante Hani memiliki bibir luar yang lebih tipis dan bibir dalam yang tebal sehingga terlihat. Cairan kewanitaannya pun tampak lebih banyak dari ibu maupun Mbak Vidya. Baru sebentar saja, mulutku sudah kebanjiran cairan. Tubuh bohai Tante Hani menggelinjang terus bahkan ia mendorong selangkangannya agar menekan mulutku sementara kini kedua tangannya sudah menjambak rambutku sambil menarik kepalaku agar lebih menekan selangkangannya. Anehnya, sepanjang kami bergumul ia tetap mengutarakan penolakannya padaku,

“Jangan jilati memek Tante, Ri! Tante bukan Mbak Vidyamu! Tante bukan budak seks kamu! Tante bukan Mama kamu, perempuan jalang yang tidur sama anaknya sendiri!”

Untuk sejenak aku kaget. Ternyata Tante Hani ini pintar. Ia tahu segalanya. Ibuku tak mungkin menceritakan aib kami, pasti Tante Hani curiga dari telpon nikmat yang dulu ibuku dan aku lakukan ketika kami bersetubuh saat ibu telponan dengan Tante Hani! Dan mengenai aku dan Mbak Vidya, dia pasti pernah melihat kami ngentot di rumah ini.

Ketika Tante Hani orgasme, cairan kewanitaanya bagai menyemprot keluar. Pengalaman baru bagiku. Ibu dan Mbak Vidya tidak sampai sebegininya. Orgasme Tante Hani terjadi beberapa saat, sekitar satu menit sampai akhirnya ia dengan lemas memejamkan matanya. Tubuhnya tak bergerak selama beberapa saat.

Aku dengan sigap segera memposisikan kontolku di lubang vagina Tante Hani, dan dengan sentakan keras aku mendorong masuk kontolku hingga dalam satu tusukkan seluruh penisku terbenam dalam rongga memek Tanteku itu. Walaupun lorong kencing Tante Hani tidak sesempit Mbak Vidya, namun ternyata masih sedikit lebih kencang dari memek Ibuku. Sungguh nikmat rasanya kemaluanku dijepit dinding kemaluan Tanteku itu.

Tante Hani membuka mata dan menatapku sambil berkata lirih,

“Ari! Kenapa kamu masukkin? Kamu sudah memperkosa Tante! Hentikan, Ri!”

Aku menindihnya lagi, Tante Hani memeluk kedua pantatku. Aku menekuk sedikit kepalaku dan dengan bantuan tanganku aku memegang payudara besar Tante Hani lalu menyedotinya dengan rakus sementara tangan yang satu asyik meremasi yang sebelah. Sungguh berbeda rasanya menetek pada perempuan berpayudara jumbo. Empuk, kenyal dan luas sekali. Apalagi saat meremasnya, payudaranya seakan tak ada habis-habisnya!

Kedua kaki Tante Hani menjepit pantatku dan kedua tangannya seirama dengan tusukan-tusukanku terhadap organ intim kewanitaannya. Tubuh Tante Hani yang semok dan bohai sungguh enak di tindih. Empuk sekali. Aku bagaikan orang gila menyedot menghisap kedua buah payudara jumbo milik Tante Hani sehingga tak lama hampir keseluruhan dada Tante Hani sudah basah oleh ludahku dan terhias cupangan penuh nafsu di sana-sini. Sementara mulut Tante Hani terus meracau,

“Bajingan kamu Ri! Kamu sudah menggagahi Tantemu sendiri! Dasar bocah cabul! Bocah mesum! Kamu suka mengentoti keluarga sendiri! Tante tahu waktu kamu pertama sampai di sini, pasti kamu juga menggagahi ibu kamu waktu di jalan, kan? Bau memek ibu kamu Tante sudah hafal. Waktu itu bau memek ibu kamu keras sekali tercium, apalagi ada bau peju laki-laki. Pasti kamu ngecrot di dalam rahim ibu kamu, kan?

“Tante duga pasti bayi yang ada di perut ibu kamu adalah anak kamu. Dasar kamu bocah ngeres otaknya! Kamu menghamili ibu kamu sendiri! Kemarin saja Mbak Vidya kamu paksa ngentot di tangga. Tante lihat kamu menikmati menyemprot pejumu di dalam tubuh Mbakmu. Pasti kamu mau menghamili dia juga, kan? Dasar bocah gendeng! Bocah edan!

“Sekarang kamu ngentotin Tantemu ini tanpa perlindungan apapun. Tanpa kondom. Tante juga ga pake kontrasepsi. ****** kamu yang telanjang itu masuk dan menerobos memek Tante yang tidak terlindungi. Kalau kamu ejakulasi di dalam memek Tante, pejumu akan menyirami rahim Tante yang subur. Kamu pasti akan bikin Tante hamil. Tante mohon, jangan hamili Tante, Ri. Tante ga mau kamu hamili. Please Ri.”

Aku mendengar ocehan Tanteku semakin bersemangat. Entotanku semakin cepat dan kuat. Tante Hani pun tampaknya juga semakin hot. Goyangannya makin hebat saja. Bahkan ia mengatur bantalnya agak tinggi sehingga tubuh atasnya agak menekuk. Lalu tanpa malu ia menarik kepalaku lalu merunduk lalu mencium bibirku dengan buas.

Kami berciuman secara liar. Dapat kurasakan air liur Tante Hani kadang memerciki dagu dan hidungku. Hebatnya ia menciumiku sambil terus mengoceh di sela-sela ciuman,

“hmmmppp….. kamu…..hmmmmphh…. bajingan…………….hmmmpppphh… kamu suka……hmmmmphhh…..hmmmphhhh…. ngentotin hmmmphhhh…. hmmmppphh Tante?.... hmmmphhh……hmpphhh…….hmpmmmphhh….. puas? Hmmmphhhhh……”

Lama kelamaan orgasme kami mendekat, dan kini ocehan Tante sudah tidak terdengar lagi. Karena kini kami asyik melumat bibir kami masing-masing. Malah terkadang kami asyik menjilati wajah satu sama lain. Semakin dekat orgasme kami, kami sudah tidak lagi berciuman, tapi saling menjilati. Kami bagai dua ekor anjing yang sedang birahi saja.

Berhubung aku lelaki. Saat-saat terakhir aku menekap kepala Tante Hani dan menjilati seluruh wajahnya. Jidat, mata, pelipis, pipi, dagu, hidung, kuping Tante Hani tidak ada satu sentipun yang tidak kujilat. Bahkan lubang kuping dan lubang hidungnya juga aku jilati sejauh yang lidahku dapat capai.

Ketika orgasme kami sudah di depan pintu, kami memalingkan muka kami ke kiri dan kanan sehingga lidah kami kini menempel bagian atas dengan bagian atas, dan sekuat tenaga kami saling menekan lidah kami untuk mengecap lidah satu sama lain dengan sangat kuat sementara bibir kami saling menghisap. Di saat itulah aku membenamkan kontolku sedalam-dalamnya dan memuntahkan pejuku sejauh mungkin ke dalam perut Tanteku. Dan sedetik kemudian kurasakan cairan memek Tanteku menyembur pula diiringi dinding kemaluan Tanteku membuka menutup, memijat sekujur batang penisku yang sedang ejakulasi.

Aku ambruk di atas tubuh Tante setelah mengalami orgasme hebat. Tanteku memelukku dan membelai kepalaku dengan tangan kirinya. Kedua tubuh kami penuh berkeringat, sementara dari memeknya, pejuku memenuhi memeknya sehingga ada sebagian kecil yang luber keluar. Lidah Tante Hani masih menjilat-jilat pelan lidahku.

Setelah beberapa saat, aku mulai tersadar lagi. Kontolku sudah lepas dari memeknya dan aku beringsut ke samping kiri badannya. Kami berhadapan menyamping, sementara lidah kami saling menjilat perlahan. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kami saling berpelukan erat mencampurkan keringat dan ludah.

Ku angkat tangan kanannya dan kujilati lagi. Bau ketek ini sudah sangat santer tercium karena Tante Hani keringatan bagaikan mandi saja. Tak lama kontolku keras lagi. Tante Hani kini mendorong badanku lalu menduduki selangkanganku. Ia mengangkat pantatnya sambil tangan kanannya memegang kontolku, ia mengarahkan kontolku di lubang memeknya yang basah itu, lalu mendudukiku lagi. Kontolku amblas lagi di dalam kemaluannya.

Gantian Tante Hani menindihku. Namun ia menggunakan kedua tangannya untuk menjadi tumpuan sehingga tidak seluruh berat tubuhnya menindihku. Kemudian ia mulai bergoyang perlahan. Ronde kedua kami tidak seliar ronde pertama. Kami berciuman perlahan, sama perlahan dengan gerakan pantat Tante Hani. Ini baru bercinta. Bukan ngentot.

Sepanjang persetubuhan kami, kami berciuman. Tante Hani mulai bicara lagi kini dengan suara yang berbisik.

“Kontolmu enak banget, Ri. Lebih gede dari punya Om-mu.”

“Memek Tante legit dan sempit. Lebih sempit dari Memek Ibu,”jawabku.

Kurasakan tubuhnya yang basah dan semok menempel di tubuhku. Keringat Tante Hani yang mengucur membuat tubuhnya makin licin saja. Kedua tanganku mengusap punggungnya yang agak lebar dan halus itu. Kami terus berciuman sambil berbicara.

“Tante ketagihan ****** kamu, keponakanku.”

“Ari ketagihan Tante. Ga hanya memek Tante yang sempit. Semua dari Tante Ari suka. Keringat Tante, ludah Tante, Tetek Tante, Ketek Tante, wajah Tante yang cantik, tubuh Tante yang bohai. Semuanya. Semuanya.”

“Tante jatuh cinta sama kamu. Sama kayak Mbak Vidyamu.”

“Ari juga. Tante jadi isteri Ari saja….”

“Sekarang kan Tante lagi jadi isteri Ari. Hanya suami yang boleh masukkin kontolnya ke dalam memek seorang perempuan. Saat ini Tante adalah isteri kamu, sayangku…”

Sebenarnya maksudku adalah menikah secara sah. Namun tampaknya Tanteku ini salah duga. Biarlah, toh aku anak kecil yang tidak terlalu ditanggapi secara serius oleh orang dewasa. Tapi, aku sudah punya rencana ke depannya. Biarlah nanti waktu yang memutuskan. Untuk saat itu, aku hanya menjawab dengan bercinta dengan Tanteku sampai pagi. Hari itu aku empat kali ejakulasi ke dalam rahim Tanteku.

Paginya aku tidur di kamar tamu. Masih banyak keraguan dariku sebelum aku tidur pulas pagi itu. Bagaimana dengan ibu dan Mbak Vidya? Apa yang akan terjadi? Biarlah waktu yang berbicara…

TAMAT

Petualangan Ari : Dengan Tante Hani